Menjadi seorang yang sufi, ia harus selalu mengingat Allah dengan selalu berdzikir dan khusyuk di dalamnya untuk menyucikan jiwa dan menjernihkan akhlak. Dimana ia harus mampu menyatukan ilmu dengan akhlak yang baik dan benar dalam berkhidmat menyatu dengan Allah. Dalam berdzikir pun bukanlah sekedar dari sebuah perkataan dan perbuatan. Namun, bagaimana hatinya akan ridha dan cinta kepada Sang Maha Kuasa. Sehingga mampu benar-benar menyatu dan apa yang ditujukan itu kepada Allah semata. Apalagi di masa muda ini, kita harus mampu mengendalikan hawa nafsu untuk selalu mengedepankan adab dan akhlak yang mampu menyatu dengan ilmu guna bagaimana muamalah kita kepada Allah.

Seseorang berkata : “Sudah banyak dzikir yang kubaca, sudah kuhafal seluruh maknanya dan telah kualami keajaiban karomahnya. Apakah itu benar karomah atau istidraj? Hanya satu yang masih terasa kurang bagiku. Mengapakah dalam berdzikir aku masih belum dapat merasakan dekat dengan Allah? Mengapa aku masih selalu bermaksiat? Mengapa aku masih selalu mengejar kenikmatan dunia? Seolah-olah Allah itu jauh dariku, dan aku jauh dari-Nya. Seperti ada batas atau hijab pemisah antara aku dan Allah. Konflik persoalan ini terus bermain di lubuk fikiranku. Sehingga terbawa-bawa ke klimaks batin yang amat membingungkan tanpa penjelasan. Akhirnya membuatku sendiri merasa jemu untuk meneruskan dzikir. Apakah ada yang salah pada dzikirku? Padahal dzikir-dzikirku itu kuperoleh secara talqin dan ijazah dari seorang guru mursyid!”

Pertanyaan itu tidak kujawab secara spontan, Agak lama aku terdiam dalam tafakur. Apakah masalahnya?

Masalahnya yang utama sekali ialah dalam dzikir itu kau tidak mengenal-Nya sebagaimana mengenal-Nya dengan sebenar-benar kenal. Kau sekedar mengenal-Nya dalam ilmu-ilmu kalam yang kau pelajari tetapi tidak mengenal-Nya dengan rahasia hatimu yang terdalam. Apabila kau tidak mengenal-Nya dengan hati, maka asas niatmu untuk berdzikir itu tidak kau bangunkan dari sudut yang benar dan sempurna. Justru itu, kau harus membetulkan niatmu dahulu. Kemudian kau bina niatmu itu semata-mata karena Allah. Setiap ibadah itu harus dibangunkan atas dasar tauhid dan taqwa. Bukan karena mendambakan ganjarannya. Orang yang berdzikir itu sewajarnya berada di dalam maqom ikhlas, tidak mengharap sesuatu apapun. Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya niat itu lebih utama dari perbuatan.”

Apabila kau tidak mengenal-Nya melalui hatimu, maka dzikirmu itu bertindak atas kemauan nafsumu sendiri, yang membuatmu merasa tinggi, merasa hebat sebagaimana telah berguru kepada Syeikh ini yang begitu luas ilmunya, sampai-sampai kesombonganmu itu yang mengantarkanmu ke arah yang salah. Yang dimana seorang gurunya yang begitu baik, ramah, selalu senyum kepada tamu maupun orang, dan lain-lain. Namun karena kesombongan seorang murid yang merasa tinggi dan penuh, maka seorang murid pun tidak mengamalkan sebagaimana sifat gurunya yang baik tapi malah kebalikannya. Seperti contohnya, sang guru begitu sangat menerima dan senang hati dengan kedatangan murid yang ingin belajar ataupun berziarah, akan tetapi beberapa murid yang sudah bersamanya malah memasang muka suram dan seakan-akan menolaknya dengan rasa iri ataupun dengki. Na’udzubillah … Uushiikum wa iyyaya. Sesungguhnya seorang murid yang hakiki bukanlah ia yang selalu dekat atapun foto dengan gurunya, melainkan ia yang cinta dari dalam hati dan selalu mengamalkan perilaku seorang guru yang baik dan benar.

