Titipan Tuhan
Oleh: Hasyim Asyari

“Kita kadang masih suka merisaukan sesuatu yang telah ditentukan.” temanku membuka pembicaraanya malam ini, saat kami bertemu di sebuah warung kopi.

“Kadang sesuatu yang sifatnya sekedar titipan, kita menganggapnya sebagai sebuah kepemilikan. Sehingga ketika sesuatu tersebut sudah tidak ada, kita akan meratapinya dengan penuh kegelisahan, kekhawatiran dan sebagainya.
Rizki, misalkan. Ia merupakan sebuah jaminan yang telah ditentukan oleh Tuhan kepada seluruh manusia. Ia benar-benar telah ditentukan. Siapapun pasti akan mendapatkannya sesuai jatah porsi yang telah Ia tetapkan. Dan sifatnya itu hanya sekedar titipan, loh. Bukan pemberian. Juga kita tidak berhak mengklaim bahwa sepenuhnya ia itu adalah milik kita, yang kemudian dapat kita jadikan alasan untuk sewenang-wenang mepergunakannya sekarep kita sendiri.”

“Sebab, tatkala kita menerimanya, sama dengan kita telah sepakat untuk mngikuti amanat-Nya.”

“Seperti mentasharufkannya pada kebaikan, tidak hanya untuk berfoya-foya, melakukan hal yang kurang bermanfaat, apalagi sampai kita gunakan untuk bermaksiat kepada-Nya…”

Aku menyimak uraiannya itu dengan baik sambil sesekali menyeruput kopi yang telah dihidangkan.

“Kamu pasti pernah menjumpai, seorang yang stresnya bukan kepalang karena sebagian hartanya hilang. Entah karena hilangnya dicuri, ditipu, dirampok dan sebab-sebab lainnya. Mereka itu adalah orang-orang yang menganggap bahwa sepenuhnya harta itu adalah miliknya. Bukan titipan dari-Nya. Sehingga tatkala ia tiada, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang hilang, bukan sebagai sesuatu yang diambil kembali.”

“Lantas kalau memang harta itu titipan Tuhan, kenapa Dia tega mencerabutnya dari genggaman manusia dengan cara pencurian, penipuan dan sebagainya. Di mana letak kebijakan-Nya?” aku mencoba menjelaskan ganjalan yang ada di benakku.

Af’al Tuhan tak patut kau pertanyakan. Karena Dia-lah Sang Maha Mutlak. Sebab, segala sesuatu dalam semesta ada dalam kehendak-Nya. Kita sebagai bagian kecil dari kehendak yang lemah, tak kan pernah mampu menjangkau rahasia dibalik itu semua.
Mungkin, boleh jadi ini adalah bentuk dari bagaimana Tuhan ingin menguji keimanan kita. Apakah dengan diambilnya kembali rizki itu meraka akan bertambah mendekatkan diri kepada-Nya, dengan tetap teguh dan sabar, atau malah menjadikannya kufur dan lupa bahwa selama ini hidup dan rizkinya hanyalah sebuah titipan sementara?”

“Karena itu, temanku, janganlah engkau merisaukan sesuatu yang telah ditentukan. Hidup, rizki, jodoh semua nya hanya sesuatu yang sementara. Kau boleh mencintai semua titipan, tapi ingat, suatu saat akan tiba masa dimana semua akan kembali, maka cintailah itu dengan apa adanya, dan berikan semua cinta hanya pada-Nya.”

Penyunting: Bagaskara