Oleh: Qonita Fairuz Salsabila

Untuk yang sekian kalinya aku mendapat pertanyaan dan komentar “kamu kok ngga bosan belajar? Setiap saat sama kitab, istirahat baca kitab, baru pulang langsung ketemu buku, berhenti belajar ganti Qur’an, setelah diktat ganti kitab lain.”

Ada juga desus yang kudengar, “Kaka itu belajar terus, hampir setiap waktunya untuk belajar.” Kadang ada suara di belakang walaupun akhirnya terdengar. Atau mereka mengira mataku sudah terpejam dan tak bisa mendengar. Entah apa yang kujawab. Diam atau sedikit senyum? Atau memberikan nasihat panjang lebar sambil mengutip ungkapan-ungkapan dari Imâm as-Syâfi’i, atau menyodorkan kitab Qīmat al-Zaman.

Kawan, bukankah menuntut ilmu layaknya meminum air laut? Rasa asin itu mustahil untuk menghilangkan kering dahaga kita. Saat haus lalu terlanjur meneguk air laut, yang terjadi rasa haus akan semakin parah. Seperti itu juga perumpamaan ilmu. Jika sudah meneguk walaupun sedikit, maka tak akan merasa cukup untuk menghilangkan rasa haus, rasa ingin masuk lagi, lebih banyak, berenang, menyelam, dan tenggelam dalam samudra yang begitu dalam. Kalau tak percaya silakan googling Pesona Bawah Laut. Apa yang terlihat di permukaan jauh berbanding dengan kedalaman seribu meter. Di manakah kita sekarang? Apakah masih di tepi pantai dengan tenggorokan kering tanpa berani meminum seteguk ilmu?

Kawan, bukankah cinta perlu bukti dan pengorbanan! Pun saat mencintai sesuatu yang membutuhkan perhatian besar. Jika kau katakan cinta itu harus dengan bukti, maka ilmu membenci pengkhianatan. Bukti cinta ilmu adalah setia, dan pengorbanan kita yang tak berkeluh kesah. Perjuangan kita tak boleh asal-asalan. Asal kuliah. Asal lulus. Asal najah. Asal dapat ijazah dan gelar. Asalkan tidak dikatakan pengangguran. Apalagi hanya sekedar numpang gengsi dan ketenaran. Ketahuilah, ijazah dan gelar yang kau dapat hanya tanda kalau kita sudah lulus, bukan tanda kalau kita sudah paham.

Jika kau sepakat cinta wajiblah dengan pengorbanan, maka apapun yang kau punya pasti akan habis untuk memenuhi keperluan dalam menuntut ilmu. Waktumu kau kerahkan untuk bolak-balik halaman diktat, menyapa dan bercengkerama dengan kamus seempuk bantal, tidur beberapa saat, tak ada lagi waktu bercanda apalagi maksiat, tak ada keinginan lagi untuk memenuhi rak sepatu dengan sneakers atau alasan hangout demi memenuhi foto Instagram. Upload foto di Starbuck atau Costa, berharap like, followers, atau setidaknya mengemis untuk dipuji. Sedangkan waktu berlalu tanpa permisi.

Kawan, katamu cinta itu buta. Begitu jika telah cinta pada ilmu. Tak ada lirikan pada City Stars atau Cairo Festival, bahkan tak berpikir untuk menghabiskan uangmu untuk membeli segala hal yang tak berkaitan dengan ilmu. Sekalipun kau mampu, sekalipun terkadang butuh dan mendesak. Itulah ilmu. Saat hal yang tak berbau ilmu membuat matamu tertutup rapat, kau pejamkan pandangan ke kanan dan ke kiri untuk sebuah jalan yang lebih panjang dan menjanjikan.

Kau buta dengan apapun bahaya dan halangan yang menghadang. Tak peduli komentar dan cacian. Lelah adalah hal biasa. Kau tak peka dengan perihnya kaki yang lecet dan luka. Kau tak mengerti lagi cara agar kau mau menghabiskan waktu eksotisnya kota yang penuh jejak menawan ini, karena keindahan dalam petualanganmu di dalam torehan tinta Ulama dan Imam. Tak pernah lagi terbesit untuk mencicipi asyiknya berduaan, sekalipun hanya dalam benda mungil yang menghubungkan dua hati terpisah benua. Meskipun konon itulah keindahan kata orang.

