•• Ujian, Antara Hina dan Kehormatan ••

Oleh : Rizky Adrian

“Brok.. Brok.. Brok! Ali!” Suara ketukan pintu sembari memanggil nama Ali. Berulang-ulang suara terketuk, tiga menit, hingga lima menit si pengetuk pintu menunggu. Tanpa sengaja, secara langsung ia membuka pintu.
Terkejut si pengetuk berseru, “Ali! Astaghfirullah, Ali … ujian, Li. Masihkah sempat kamu menikmati mimpimu dengan khusyuk di atas kasur?! Bangun Ali! Ujian akhir yang akan menentukan masa depanmu sebagai lulusan mahasiswa Al-Azhar.”
Ali pun terbangun, dalam kondisi muka kusut ia menyebut nama teman yang membangunkannya itu, “Hamzah … astaghfirullah, kok aku lalai yah …” dalam penyesalan Ali pun beranjak mengambil air wudhu untuk menggugah mimpinya.

Mereka pun memulai lebih giat belajar, saling tukar pikiran, berdiskusi, saling setor hafalan; menjalani ujian dengan penuh usaha dan pengorbanan untuk menempuh hasil akhir yang akan menentukan nilai masa depan dalam kehidupan. Namun, bagi mereka nilai bukanlah sebuah tujuan, akan tetapi ujian untuk belajar akan sebuah ilmu, bukan belajar untuk ujian. Ilmu perbandingan madzhab fikih, fikih kontemporer, ushul fiqh, dan materi-materi yang berhubungan dengan syariah; dikupas tuntas hingga ke akar-akarnya. Berbagai rujukan kitab ini dan itu – tak ada hentinya mereka membolak-balikan lembarannya, setiap coretan tinta yang meninggalkan jejak pada ratusan halaman yang mereka pelototin; bibir bergoyang melantunkan hafalan-hafalan yang melaut; otak pun memaksa untuk mengelotok berbagai materi dan pemahaman. Sungguh, begitu indah tak ada duanya perjuangan dan cinta dalam menyelami samudera ilmu. Karena ilmu itu luas layaknya luas lautan samudera. Sedangkan menuntut ilmu ibarat minum air laut, semakin meminumnya; bukanlah rasa lega yang menghilangkan kehausan. Justru rasa hauslah yang semakin menjadi-jadi. Oleh karena itu, berapa banyak ulama pada abad sebelum milenial yang kesetiaan dan kecintaannya pada ilmu tidak diragukan lagi, sampai lupa untuk mencari pasangan hidup.

Hari demi hari silih berganti yang dimakan oleh berjalannya waktu. Hari akhir di penghujung ujian semakin datang. Namun, apakah kesuksesan emas akan mereka raih? Berjuang dan berusaha; beribadah dan berdoa; bertawasul dan mencari berkah; begadang dan bermunajat; mengasingkan diri dan bermulazamah dengan para ulama; memperbanyak sholawat dan mengharap karomah dari para wali; berdzikir dan mencari ridha Ilahi; keistiqomahan dalam kebaikan selalu terjaga. Bukan sekedar otak dan akal yang mereka andalkan, akan tetapi cinta hati atas ridha dari Sang Pemberi Ilmu yang mereka dambakan. Hingga tiba dimana waktu berakhirnya masa-masa ujian. Rasa lega datang menyapa, kepuasan tak sepenuhnya memberi sapaannya. Buku-buku pun sudah tertata rapi dan terpajang. Semoga, nilai juangnya dalam spiritual dan intelektual tidak hanya menggeluti pada masa ujian.

