Notulensi Singkat Kajian Sejarah Bersama Al-Ustadz Miftah Wibowo (Pakar Sejarawan)

_____

Sejarah bukanlah ilmu yang baru. Sama halnya seperti ilmu-ilmu yang lainnya, contohnya, ilmu mantiq yang mengkaji mengenai logika, sejarah pun demikian. Telah ada sejak zaman Yunani yang dicetuskan oleh Herodotus.

Dulu, pengklaiman sejarah begitu terkenal dengan istilah mitologi atau pembahasannya selalu dengan perkara legenda. Kemudian, datanglah Herodotus dengan mencetuskan teori bahwasannya sejarah bukanlah sebatas yang membahas persoalan mitologi. Namun di dalamnya mangkaji sebuah pengetahuan secara turun-temurun. Maka dari sinilah sanad itu ada. Beliau dijuluki sebagai Bapak Sejarah.

Dalam paham peradaban zaman dahulu, sejarah memiliki dua metode, yaitu peradaban tulis dan peradaban lisan. Keduanya memiliki perbedaan, walaupun dalam beberapa sudut pandang memiliki persamaan esensi. Dari setiap berbagai wilayah memiliki perspektif yang berbeda-beda.

Bagi peradaban Bulan Sabit, suatu daerah di dataran sungai Eufrat, mereka lebih condong ke peradaban tulis, di sini menganut teori kepenulisan dan lisan – memiliki kolaborasi antara keduanya.

Namun bagi peradaban Nomaden, mereka lebih condong ke peradaban lisan, di sini begitu sangat dianjurkan, dari teori ini, mereka, para sejarawan pada peradaban abad lampau selalu turun-temurun dalam memahamkan sejarah melalui lisan. Bisa dikatakan dengan upaya menghafal.

Karena sebagaimana yang telah diketahui, dengan memiliki hafalan, seorang individu akan terlihat lebih intelektual dan prestis. Pun semakin banyak hafalannya, maka semakin tinggi martabatnya. Maka teori peradaban ini menjadi pusat pandangan mereka dalam mewariskan nilai-nilai sejarah. Sampai muncul yang namanya syi’ir.

Ketika datangnya Herodotus, maka ia mencetuskan dengan teori paham sejarah yang lebih saintis, kontekstualis, dan berintegritas. Salah satu pemaparannya, dari penelitian Halicarnassus, bahwa sehingga apa yang terjadi pada manusia tidak luntur dengan waktu maupun segala perbuatan besar dan menakjubkan, baik dari orang Yunani maupun bangsa barbar, tidak dilupakan kemuliaannya; dan semua ini juga termasuk apa yang menyebabkan mereka saling berperang.

Lalu teori tersebut divalidkan oleh Teosidis dengan konsep Daurotu At-Tarikh (berulang-ulang kembali). Dalam hal ini, istilah kata Herodotus itu sebagai peletak batu pondasi pertama, lalu Teosidis yang membangun rumahnya.

Dengan berlanjutnya zaman, kemudian datanglah Ibnu Khaldun, sebagai pakar puncaknya ahli sejarah secara dzahir dan batinnya. Beliau merupakan tokoh penting dalam peradaban islam dari abad ke-14. Beliau dari Tunis, memiliki banyak karya, salah satu karya pertamanya adalah Muqoddimah Ibnu Khaldun.

Para ilmuwan sosial Eropa begitu terkesan dengan pemikiran Ibnu Khaldun mengenai sosiologi yang mendahului zamannya, khususnya dalam Muqoddimahnya. Buku ini dianggap sebagai uraian yang paling sistematis mengenai seluk-beluk ilmu sosial.

Lalu datanglah Imam As-Sakhowi, sebagai perangkai ilmu sejarah secara prinsip-prinsip detailnya. Beliau termasuk muhaddits pada zamannya. Dalam definisi ilmu sejarah secara bahasa, yaitu pengetahuan mengenai waktu. Sementara secara istilahnya, yaitu ilmu yang mengkaji dan memahami lebih secara detail tentang perkataan, perbuatan, perilaku manusia pada masa lampau. Pun untuk diambil nilai-nilainya sebagai evaluasi akan peradaban yang akan datang. Objeknya, yaitu manusia dan zaman.