Kawan, bukankah menuntut ilmu jalan termudah untuk meraih surga-Nya? Aku ingin selalu berada di jalan itu. Aku berusaha untuk tidak menodai jalan suci dengan dosa yang membuatku jatuh dan tergelincir. Tak kubiarkan sejengkal pun keluar dari jalur indah ini. Itulah yang membuatku selalu bertahan walau badai mengejar, walau air yang deras terus berjatuhan dari langit, walau angin bertiup kencang, walau sepanjang jalan banyak hal yang bisa membuat aku berbelok arah atau berhenti tuk melepas lelah. Entah itu di bawah pohon yang rindang, atau di dalam bangunan perumahan, atau pula sekedar mengisi perut seraya bercanda ria dengan kawan seperjalanan.

Kawan, bukankah penuntut ilmu itu akan mendapatkan istigfar dari seluruh makhluk bahkan ikan yang ada di laut pun juga memohonkan ampun? Itulah mengapa aku terus ingin mendapatkan penghargaan yang terindah itu. Kala diri ini selalu mengingat bahwa dosa yang telah diperbuat lebih besar dari gunung yang menjulang tinggi dan terhujam begitu dalam ke dalam tanah. Tidakkah kau ingin dan iri dengan hadiah terbesar ini? Belum lagi kepakan sayap malaikat yang senantiasa menaungi kita. Di setiap langkah kaki yang kita pijakkan di bumi Allah ini untuk menghadiri taman-taman surga yang jauh lebih menarik daripada sekedar meramaikan tempat-tempat pusat perbelanjaan.

Kawan, bukankah penuntut ilmu adalah salah satu yang Allah janjikan bahwa setiap perkataan para penuntut ilmu yang terlisankan itu pasti mustajab? Dan aku sudah berkali-kali membuktikan. Meyakini dan menjemput janji-Nya. Tak ada lagi penghalang antara kita dengan Rabb alam semesta. Aku percaya, setiap kata yang aku bisikkan dalam sujudku  mampu menggetarkan langit-Nya. Setiap tetesan air mata yang aku tumpahkan kala azan magrib berkumandang untuk berbuka puasa, aku yakin Allah pasti mendengar. Dia tak pernah mengabaikan doa hambanya. Setiap lantunan doa yang begitu panjang di antara azan dan iqamah. Juga di setiap usai sholat, aku yakin pasti Malaikat catat tanpa ada yang terlewat. Tak hanya itu, saat keberadaan kita di negeri orang ini, negeri para Nabi dan para pewarisnya, seharusnya kita semakin yakin karena kita menyandang dua janji. Musâfir dan Tâlib al-ilmi.

Kawan, bukankah saat ilmu bertambah kita harus layaknya tangkai padi yang semakin berisi? Semakin berat dan matang maka semakin merunduk kian ke bawah. Harusnya kita seperti itu. Bagaikan sebutir di padang pasir yang luas. Merasa mungil dengan ilmu-Nya. Takkan mampu tertuliskan dengan tinta sekalipun seluruh air samudra di atas muka bumi menjadi tinta. Namun, apakah kita sudah menjadi  seperti padi itu? Yang semakin bertambah ilmu semakin merunduk. Malu untuk berhenti belajar. Malu untuk merasa cukup dengan yang sudah dimiliki.

Kawan, apakah kau lupa bahwa ilmu itu cahaya? Dan cahaya itu tak akan Allah berikan kepada orang yang bermaksiat kepada-Nya. Aku takut jika waktu itu kosong, walau sekejap. Aku takut jika hari terlewat walau hanya sebentar. Aku takut jika usia ku berkurang walau hanya beberapa jam. Namun semua itu terlewat dengan kesia-siaan. Tak ada ilmu dan amalan yang bertambah di sana. Tak ada iman dan ketaatan yang semakin kuat. Tak ada ketakutan kepada-Nya yang semakin terpatri dalam diri saat mempelajari ilmu-ilmu Nya, lantaran terlalu banyak pernak-pernik yang menghalangi. Aku takut jika ada kelonggaran waktu yang melalaikan sehingga malah menjerumuskan.

