Pembukaan Kajian Muqorror ESI, Rabu, 2/10/19

Egyptstudentinformation.com, Kairo – Memasuki tahun ajaran baru 2019/2020, Universitas Al-Azhar kembali kedatangan 1500 lebih mahasiswa baru asal Indonesia. Ini belum terhitung mahasiwa asal Mesir dan mahasiswa wafidin lainnya.
Ada beberapa kesulitan yang dialami sebagian besar mahasiswa baru, khususnya mahasiswa Indonesia selama mengikuti awal perkuliahan di Universitas Al-Azhar. Pertama, tidak memahami secara utuh penjelasan duktur/ah (dosen) karena bahasa pengantar yang digunakan seringkali menggunakan bahasa amiyyah, bukan bahasa fushah seperti yang sudah dikenal dan dipelajari mahasiswa di sekolah dulu. Kedua, muqorror (buku paket) yang digunakan sulit dimengerti ketika tidak dijabarkan oleh duktur/ah secara jelas dan rinci, mengingat bahasa amiyyah yang belum banyak dipahami mahasiswa saat mendengarkan penjelasan duktur/ah akan menghilangkan kesempurnaan pemahaman terhadap materi yang sedang dibahas.

Kesulitan ini kemudian menjadi keresahan yang dialami mahasiswa baru Indonesia sejak dahulu, sehingga muncul kepedulian para mahasiswa tingkat atas untuk membantu mahasiswa baru dalam menjalani perkuliahan di Al-Azhar, salah satunya dengan mengadakan kajian muqorror yang diselenggarakan berbagai organisasi masisir, seperti yang diinisiasi oleh Egypt Student Information (ESI) dengan program Kajian Muqorror To Be Mumtaz.

Program ini resmi dibuka kemarin Rabu, 2 Oktober 2019 di IKADAQU Center, Kairo. ESI memfasilitasi pembahasan muqorror terberat dari tiga fakultas; Ushuluddin, Syariah Islamiyyah, dan Syariah wal Qanun. Dari delapan pengajar yang dihadirkan, 6 diantaranya adalah mahasiswa tingkat II dan III dari anggota ESI sendiri,
”Kenapa gurunya memakai guru dari tingkat dua dan tiga? karna di ESI ini ada bagian pengajaran untuk melatih seseorang mengajar muqorror,” jelas Alfiraz Jamalullail, ketua pelaksana Kajian Muqorror.

Alfiraz Jamalullail, Ketua Pelaksana Kajian Muqorror ESI

Menurut CEO ESI, Akhmad Yani, program-program seperti ini bagus diperbanyak, bahkan kalau bisa lebih banyak dibanding kegiatan-kegiatan hiburan dan olahraga, sehingga perlu diberikan dukungan sebanyak-banyaknya, karena orang-orang yang kita bantu belajar adalah orang-orang pilihan yang kemungkinan besar beberapa orang dari mereka akan menjadi orang hebat, kemudian berdakwah ke daerahnya masing-masing.

“Program seperti ini harus terus dibantu, bahkan terus dikembangkan. Saya sedikit senang ketika mengetahui teman-teman Tazkeeya mengadakan program Study Club, kalau bisa guru yang mengajarnya menggunakan bahasa arab supaya bahasa arab mahasiswa Al-Azhar terlatih, lebih bagus lagi jika hal itu diterapkan di acara-acara seminar-seminar.
“Tapi jika dirasa sulit, mungkin bisa dicampur dengan bahasa Indonesia. Sebenarnya saya juga berharap presiden PPMI mewajibkan mahasiswa-mahasiswanya berbicara bahasa arab. Mungkin bisa sepekan sekali.” tutur Akhmad Yani sekaligus membuka kegiatan Kajian Muqorror ESI.

Harapan dari peserta dengan dimulainya kajian muqorror ini mampu membantu mempertahankan semangat pembelajaran di kuliah, serta membantu mereka dalam memahami muqorror yang menjadi rujukan perkuliahan sehingga saat ujian nanti bisa meraih nilai yang memuaskan, hingga mencapai mumtaz.

Reporter: Nadiah Shohwah
Editor: Ambang Fajar Bagaskara