Mengapa tempat tidak masuk? Karena tempat sudah masuk pada zaman tersebut. Permasalahan yang dibahas, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan objek sebagaimana yang disampaikan sebelumnya. Faedah dari mempelajarinya, yaitu untuk mengetahui seputar informasi secara akurat dan bernilai. Pun secara esensi, ilmu sejarah adalah dari adanya hadits, oleh karena itu rata-rata para sejarawan juga para muhaddits.

Sebelum masuk ke materi sejarah para ulama’ Nusantara-Al-Azhar, pentingnya untuk mengetahui secara singkat geopolitiknya.

Pertama dari runtuhnya Bani Mamalik Utsmaniyah pada tahun 1517 M. Dari sini, dahulu sempat menjadi pusat peradaban Islam, dimana Mesir menjadi tempat pemberhentian para petualang. Karena di Mesir sendiri, dengan melalui sungai nil sampai laut di Alexandria, para petualang Eropa melewati daerah tersebut untuk sampai ke Asia.

Mereka berjuang untuk mencari bahan pangan serta rempah-rempah untuk diperjual-belikan serta sebagai kebutuhan hidup di negeri mereka masing-masing. Sampai pada saat dimana para petualang Eropa itu melewati garis kathulistiwa yang berada di Afrika, dari situ adanya mitos bahwasannya, jika orang Eropa melewati garis tersebut, maka kulit mereka akan berubah menjadi hitam dan dengan waktu tak berapa lama mereka akan mati.

Namun, beberapa dari mereka menolak akan mitos tersebut sampai pada akhirnya mereka pun mampu melewati, dan berpetualang ke segala penjuru dunia. Di sini, mereka benar-benar memperkuat nilai perekonomiannya, karena jika ekonominya kuat, maka politiknya pun kuat.

Dalam masa keruntuhan Dinasti Salajiqoh atau Saljuk. Dalam masa ini begitu banyak para ulama’ Al-Azhar yang dibawa ke Makkah untuk menyebar ilmu di sana, akan tetapi, dari mereka sudah banyak yang menghilang dan entah tau kemana perginya.

Ketika itu pula terdapat sebuah kisah dimana Sultan Selim Yafuz datang ke Mesir untuk membawa kembali beberapa peninggalan Baginda Nabi. Karena secara bukti, para penduduk Mesir begitu amat cinta kepada Baginda Nabi dan Ahlu Bait, sampai segala peninggalannya, mereka, penduduk Mesir, rela mengeluarkan segala hartanya demi untuk membeli peninggalan Baginda Nabi dan Ahlu Bait untuk dibawa kembali ke Mesir.

Sementara pada waktu itu, Sultan Selim Yafuz datang ke Mesir untuk membawa jejak telapak kaki Baginda Nabi kembali ke Makkah. Namun, para rombongan Sultan Selim Yafuz dalam perjalanannya dari Mesir ke Makkah, mereka mengalami begitu banyak hambatan yang sehingga menyebabkan perjalanan mereka begitu lama.

Sampai pada akhirnya, Sultan Selim Yafuz dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu Baginda Nabi. Dalam mimpinya, Baginda Nabi berpesan untuk memulangkan kembali jejak telapak kakinya ke Mesir, karena penduduk Mesir begitu amat sangat cinta kepadanya. Secara tidak langsung Sultan Selim pun terbangun, lalu membawa pulang kembali jejak telapak kaki tersebut ke Mesir. Tanpa disadari, dalam perjalanan begitu cepat tiba di Mesir, sebuah karomah dari Baginda Nabi Saw.