Sepoi-sepoi angin pergi dan datang, senyuman para ulama di hadapan murid-muridnya yang begitu elok dipandang, terdengar lantunan para penghafal Al-Qur’an dan hadits yang mengiang, kilauan halaman masjid dengan pantulan cahaya mentari yang indah nan terang. Di masjid Al-Azhar, mereka duduk manis sembari menikmati pemandangan yang sulit ditemukan. Hasil ujian bukanlah tujuan bagi mereka, mereka hanya mampu bertawakal kepada Allah. Karena Allah Yang Menentukan bagaimana hasilnya nanti. Tak tumbuh rasa puas atau bahkan merasa berhasil, intinya hanya mampu bersyukur atas nikmat-Nya. Sembari menatap indahnya pemandangan suasana masjid, tak lama kemudian mereka dikejutkan oleh beberapa teman yang lain; Fajar dan Reza. Perbincangan mereka luapkan. Rencana untuk pergi bersenang-senang pun dijadwalkan. Satu sama lain saling menyetujui, kecuali satu orang yang mengganjal dalam keraguannya, yaitu Ali. Teman-temannya berusaha meyakinkannya untuk turut pergi. Tidak kepuasan dalam ujian yang terbenak padanya, membuatnya berpikir seribu kali untuk pergi bersenang-senang.

Hingga Fajar pun berujar, “Ali, saya paham apa yang kamu pikirkan. Marilah sekali kita bersenang-senang sejenak untuk menyegarkan otak.”
“Tidak ada yang menyegarkan otak pikiran dan hati selain bermunajat kepada Allah dan bersholawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam,” jawab Ali dengan bijak.
Sejenak suasana terdiam, dengan senyuman Ali pun berujar, “Iya iya, okelah ayo kita berpetualang.”

Mereka pun merayakan atas selesainya ujian dengan pergi ke berbagai tempat bersejarah di Mesir. Dalam perjalanan, Ali dan teman-temannya menyetiakan waktu mereka dengan buku untuk menciptakan waktu yang bermanfaat dalam setiap kesempatan. Di lain itu, mereka tak pernah lupa akan tujuan bepergian bersenang-senang ke suatu tempat bukanlah sekedar mencari kesenangan semata, akan tetapi selalu didasari dengan tujuan bersyukur atas nikmat dan ciptaan Tuhan yang begitu meluluhkan mata.

Foto demi foto; jepret sana – jepret sini; hura-hura riang gembira mereka nikmati hingga kembali pulang. Dalam penantian waktu dimana penyelenggaraan wisuda tiba. Kebiasaan Ali yang tak pernah bosan dengan mengikuti majelis ilmu di tempat-tempat yang disediakan Al-Azhar. Begitu pun teman-temannya dengan berbagai kesibukan masing-masing yang tak kalah saingnya. Selesainya Ali dari majelis ilmu, dengan tegap ia berjalan pulang ke rumah; kebiasaannya yang selalu menundukkan kepala di kala berpapasan dengan perempuan.

“Ustadz Ali!” Sapa seorang perempuan bernama Fatimah.
Dengan terkejut Ali menoleh. Mereka pun saling menyapa dan saling menanyakan kabar.
“Ustadz Ali mau kemana?” Tanya Fatimah.
“Ini baru pulang dari talaqqi, ustadzah mau kemana emang?” Ujar Ali.
“Masya’Allah … yang rajin. Saya mau ke masjid Al-Azhar, ustadz …” jawab Fatimah dengan lembut dan tersipu malu.
“Astaghfirullah … bukan rajin, ustadzah. Ini sudah memang kewajiban bagi kita sebagai penuntut ilmu untuk selalu merasa haus akan ilmu. Sebagai mahasiswa Al-Azhar, belum dikatakan lengkap satu harinya apabila ia belum menyempatkan waktu untuk duduk di majelis ilmu. Ingat, jangan pernah merasa puas atas apa yang kita dapat dari sebuah ilmu. Karena ilmu tidak ada batasnya, ia ibarat samudera yang begitu luas nan dalam yang tak didapati mana ujungnya. Oiya, ustadzah tahu, kan – bahwasannya cara terdekat untuk mencapai surga Allah yaitu dengan ilmu. Usaha kita dan kepahaman kita untuk menekuni ilmu-Nya. Tapi jangan lupa, menuntut ilmu untuk diamalkan. Karena ilmu tanpa amal ibarat mencari wasilah tanpa ada tujuan. Sedangkan orang yang mengamalkan tanpa ilmu layaknya ia seperti pendusta dan sebuah kejahatan. Eh, kok saya jadi pidato sih, Saya pamit dulu, ustadzah Fatimah. Assalamu’alaikum,” jawab Ali sembari memberi nasehat.

