Oleh: Naufal Muammar

Zaman terus berlalu, pun kaum Muslimin mengalami perputaran sebagaimana yang bumi lakukan. Kemajuan dan kemunduran tak dapat dielakkan dari ruang lingkup kehidupan ini. Terkhusus kemajuan kaum Muslimin dari zaman Umayyah dengan Umar bin Abdul Aziz-nya ataupun Abbasiyah dengan Harun ar-Rasyid-nya, pastilah kita sukar untuk menggapai kembali zaman keemasan itu.

Tidak ada perselisihan dalam hal ini. Kelaupun masih ada, hanyalah seperti sisa lemak makanan di telapak tangan.

Seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan kejayaan bagi kaum beriman hanya karena label ‘Mukmin’ belaka tanpa tindakan apapun dari mereka, pantaslah kita mempertanyakan di manakah letak kekuatan orang-orang Mukmin dalam firman Allah:

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya, dan bagi orang-orang Mukmin. (Al-Munafiqun: 8)

Seandainya firman Allah: “Dan merupakan hak Kami untuk menolong orang-orang yang beriman” (Ar-Rum: 7), berarti bahwa Allah menolong mereka tanpa suatu kelebihan apapun selain mereka mengumumkan diri sebagai kaum Muslimin, tentulah kita pantas heran dengan ketertinggalan itu.

Akan tetapi, nas-nas yang terdapat dalam Alquran bukanlah itu saja. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah ingkar janji. Alquran pun tidak pernah berubah. Yang berubah hanyalah umat Islam sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan hal ini:

إن الله لا يغيّر ما بقوم حتى يغيّروا ما بأنفسهم

Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebeum mereka mengubah keadaan mereka sendiri. (Ar-Ra’d: 11)

Nah, kalau umat Islam telah berubah, justru mengherankan jika Allah tidak mengubah keadaan mereka menjadi hina dan lemah, setelah sebelumnya mulia dan jaya. Tidak mengubah keadaan mereka berarti bertentangan dengan keadilan Tuhan. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Adil.

Bagaimana mungkin Anda melihat ada suatu umat yang ditolong Allah tanpa berbuat apa-apa, serta dilimpahi-Nya aneka kebaikan seperti yang dilimpahkan kepada para pendahulu mereka, padahal mereka hanya berpangku tangan saja tanpa memiliki tekad yang diusung para pendahulu mereka? Tentulah itu berhalangan dengan kebijaksanaan Ilahi, padahal Allah Maha Mulia lagi Maha Bijaksana.

Bagaimana menurut Anda tentang suatu kemuliaan tanpa kerja keras meraihnya? Tentang memanen tanpa membajak ataupun menanam? Tentang kesuksesan tanpa usaha ataupun upaya? Dan, tentang sokongan tanpa sedikit pun alasan yang meniscayakan sokongan itu?

Tak pelak, itulah salah satu ilusi yang menipu orang untuk bermalas-malasan dan menghalangi mereka dari berbuat sesuatu.

Bahkan, itu adalah salah satu hal yang bertentangan dengan hukum alam yang ditetapkan Allah. Dengan ilusi itu, tidak ada bedanya antara al-haqq dan al-bathil; antara yang merugikan dan yang bermanfaat; antara yang mengadakan dan yang meniadakan. Mustahil Allah melakukan itu.

Seandainya Allah menyokong seseorang tanpa perbuatan apa-apa dari orang itu, tentulah Dia sudah menyokong Muhammad utusan-Nya, tanpa beliau harus bersusah payah; tanpa beliau harus berjuang dan bertaruh nyawa; tanpa beliau harus mengikuti hukum alam guna mencapai tujuan.