Kawan, bukankah setiap hari itu bagi penuntut ilmu layaknya hari raya? Saat ada satu ayat suci mampu kita hafalkan atau hadits Nabi yang sanggup kita ucapkan di luar kepala, maka itu adalah kebahagiaan. Jika mengetahui sebuah hukum agama, maka itu kesyukuran yang luar biasa. Ketika lebih memahami perjalanan sejarah Nabi Muhammad ﷺ, itu merupakan hadiah terindah untuk kita. Mampu khatam kitab, bertambah kosakata, mengetahui keindahan bahasa sastra beserta kaidahnya, maka itulah hari ‘Ied bagi kita. Sungguh kebahagiaan tak mesti dengan baju baru (H & M dan Pull and Bear misalkan). Sepatu atau tas terupdate. Mengisi perut juga bukan berarti dengan rumah makan Nusantara yang sekarang laris manis. Hiburan juga tak harus dengan darmawisata yang menipiskan isi dompet. Benarkan?

Kawan, tidaklah kita tahu ulama terdahulu dalam menuntut ilmu? mereka sedikit makan, bicara dan tidur demi menghabiskan hampir seluruh hembus nafasnya untuk ilmu. Namun kita sedikit-sedikit makan, sedikit-sedikit tidur, sedikit-sedikit ngobrol dan bercanda. Mereka rela hidup miskin dan susah hanya karena hartanya habis untuk kitab dan semua keperluan untuk mendalami ilmu. Istirahat mereka cukup dengan pergantian dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Rehat mereka cukup berpindah dari suatu ibadah ke ibadah lain. Menghilangkan bosan pada suatu kitab cukup dengan mengganti kitab lain. Sungguh mustahil ilmu dan khazanah Islam yang begitu banyak, luas nan indah didapatkan tanpa lelah dan bersusah payah. Tak mau berusaha menziarahi kamus hanya mencari satu kata. Malas berjalan jauh dengan alasan suhu cuaca. Kalau belajar hanya sekadar instan. Sukanya cari mahdzufan dan malghian. Dan kita lupa bahwa di masa akan datang dinanti sejuta umat yang akan bertanya segala hal.

Memang, menuntut ilmu itu tak hanya sekedar bersama kitab yang tersusun di rak. Bukan juga berkutat dengan hafalan Qur’an, Hadits, mutun yang singkat tapi ribet untuk menghafal. Tak serta dengan kuliah atau diktat. Atau  berada dalam majelis bersama guru-guru. Aku mengingat sebuah nasihat Abah pesantrenku yang sampai waktu ini masih menjadi salah satu pemicu terbesar jika aku lalai: “jika kalian ingin menguasai peradaban Islam, maka waktumu harus banyak digunakan untuk bergaul dengan kitab. Karena apapun cabang ilmu Islam pasti lahir dari  nash al-Qur’an dan al-Sunnah. Maka porsi untuk berkutat dengannya harus jauh lebih banyak dari aktifitas yang lainnya”.

Jadi selama ini kau di Mesir sudah mendapatkan apa? Ingat! Jangan sampai jadi pengkhianat orang yang mempercayaimu, mereka yakin, kalau kau akan menjadi seseorang yang kelak pasti akan membanggakan mereka. Kau tahu siapa mereka? Orang itu adalah orang tuamu sendiri. Bahkan jika mereka sudah tidak ada lagi di alam ini, tapi pasti mereka akan tetap bangga di alam sana, jika kau menjadi orang yang sukses. Berjuanglah!

Kawan, kutuliskan secercah kalimat-kalimat sederhana ini dengan air mata yang semata-mata hanya karena Allah SWT. Aku hanya ingin menjawab semua pertanyaan dan komentar yang sering kudengar namun aku diam. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mendapat derajat tinggi di sisi-Nya karena iman dan ilmu.