Fatimah hanya terdiam membisu, dengan lirih ia menjawab salam Ali. Pipi yang memerah merona; mata tertatap panah asmara; hati berdebar-debar tiada tara; tangan pun mengepal erat-erat. Secara spontan Fatimah pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia segera menuju ke masjid Al-Azhar, dalam perjalanannya hanya bisa tersenyum dan terbayang-bayang. Mungkin sebuah rasa yang menjatuhkannya dalam gelora asmara kerinduan.

Seminggu kemudian, sebuah masa yang dinanti-nanti, masa yang dimana memberikan kebanggaan yang dimiliki tersendiri, masa dimana penuh kejutan yang tak terpungkiri, masa dimana menentukan hasil akhir dari sebuah kuantitas jati diri. Dengan berbangga diri, acara wisuda mahasiswa universitas Al-Azhar Kairo pun tiba dan dihadiri. Setiap individu memikirkan program masa depannya masing-masing. Tukar canda dan tujuan ke depan. Ada yang berniat pulang ke Indonesia; ada yang ingin melanjutkan S2 di Al-Azhar; ada yang ingin langsung menikah; ada yang ingin pergi ke negara lain, dan begitu banyak tujuan masing-masing.

“Hamzah, nanti kamu pulang ke Indonesia mau kerja apa?” Tanya Fajar.
“Saya insya’Allah ingin menjadi dosen di universitas islam negeri,” jawab Hamzah dengan membusungkan dada.
“Kalau saya mah mau nikah dulu, mas bro …” ujar Reza secara langsung.
“Semua orang juga pasti nikah, Za. Kamu mah pikirannya nikah mulu,” ujar Fajar dengan canda.
“Nikah itu kan untuk pelengkap agama, untuk penyemangat hidup juga, Jar,” jawab Reza dengan menggerak-gerakkan tangannya dan candaannya.
Ali pun hanya bisa tersenyum melihat teman-temannya bahagia, ia pun segera mengajak mereka untuk masuk ke auditorium wisuda.

Satu per satu nama wisudawan dan wisudawati dipanggil, kegembiraan menghiasi raut wajah mereka. Predikat mumtaz, jayyid jiddan, dan jayyid yang disebutkan membuat suasana auditorium menggema dan hidup. Tak lama kemudian, nama mereka dipanggil. Dengan rasa syukur dan bangga, Ali, Hamzah, dan Reza pun mendapat predikat mumtaz. Fajar pun juga menyusul mendapat predikat jayyid jiddan. Sebuah perbedaan nilai tidak membuat mereka saling merendahkan. Usai berakhirnya acara, dimana orang-orang menikmati kebahagiaannya. Seperti biasa, mereka berempat berkumpul dengan berbincang santai. Tiba-tiba, lewatlah di hadapan mereka sesosok gadis cantik dan anggun, tidak lain ialah Fatimah bersama teman-temannya.

“Fatimah! Sudah wisuda nih. Siap kan, jadi pendamping hidupnya Ali?” Seru Reza dengan lantang.
“Heh! Reza, ngomong apa kamu itu. Ngawur,” ujar Ali dengan muka gugup melotot kepada Reza.

Hamzah, Reza, dan Fajar pun terbahak-bahak. Fatimah hanya tersenyum dan tersipu malu. Teman-temannya pun menyoraki selayak meyakinkan Fatimah akan hatinya. Acara wisuda pun diakhiri dan ditutup. Sedikit demi sedikit para hadirin menyepikan tempat tersebut.

Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Ali hanya berdiam diri dan merenung. Sesampainya di rumah pun demikian.
Lalu Hamzah menyapa, “Ali, kok kamu masih merenung aja sih? Kita sudah selesai, Li. Waktunya kita mengejar tujuan kita masing-masing.”
Ali terdiam sambil menatap tajam si Hamzah, “Aku masih berat, Zah … aku masih bingung.”
“Bingung kenapa, Li?” Tanya Hamzah penasaran.

“Aku masih takut, sudah pantaskah aku ini menjadi seorang Azhari?! Apakah sudah layak aku memakai imamah dan jubah Al-Azhar sedangkan diriku masih kotor; yang belum memiliki pengetahuan luas; yang belum mampu mendalami ilmu secara keseluruhan?! Sudahkah cocok diri ini untuk terjun ke masyarakat dengan membawa gelar Al-Azhar, berdakwah sana-sini, sedangkan aku ini masih bodoh?! Aku memiliki amanat besar, Zah … Orang-orang pasti akan bertanya tentang bagaimana hukum ini dan itu; bagaimana ilmu ini dan itu; bagaimana kaedah ini dan itu. Aku takut kalau aku nantinya hanya meninggikan elektabilitas namaku saja, Zah … Aku ingin mengamalkan ilmu karena ingin mengenalkan Allah, ingin menegakkan tiang syariat agama islam. Aku takut, Zah … aku takut akan ujub dan takabur,” jawab Ali dengan tetesan air mata menangis pilu.

Hamzah terdiam, kesedihan pun mengikutinya, “iya, Li … aku ngerti apa maksud kamu. Bukan hanya kamu saja, tapi kita! Kita, Li … namun kamu harus semangat, tunjukkan kalau kamu nanti akan berjuang di tanah air kita tercinta. Kamu ditunggu oleh orangtuamu, Li ….”
“Iya Hamzah, aku tahu soal itu. Oleh karena itu aku juga tak ingin mendzolimi kedua orangtuaku akan kebodohanku ini, aku masih ingin memperdalam sebuah ilmu lebih banyak lagi di sini dengan memantaskan diri sebagai seorang Azhari,” jawab Ali dengan sedih.
“Tapi kamu pintar, Li … kamu mendapat predikat mumtaz, ditambah kamu memiliki pengetahuan yang lebih,” jawab Hamzah dengan memujinya.

“Orang-orang tidak butuh apa itu predikat kita, Zah! Ujian yang selama ini kita lalui, bukanlah nilai dan peringkat tujuannya. Banyak orang-orang mendapatkan nilai dan peringkat atas; mumtaz, jayyid jiddan, dan lain-lain. Akan tetapi sangat minim dari mereka yang mampu berkiprah di masyarakat serta menuntun dan membimbing dengan ilmu-ilmu yang mereka pelajari. Karena kenapa? Karena belajar mereka sekedar bertujuan sukses dalam menghadapi ujian, bukan karena untuk Allah. Sehingga ujian itu yang akan menilaimu, akankah menjadi orang yang terhormat, atau sombong?! Ushii nafsii wa iyyakum, Zah. Sesungguhnya masyarakat butuh bimbingan dan pemahaman akan ilmu duniawi dan ukhrawi. Seorang Azhari bukan hanya bermentalkan imamah dan jubahnya yang berwibawa itu, akan tetapi seorang Azhari dimana ia hafal Al-Qur’an serta mengamalkannya, paham hakikat dan asal-usul dari berbagai ilmu, menguasai berbagai fan ilmu serta paham di luar kepala dalam ilmu alat, baik dan fasih bahasa Arabnya, paham hadits, fikih, aqidah, tasawuf, dan ilmu-ilmu lainnya. Ia yang berprinsipkan aqidah asy’ari, berpandangan dan pemikiran yang sufi, beserta fikih madzhabi dengan landasan yang wasathy(moderat) dan menjadi penengah,” tegas Ali terhadap Hamzah.