Dari kepergian para ulama’ Al-Azhar, maka masih ada sosok ulama’ yang setia untuk menetap di Al-Azhar, yaitu Syeikh Al-Islam Zakariya Al-Anshori rahimahullah. Beliau begitu menjaga sistem keilmuan di Al-Azhar, begitupun dari segi bahasa Arabnya. Karena pada masa itu, bangsa Turki ingin menjadikan administrasi Al-Azhar dengan menggunakan bahasa Turki.

Secara tidak langsung, jika terjadi demikian, maka Al-Azhar akan mengalami penurunan dalam segi bahasa Arab yang baik dan benar.

______________________________________

Lalu datanglah Syeikh Abdusshomad Al-Palimbani. Jika ditelusuri dari ayahnya yang memiliki gelar Sayyid, beliau termasuk Ahlu Bait. Syeikh Abdusshomad Al-Palimbani belajar di Al-Azhar, pun di Arab Saudi. Di antara para penuntut ilmu yang seperjuangan dengan beliau adalah Syeikh Yusuf Al-Makassari; beliau yang melawan para penjajah Belanda sampai pada akhirnya beliau pun diasingkan di Sri Lanka.

Ada juga Syeikh Arsyad Al-Banjari, Syeikh Nawawi Al-Bantani, lalu Syeikh Abdul Manan Dipomenggolo rahimahumullah. Mereka semua para ulama’ Nusantara yang memiliki andil lebih dalam sejarah kemerdekaan.

Sebelum itu semua, kita lazim mengenal sosok ulama ensiklopedis dari Nusantara, yaitu Kyai Zaini Dahlan, beliau berguru kepada Imam Ad-Dasuki. Sementara Imam Ad-Dasuki berguru kepada Imam Ibrahim Al-Bajuri. Lalu Imam Ibrahim Al-Bajuri berguru kepada Imam As-Sanusi. Sampai pada Imam As-Sanusi berguru kepada Imam ‘Idduddien rahimahumullah.

Dari situ, Kyai Zaini Dahlan memiliki murid bernama Syeikh Muhammad Khotib As-Sambasi dari Kalimantan (seorang ulama’ pendiri tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah). Lalu, Syeikh Khotib As-Sambasi memiliki murid, yaitu Syeikh Nawawi Al-Bantani, dengan berbagai karyanya sampai beliau pun dijuluki sebagai Nawawi pada periode itu.

Mengenal sejarah dari dua ulama’ guru dan murid ini, yaitu Syeikh Khatib As-Sambasi dan Syeikh Nawawi Al-Bantani. Bahwasannya Syeikh Khatib As-Sambasi yang menggabungkan antara elemen tarekat Qadiriyah dengan tarekat Naqsabandiyah. Dari tarekat Qadiriyah yang terkenal dengan ‘ubudiyahnya, dzikir-dzikirnya, serta segala amal-amal sunnahnya, maka beliau, Syeikh Khatib mengkombinasikan dengan tarekat Naqsabandiyah yang terkenal dengan budi pekertinya yang baik serta memiliki sifat yang jujur, maka dari sini mampu membentuk realisasi tarekat yang mu’tamad.

Selain itu Syeikh Nawawi Al-Bantani memiliki murid salah satunya, Syeikh Muhammad Mukhtar Sultan Natanagara berasal dari Bogor, dijuluki sebagai Sultan Ath-Tharid. Beliau salah satu ulama’ ensiklopedis yang begitu memiliki karya yang begitu banyak.

Syeikh Abul Faidh Muhammad Yasin Al-Fadani menyebutkan di dalam catatan kakinya untuk kitab Kifayah Al-Mustafid Limaa ‘Ala Lada At-Tarmasi min Al-Asanid, mengatakan bahwa ada sekitar 130 ulama’ pakar hadits riwayah yang berasal dari Nusantara dan dari mereka, ada 7 ulama’ yang memiliki periwayatan paling banyak dan semua berasal dari Indonesia, dan Tuan Mukhtar Bogor inilah termasuk dari ke-7 ulama’ itu. Beliau juga termasuk gurunya Syeikh Ali Syatta Ad-Dimyati yang dimana Syeikh Ali Syatta Ad-Dimyati ini mengangkat Kyai Muhammad Mahfudz At-Tarmasi menjadi keluarganya.

