Hidup hampir setahun di Mesir, aku jadi mendapat beberapa pelajaran. Banyak hal-hal baik dan menarik yang kudapat, tapi juga nggak sedikit hal yang membuat jengkel dan melatih kesabaran dengan paksa. Kata orang, “Belum sabar beneran, orang yang belum hidup di Mesir.” Haha.

Nah, untuk belajar menghindari yang bikin jengkel tadi, sebetulnya kamu nggak harus merasakan secara langsung pait-paitnya kehidupan terlebih dahulu. Ketika ada yang sudah pernah merasakan, dan mau berbagi untuk kamu, itu sebetulnya sudah lebih dari cukup untuk dijadikan pelajaran.

Di sini, aku mau kasih dua tips yang mungkin akan sangat berguna untukmu yang (sedang atau akan) hidup di Mesir. Dua tips berdasarkan pengalamanku sendiri. Oh iya, jangan marah dengan judul yang agak ngeselin itu, ya. Itu memang clickbait. Haha.

Baca dengan seksama, ya!

Tips Pulang ke Indonesia

Waduh, belum apa-apa udah dikasih tips supaya bisa pulang. Haha. Nggak ada salahnya, kok. Rindu rumah itu fitrah setiap penuntut ilmu yang jauh dari keluarga. Kangen bukan berarti lemah ataupun cengeng. Lagipula, selain menenangkan hati, pulang itu juga menyenangkan perasaan orang tua. Selagi kepulanganmu nggak menyusahkan mereka.

Dulu, ketika sebagian sahabat yang masih muda dan datang dari negeri yang jauh untuk menuntut ilmu kepada Nabi, setelah 20 hari, Nabi izinkan untuk pulang dan mengajarkan ilmu kepada masyarakat.[1] Di sini terlihat Nabi sebagai sosok yang begitu penyayang dan paham dengan perasaan murid-muridnya.

Walaupun, mungkin sebagian membandingkan dengan perjuangan ulama-ulama terdahulu yang berpisah dengan keluarga bahkan sampai anaknya jadi imam masjid. Ya nggak apa-apa juga, sih, kalau mau mengikuti jalan mereka. Tidak ada paksaan untuk ‘pulang’ juga, toh.

Menabung Setiap Bulan

Nah, langkah pertama untuk bisa pulang tanpa nyusahin orang tua adalah dengan menabung sendiri tiap bulannya. Menabung di sini tentu berbeda-beda, ya, takarannya setiap orang. Karena, bagaimanapun juga, kan jatah bulanan yang dikirim juga berbeda.

Tapi, dalam menabung ini, setidaknya ada gambaran berupa target uang yang ingin dicapai. Target itu sendiri tidak lain dan tidak bukan adalah harga tiket pesawat.

Berbeda dengan tiket keberangkatan one way dari Indonesia ke Mesir yang memakan biaya 9.870 Le (8 juta-an, menurut Google Flight), tiket pulang pergi (PP) dari Mesir ke Indonesia bisa begitu murah dengan harga rata-rata 7.500 Le (sekitar 6,5 juta).

Setelah mengetahui harga tiket rata-rata, sekarang kamu bisa merencanakan mau menabung berapa pounds per bulannya.

Misalnya kamu mau pulang setiap tahun, berarti kamu harus menabung sekitar 625 Le per bulannya.

Kalau terasa terlalu banyak dan berat, sepertinya nggak ada salahnya kalau kamu undur target kepulangan, misalnya setelah ujian termin (semester) 2, sekitar bulan Juni/Juli. Biasanya di waktu ini kebanyakan mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) pulang.

Kalau misalkan kamu tiba di Mesir bulan Oktober, berarti kamu perlu menyisihkan uang jajan sekitar 375 Le setiap bulannya, supaya bisa pulang dengan uang sendiri di bulan Juni atau Juli satu setengah tahun setelahnya.

Eh, tapi, jangan lupa, nggak ada salahnya juga kok, kalau kamu mau minta bantuan dari orang tuamu, semisal tabungan tiketmu itu kurang sedikit. Tapi, kalau dirasa memang akan memberatkan mereka, mau nggak mau, kamu perlu lebih bersabar untuk mengurangi jajan, ya.

Aktif Bertanya Harga

Ketika uang tabungan kamu udah sekitar 50-70%, nggak ada salahnya untuk mulai bertanya harga tiket ke travel-travel yang ada di sini. Kalau kamu beruntung, kamu bisa dapat harga lumayan jauh, lho.