Hamzah pun terenung, “Li, pergilah kamu ke Syekh Muhammad sekarang. Sampaikan ke beliau akan hasil kesuksesanmu dan mintalah jawaban dari beliau,” pinta Hamzah kepada Ali.

Ali pun bergegas pergi untuk menghadap Syekh Muhammad. Sesampainya di hadapan beliau, secara tidak langsung beliau menanyakan hasil ujian akhir yang telah dihadapi oleh Ali. Dengan rasa malu Ali pun memberitahu akan hasilnya yang sempurna. Syekh Muhammad pun begitu bangga terhadapnya. Tak lama kemudian, Ali menyampaikan curhatan hati akan kebimbangannya. Awal mula Syekh Muhammad sudah merasakan kebimbangan Ali akan bagaimana pengabdiannya nanti terhadap umat ketika pulang ke tanah air. Karena sesungguhnya sang guru dapat merasakan dan menyadari apa yang dirasakan oleh sang murid.

Secara tidak langsung, Syekh Muhammad menyampaikan pesan singkat kepada Ali, “jadilah kamu orang yang bermanfaat untuk sekitarmu, meskipun mereka tidak mengetahui siapa yang memberi manfaat tersebut. Niatkan Lillah, sehingga mereka menyadari bahwa manfaat kenikmatan itu dari Allah semata.”

Ali hanya bisa diam dan menganggukkan kepala; yang terpukul dengan pesan beliau. Sesampainya di rumah, Ali mencoba berpikir. Dengan bertambah giat; sebuah predikat atau hasil, bukanlah kepuasan yang ia dapati. Namun, usahanya lebih untuk mendalami dan menguasai sebuah ilmu; untuk benar-benar memantaskan diri dengan layaknya seorang Azhari. Bermulazamah dengan para ulama, meminta rujukan kesana dan kemari. Pada akhirnya, ia mencoba untuk memulai menulis sebuah materi ilmu yang diawali dengan ‘Bismillahirrahmanirrahim. Lillahi tawakkaltu ‘alallahi. Laa haula wa laa quwwata illaa Billah’(dengan berbahas Arab).

Hari demi hari, bulan berganti bulan. Beberapa temannya sudah ada yang berpulang ke tanah air. Hamzah yang sudah menyiapkan jadwal untuk kembali pulang di awal tahun baru, Fajar yang ingin melanjutkan studinya di negara Prancis, Reza yang akan menikah pada dua bulan yang akan datang dan melanjutkan S2 di Al-Azhar. Mereka bertiga hanya salut dan heran melihat usaha Ali yang begitu khusyuk. Fokus di hadapan banyak kitab, keluar rumah untuk bertemu dengan para ulama – pulang untuk menulis tulisan kembali. Bahkan beberapa teman yang lain pun menanyakan kabar Ali, sampai si Fatimah datang ke rumahnya untuk bersilaturrahim. Tapi, Ali masih tetap fokus pada targetnya. Tulisan demi tulisan; waktu demi waktu; lembaran demi lembaran. Begitu betahnya ia menatap layar laptop beserta jari-jari yang mengetuk-ngetuk kibornya.

“Hamzah!” Ali pun memanggil Hamzah.

Seketika menjawab panggilannya, secara tidak langsung Hamzah terkejut yang tiba-tiba Ali memanggil, sedangkan sebelumnya ia hanya fokus pada tulisannya. Dengan lega, Ali telah menyelesaikan tulisannya. Rasa penasaran pun terbenak dalam hati Hamzah akan apa yang dituliskan oleh Ali.

