Tangga Kesaksian
Oleh: Nadiah Shohwah

Bermukim di Mesir untuk beberapa tahun lamanya berarti bersiap menjejaki rumah-rumah pencakar langit. Jarang sekali didapati rumah yang berdiri sendiri tanpa bertingkat. Rasanya mustahil untuk memiliki taman dan halaman yang tertanami oleh pepohonan dan bunga-bunga penghias pandangan. Disini rumah-rumah bertingkat itu dinamakan syaqqoh atau apartemen, tanpa memandang kualitas bangunan tersebut. Semua yang tersusun-susun secara vertikal itulah dia syaqqoh, bahkan se-kuno apapun, walau tangganya masih berupa semen, atau dindingnya sudah mulai terkelupas dan lantainya beralaskan kayu. Satu imarah atau bangunan bisa sampai setinggi sepuluh lantai, kebanyakannya berkisar antara empat sampai enam lantai. Dan tanggalah yang menghubungi syaqqoh-syaqqoh dalam sebuah imarah. Memang ada yang difasilitasi dengan lift, tentunya dengan biaya sewa yang lebih tinggi dan kawasan yang jauh dari kawasan Al-Azhar.

Bagi masisir (mahasiswa Indonesia di Mesir), menyewa sebuah syaqqoh yang biasa ditempati empat sampai belasan orang adalah sebuah keharusan. Tidak ada kost-an yang menjamur seperti di kawasan kampus-kampus Indonesia. Untuk penduduk Mesir sekalipun, seakan tidak memandang siapa, dia atau beliau, seperti halnya Duktur yang tinggal tepat diatas syaqqoh kami.
Bersama dengan ketujuh teman, kami layaknya sebuah keluarga yang Allah persatukan untuk saling menguatkan dan mensupport impian-impian yang kami rajut di negeri yang menjadi kiblat dari keilmuan Islam.

“Kalau bukan karna Al-Azhar, ana ngga akan bertahan disini…” ungkap kakak senior rumahku yang sedang letih memikirkan permasalahan syaqqoh yang terus bermunculan. Baik uang sewa yang dinaikan, tagihan listrik yang tidak wajar, berhadapan dengan pemilik syaqqoh yang kurang ramah juga seabreg permasalahan yang senantiasa membumbui dan menyempil diantara kesibukan kami menuntut ilmu.

Banyak hal yang akan selalu menguji kesabaran kita di negeri yang juga menyandang gelar ‘negeri-nya Fir’aun’ ini. Apalagi kondisi syaqqoh yang berada di hampir puncak imarah. Kami berdelapan tinggal di lantai lima (tanpa dihitung lantai dasar) yang dihubungkan dengan lebih dari enam puluh anak tangga. Tangga-tangga kami memang spesial, setiap berpindah ke sebuah lantai, ada empat susunan tangga yang masing-masing susunannya berjumlah empat anak tangga, meninggalkan kesan berbeda bagi siapa saja yang bertamu.
Meski sudah hampir setahun aku tinggal disini, lelah menaiki tangga bukan berarti sirna tersebab sudah menjadi rutinitas harian menaklukkan puncak imarah. Tetap saja nafas ini memburu dan langkah terasa berat.

Tapi tanpa sadar, tangga mengajari kami arti berkorban dengan ikhlas. Bahwa keberhasilan penuntut ilmu tidak hanya ditentukan dari penguasaannya terhadap berbagai cabang keilmuan, tapi juga keberhasilannya menundukkan seluruh cobaan dan ujian yang menemani kesehariannya, termasuk kesabaran untuk menyusuri anak-anak tangga. Tangga yang berkontrbusi atas terkurasnya tenaga dan terproduksinya bulir keringat kami seolah menyiratkan bahwa energi yang kita habiskan untuk menaikinya tidak boleh disia-siakan, ikhlaslah agar setiap langkahnya menuai pahala dan menjadi saksi kegigihan dalam mempelajari ilmu.

Kami kemudian belajar untuk mengatur kapasitas bolak-balik ke rumah ketika hendak melakukan banyak aktifitas diluar. Sehingga kami tidak sering-sering menghabiskan tenaga menjejaki tiap anak tangga dan memaksimalkan kegiatan diluar. Kadangkala tangga pula yang mendengar seluruh keluh kesah yang kami bawa ketika pulang baik lewat lisan maupun lewat hati terdalam. Andaikan boleh berharap, tak apa kami tetap tinggal disini hingga ‘Lc.’ memisahkan. Mungkin, tangga-tangga inilah, yang kelak, akan menjadi saksi atas kesungguhan kami dalam menuntut ilmu.

Penyunting: Ambang Fajar Bagaskara