Tips ini diberi oleh salah satu agen travel yang pernah kutanya, mengenai bagaimana para penjual bagasi itu dapat untung dari bagasinya. Salah satunya, ya, karena mereka aktif tanya (bahkan katanya setiap hari selalu cek harga), jadi mereka lebih dahulu dapat tiket-tiket murah, sebelum si agen ini share harga tiket ke grup-grup.

Kalau mau pulang dengan harga yang lebih murah, perjuangan yang dikeluarkan juga sedikit lebih banyak, ya.

Entah benar ada atau nggak, katanya ada sebagian orang yang dapat harga tiket pesawat PP itu cuma 4.000-an Le alias hanya 3 juta-an!

Tips Membeli Barang

Berhati-hatilah membeli barang di pasar atau di orang-orang yang nggak mencantumkan harga di barangnya. Kamu jangan malu untuk menawar dengan sadis. Karena, para pedagang di sini juga gila-gilaan dalam menaikkan harga barangnya. Mereka juga nggak segan untuk berbohong, bahkan dengan bersumpah, “Demi Allah!”

Selanjutnya, kalau bisa, kamu didampingi oleh orang yang lebih berpengalaman dalam hal jual-beli supaya proses negosiasi lancar. Kalau kamu tipe yang jarang berbelanja ke pasar, sangat tidak dianjurkan untuk coba-coba belanja sendiri atau dengan sesama newbie.

Aku pernah hendak membeli regulator gas, si penjual bilang harganya 150 Le. Ini terlalu mahal, aku pun bilang ke dia, bahwa penjual lain yang menawarkan 75 Le aja aku tolak, kok. Lalu dia bersumpah, “Aku bersumpah, Demi Allah! Aku beli di ‘Atabah (nama pasar) harganya 120 Le!”

Singkat cerita, akhirnya aku dengan berat hati bayar 75 Le. Dia sangat memaksa. Di sisi lain, sehari sebelumnya aku memang pesan ke dia untuk dibawakan regulator. Kurasa, harga aslinya nggak sampai 30 Le. Gila kan!?

Oh iya, dalam menghadapi tipe penjual (terkadang supir taksi juga seperti ini, lho) yang memaksa semacam ini, jangan kasih uang terlebih dahulu. Suruh dia tunjukkan kembalian terlebih dahulu, baru bayar. Kalau nggak, dia nanti akan mengaku nggak ada kembalian. Keji banget, ya.

Aku pernah kena semacam ini waktu naik taksi dari bandara. Pokoknya, sebisa mungkin, terutama kalau kamu belum begitu mahir negosiasi, buat kesepakatan yang jelas di awal.

Selain itu, setelah membayar dan diberi kembalian, jangan lupa untuk cek kembaliannya, ya. Terutama mahasiswa baru, orang-orang keji itu suka banget memanfaatkan momen keluguan wafidin (pelajar dari luar Mesir).

Di seminggu awal aku hidup di Mesir, aku kena tipu penjual jus. Aku beli jus mangga seharga 8 Le. Selepas minum, aku bayar ke kasir dengan uang 50 Le. Dia kemudian kasih kembalian dengan 5 lembar uang kertas (yang kukira 40 Le, [2 lembar 5 Le dan 3 lembar lainnya]) dan 2 uang koin, kalau nggak salah.

Aku nggak begitu memerhatikan. Langsung kutaruh kantong. Aku pun nggak keluar seharian itu, kecuali di waktu sore untuk belajar bareng.

Setelah belajar bareng, aku ajak seorang temen untuk makan di rumah makan milik orang Thailand di daerah Gami’ Ar-Rahman. Dengan santai, aku pesan mie basah jumbo. Harganya 35 Le.

Waktu mau bayar, aku keluarin dong, uang kembalian yang tadi… Dan betapa kagetnya aku ketika baru sadar, bahwa ternyata 3 lembar yang ada di kantongku itu masing-masing hanya senilai 1 Le! Alhasil di kantong cuma ada 15 Le. Aku pun pinjam uang kawanku dulu untuk bayar makanan yang kupesan.

Penutup

Sebetulnya masih banyak tips-tips lain seputar hidup di Mesir; seperti tips lebih cepat belajar bahasa Arab, memilih prioritas belajar (versiku, tentunya) di Kairo, yang penuh dengan tawaran talaqqi dengan berbagai macam keilmuan, memilih guru untuk hafalan Al-Qur’an, dan sebagainya. Tapi, untuk hal-hal ini, rasanya aku masih terlalu dini untuk berbagi, hehe.

Semoga bermanfaat.

[1] Al-Bukhari, 2/93, dalam Kitâb Al-Âdzân Bâb Al-Âdzân lil-Musâfirîn

oleh: Hammad Rosyadi