Ali berkata kepada Hamzah, “Hamzah, mohon maaf sekali jika terlalu fokus dengan tulisanku. Zah, kamu adalah temanku yang paling dekat. Aku yakin, kamu akan mampu memegang amanat dariku. Hamzah, kamu pernah ingat, kan … apa yang pernah aku katakan waktu itu tentang tugas dan amanat kita dalam mengabdi kepada umat agama dan bangsa. Satu bulan lagi sudah memasuki awal tahun baru, sedangkan tiket kepulanganmu ke Indonesia sudah hampir tiba.”

Secara tidak langsung Hamzah memotong perkataan, “Kamu tidak ingin pulang ke tanah air?”
Ali pun terdiam dan tersenyum, lalu ia berujar, “Insya’Allah pulang kok. Aku minta tolong bantuan kamu, tolong cetak tulisanku ini – sebarkan ke toko-toko buku serta tolong ajarkan dan amalkan kepada murid-muridmu dan para jamaahmu nanti. Kemudian tolong sampaikan kepada orangtuaku. Insya’Allah, ini bahasanya mudah dipahami dan atas seizin Allah semoga ini bermanfaat untuk siapa yang mempelajarinya dan membacanya.”
Kebingungan dan penasaran menghantui Hamzah, “Memangnya kamu mau kemana, Li?”
“Aku tidak kemana-mana, Hamzah … aku minta tolong ke kamu, tolong manfaatkan tulisanku ini agar mampu memberi penerang bagi orang-orang,” jawab Ali dengan nada lembut dan tenang. Hamzah pun memegang dokumen tulisan yang diamanati Ali.

Esoknya dalam suasana yang begitu tenang. Hamzah mencoba untuk menghampiri kamar Ali. Terlihat dari kejauhan pintunya tertutup rapat.

“Brok.. Brok..! Ali …” Suara ketukan pintu dengan menyebut nama Ali. Sekali, dua kali, bahkan sampai ketiga kalinya pun tak dibukakan. Dalam benaknya ia berkata bahwa Ali pasti terlelap nikmat dalam mimpi. Pintu pun terbuka secara paksa, bergegas Hamzah mencoba membangunkan Ali. Tapi Ali pun tak kunjung tersadarkan diri. Cukup panik dan tak diyakini. Dari situ, Hamzah menyadari pesan terakhir dari Ali. Tiba-tiba ia menangis pilu. Tak lama teman-temannya pun menghampiri dan terkejut. Terutama Fatimah, yang memendam rasa cinta kepada Ali, begitu sangat sedih. Orangtua Ali pun hanya mampu menyucurkan kesedihan di tanah air dan mengikhlaskan. Jenazahnya dimakamkan di Mesir tepat pada awal bulan Januari. Kematian tidak disadari kapan ia datang menjemput, tapi tanda-tanda dapat menyampaikan kabarnya.

Dalam perjalanan pulang, Hamzah teringat pesan Ali dengan tulisan tersebut. Ia pun membacanya dari awal sampai akhir. Ternyata, tulisan itu memang memiliki nilai manfaat yang tinggi. Ali menuliskan tentang bagaimana tata cara metode memahami ilmu dan mendalami ilmu dari dasarnya beserta hukum-hukum syariat untuk mengenal dan cinta kepada Allah dalam bentuk berbahasa Arab. Hamzah pun mencetak tulisan tersebut untuk dijadikan buku. Alhamdulillah, pada akhirnya buku itu sangat berguna dan bermanfaat dimana-mana. Orangtua Ali pun hanya mampu berbangga serta menangis kesedihan akan kembali pulangnya Ali ke Rahmatullah dengan meninggalkan sebuah karya tulis yang begitu bermanfaat. Sungguh, betapa mengalirnya amal-amal perbuatan Ali walaupun ia sudah tidak ada. Meskipun jasadnya sudah tiada, akan tetapi ruh dan jiwanya akan selalu hadir untuk dikenang; dengan amalnya yang bermanfaat dimana-mana layaknya ia masih tetap hidup meskipun dalam kepulangannya ke Rahmatullah.

Alfaqir, 8 Mei 2019

بالامتحان يكرم المرء أو يهان