Tantangan Alquran

_____________________


Tidak ada yang memungkiri dari kalangan ilmuwan manapun bahwasanya gaya bahasa yang digunakan Alquran adalah gaya bahasa yang tiada bandingnya. Karena sesungguhnya Alquran bukanlah kalam manusia.


Alquran telah menyilaukan orang Arab yang ahli sastra -apalagi selainnya- untuk mendatangkan sesuatu yang semisalnya. 


Alquran telah menantang pujangga Arab, bahkan seluruh makhluk berakal  yang ada untuk membuat yang semisalnya. Uniknya, tantangan itu dijawabnya sendiri bahwa mereka tidak mampu dan selamanya tidak akan mampu untuk membuat yang semisalnya, sekalipun satu sama lain saling membahu dan bekerjasama. Dan hal ini memang sesuai realita.


“Katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.” (QS. al-Isra’ [17]: 88)


“Ya, wajarlah,” mungkin sebagian mereka -bahkan kita- ada yang nyeletuk seperti itu.


“Alquran kan terdiri dari sekian ribu ayat, jadi, ya, wajar kalau tidak ada yang bisa. Itu terlalu berat.”


Baik. Kemudian Alquran menurunkan secara drastis tantangan itu menjadi sepuluh surah saja. Namun lagi-lagi di antara mereka tidak ada yang bisa.


“…Katakanlah, (Kalau demikian) datangkanlah sepuluh surah semisal dengannya (Al-Qur’an) yang dibuat-buat, dan ajaklah siapa saja di antara kamu yang sanggup selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Hud [11]: 13)


Lagi-lagi mereka tak menjawab.


“Ah, sepuluh surah kan masih banyak. Kalau surahnya mulai al-Fâtihah sampai Yunus, itu, kan, sepuluh juz lebih.” Mungkin sebagian mereka juga masih ada yang ngeyel seperti ini.


Baik. Kemudian Alquran menurunkan tantangan itu menjadi satu surah saja.


“…Buatlah sebuah surah yang semisal dengan surah (Al-Qur’an), dan ajaklah siapa saja di antara kamu orang yang mampu (membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Yunus [10]: 38)


Namun, lagi-lagi mereka terbungkam. Tidak ada satupun yang dari kalangan mereka yang bersedia melayani tantangan tersebut. Bahkan sampai-sampai tantangan itu diturunkan lagi menjadi satu surah yang mirip semisalnya, bukan mirip dengannya, tetapi yang mirip semisalnya (QS. al-Baqarah [2]: 23) pun mereka tidak ada yang bisa. Karena saking bingungnya mau merespon dengan gaya bahasa yang bagaimana.


Yang jelas, mereka telah beranggapan bahwa berperang dan menumpahkan darah di berbagai medan pertempuran itu lebih mudah bagi mereka daripada harus melayani tantangan Alquran untuk mendatangkan yang semisalnya. (Fâdhil Shâlih 2016)


Hal ini menjadi bukti yang menunjukkan bahwa gaya bahasa Alquran adalah sebuah ekspresi kebahasaan yang tiada bandingnya. Ia telah mencapai nilai estetika kebahasaan yang sangat tinggi. Karena ia bukanlah kalam manusia, tetapi kalam Allah Azza wa Jalla (QS. an-Najm [53]: 4).


Adapun mengenai contoh-contoh gaya bahasa Alquran tersebut bisa Anda baca di postingan berikutnya.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1131463193684108&id=100004613139593

Leave a Reply