Di suatu masa kepemimpinan Daulah Islam oleh Umar bin Khattab, pernah terjadi tahun kekeringan atau paceklik yang menimpa hampir seluruh Jazirah Arab. Banyak diantara penduduk yang berbondong menuju Madinah guna meminta bantuan dari sang Khalifah. Madinah pun tak terkecuali mengalami kondisi yang sama. Paceklik ini dibarengi dengan badai di pasar yang semakin memperparah kondisi kaum muslim. Tanah kehilangan daya serapnya karena pasir mengering ditiup badai angin, tetumbuhan mengering dan ternak-ternak perlahan mati.

Banyak sekali nyawa yang meregang, uang saat itu sama sekali tak berarti karena tak ada yang dapat dibeli. Kesulitan ini merata di seluruh penjuru Arab. Sang Khalifah terus menyortir makanan kepada pengungsi yang datang dari luar Madinah itu, baitul maal pun semakin menipis persediannya. Sahabat-sahabat berlomba menyedekahkan seluruh sisa harta yang masih dimilkinya, seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.

Sepanjang tahun itu pula Umar bin Khattab bersumpah bahwa beliau tidak akan memakan apapun selain roti dan zaitun sampai kesusahan yang dialami rakyatnya berakhir.

‚ÄĚWahai Amirul Mukminin, wajahmu menghitam karena hanya memakan roti dan minyak, makanlah daging dan lemak agar kondisimu membaik,‚ÄĚ keluh Atikah, istri dari sang Khalifah.

‚ÄúBagaimana mungkin aku dapat merasakan penderitaan yang dialami rakyatku kecuali aku memakan apa yang mereka makan?,‚ÄĚ Beliau bahkan menghabiskan siang dan malamnya untuk memberi perhatian bagi pengungsi tersebut.

Dalam sebuah kisah, Khansa bertutur¬† ‚ÄúAku belum pernah melihat orang yang lebih lembut darinya. Dan dia adalah Umar,‚ÄĚ

Dialah Umar bin Khattab, Abu Hafsh, sahabat Rasulullah dan Khalifah kedua yang menghiasi dirinya dengan ketakutan pada Allah, kasih sayang yang selalu ia curahkan kepada rakyatnya dan kebencian atas hukum-hukum Allah yang tidak ditegakkan.

Islamlah yang membentuk Umar menjadi pribadi mulia, yang tersemat dalam namanya Al-Faruq, sang pembeda antara haq dan bathil, juga penakluk negeri-negeri, yang dicintai rakyatnya.


oleh: Nadia