Ceritanya, Kyai Muhammad Mahfudz At-Tarmasi ini adalah cucu dari Syeikh Abdul Manan Dipomenggolo At-Tarmasi, sebagai salah satu mahasiswa Al-Azhar pertama kali pun memiliki hubungan dekat dengan Syeikh Ali Syatta Ad-Dimyati. Sepulang ke Indonesia, Syeikh Abdul Manan memerintah cucunya, yaitu Kyai Mahfudz At-Tarmasi untuk pergi menuntut ilmu di Makkah dan berguru kepada Syeikh Ali Syatta.

Pada akhirnya, dengan kehebatan dan kecerdasannya, Kyai Mahfudz At-Tarmasi diangkat menjadi keluarga dari Syeikh Ali Syatta. Dengan nilai intelektualnya dalam bidang hadits dan fikih, Kyai Mahfudz At-Tarmasi mengajar kitab Shohih Imam Bukhori dan beliau pun memiliki banyak karya, di antaranya, kitab Hasyiyah At-Tarmasi ‘ala Minhajil Qawim (yang dicetak Dar Minhaj 7 jilid), dan kitab diktat rujukan yang kini dipakai di Universitas Al-Azhar dalam bidang Qiraat; Al-Qur’an.

Kyai Mahfudz At-Tarmasi kelak memiliki murid, yaitu Kyai Hasyim Asy’ari, pendiri afiliasi Nahdhatul Ulama’.
Selain itu, ketika di Pulau Jawa, Kyai Mahfudz At-Tarmasi berguru dengan Syeikh Sholeh Darat. Nah, Syeikh Sholeh Darat ini adalah gurunya pakdenya Raden Ajeng Kartini.

Diceritakan pada waktu itu, pakdenya Raden Ajeng Kartini ini tidak sengaja lewat di depan tempat kediaman Syeikh Sholeh Darat, pun tempat beliau mengajar tafsir para murid-muridnya. Tanpa sengaja, pakdenya Raden Ajeng Kartini tersentuh hatinya untuk mengenal lebih dalam tentang Al-Qur’an. Karena pada saat itu belum ada terjemahan Al-Qur’an dalam bentuk bahasa Indonesia, dan yang ada ketika itu dalam bentuk tafsir. Maka, dari sinilah munculnya ide untuk menerjemahkan Al-Qur’an dalam konteks bahasa Indonesia.

Jadi, dalam sejarah ini, keterkaitan antara negeri Timur dengan bangsa Indonesia memiliki siklus yang sama. Dimana negeri Timur sedang maju dalam dunia peradaban islam, pun dalam membahas suatu kajian ilmu tertentu, maka secara tidak langsung bangsa Indonesia pun tidak jauh kalah ketinggalan. Di lain itu, koneksi para ulama’-ulama’ Nusantara yang menyebar ke segala penjuru dunia memiliki andil yang luar biasa dalam sejarah peradaban islam. Mereka semua dari bangsa Indonesia.

Sebuah nilai yang perlu kita petik dari adanya sejarah para pejuang terdahulu dari asal negeri Indonesia ini. Bangsa yang kaya akan sumber daya alamnya, kaya akan keilmuan, dan sejarahnya. Maka, sebagai pemuda, lazim bagi kita untuk lebih giat dan berjuang dalam memaknai serta mengambil ilustrasi perjuangan para ulama’ terdahulu.

Dimana kita, mampu untuk menuruskan estafet perjuangannya dengan giat dalam menggali ilmu dalam samudera perjuangan. Karena, zaman terus berkembang dan memiliki pembaharuan. Maka lazim bagi generasi selanjutnya untuk menciptakan peradaban yang jauh luar biasa, pun memiliki karya-karya sebagai rujukan dalam nilai keilmuan di dunia, khususnya di Nusantara, Indonesia.

Allahu Ta’ala A’la wa A’lam.

Alfaqir – Jubah Putih, 03 September 2019