Kesilapanmu karena kau terlalu bergantung dengan amalmu dan tidak dengan rahmat dan kasih sayang Allah. Lantaran itu kau menganggap dzikirmu adalah hasil usaha dirimu sendiri dan bukan daripada karunia Allah Swt. Kau beranggapan, ketika kau berdzikir itu bahwa kaulah yang mengingati Allah, dan Allah Yang diingati. Lantaran demikian, sebenarnya kau tidak berserahkan dirimu sepenuhnya kepada Allah, tiada sifat tawakal dan ridha kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Bagaimana mungkin kau dapat dekat dengan Allah selagi kau belum berserah diri kepada Allah? Janganlah kikir hati kepada Allah, jadikan seluruh cintamu itu untuk Allah dan karena Allah yang dimana setiap kau menyebut nama-Nya, seakan-akan hati itu bergetar dan ingin meneteskan air mata. Uushiikum wa iyyaya.

Sesungguhnya tiada yang mengingati Allah selain Allah, tiada yang memuji Allah selain Allah. Dirimu adalah wadah pendzahiran Allah. Kau sebenarnya tiada, kosong, semata-mata kau bukanlah kau sebenarnya. Ketika kau berdzikir memuji dzat-Nya sendiri. Kau sekedar menjadi alat pilihan-Nya. Suara dzikir yang melantun keluar daripada lisanmu, sebenarnya suara Allah. Kau sekedar berdzikir di lidah dan hatimu, sayangnya kau tidak menyadarinya karena belum mengenal-Nya bahwa Dia lah hakikat dibalik itu. Sedangkan yang berdzikir hakiki itu takluk kepada sifat Kalamnya Allah.

Janganlah kau berdzikir dengan tujuan dzikir karena dzikir. Karena ini akan membuatmu terperangkap dan terpesona di maqom yang akan memperlihatkan berbagai keajaiban karomah, apalagi dikala kau berdzikir supaya dilihat oleh orang bahwa kau itu orang yang sufi, alim, sholeh dan sebagainya. Astaghfirullah … Na’udzubillah …. Apalagi dengan hasil atau suatu keajaiban yang kau dapat, kemudian kau perlihatkan depan umum. Dimanakah harga dirimu, moralmu, kehormatanmu? Mungkin niatmu baik, tapi hati-hati! Sekecil biji jagung niat buruk muncul, maka niatmu yang baik tidak akan ada gunanya dan perbuatanmu itu hanya menggambarkan dosa.

Di lain itu, janganlah kau menganggap bahwasannya dirimu itu paling tawadhu’, paling baik, paling sufi. Sehingga niatan itu menjadi kejelekan yang dimana kau merendahkan hati agar ditinggikan oleh orang-orang. Perbuatan tersebut termasuk dari perbuatan yang hina dan kurang terpuji. Tidak semua ketawadhu’an itu asli niat dari dalam hati, bisa jadi itu karena nafsu agar mendapat pujian dari orang-orang. Na’udzubillah … Uushiikum wa iyyaya.

Tetapi dzikir yang hakiki yang mengantarmu dalam hubungan makrifat kepada Allah. Jangan pedulikan tentang keajaiban-keajaiban dzikir, yang terutamanya akan mendatangkan pujian dan gelaran orang kepadamu sebagai Sufi, Wali, Alim, Sholeh, dan sebagainya. Berdzikirlah daripada Allah, dengan Allah, kepada Allah, bersama Allah, untuk Allah dan demi Allah.

Tutuplah rapat-rapat pintu bibirmu, agar dzikir itu tidak terdengar oleh siapapun, walau malaikat yang bertugas mencatat amalmu di bahu kanan pun tidak tahu dimanakah munculnya dzikir itu. Cukup Allah Yang Maha Tahu, dzikir itu berada di dalam ‘Sirr-mu’(Lubuk rahasia Sirr batinmu).

Jika kau telah dapat menjalankan dzikir atas rasa ikhlas semata-mata kepada Allah dan Allah Ridha kepadamu, ketahuilah bahwa ikhlas itulah tauhid sebenarnya. Insya’Allah, Allah sendiri Yang akan Membimbingmu dan Mengajarkanmu dzikir yang khusus yang hanya kau saja yang mengetahui tentang rahasia dzikir itu. Dimana dzikir itu tidak diajarkan atau diketahui oleh orang awam, sebagai sarana untuk kau bertemu, mengenal dan bersama dengan-Nya.

Selain itu, tinggalkanlah semua dunia dan akhirat, tujukanlah kepada Allah dalam setiap tujuan dan niat. Kalaupun di antara dunia dan akhirat, maka kejarlah akhiratmu dan duniamu pun akan mengikuti. Kau harus mematikan wujud dirimu. Selagi ada wujud dirimu, maka dzikir yang hakiki ini mustahil dapat kau lakukan dengan sebaiknya. Dzikir hakiki itu tiada ingat mengingat lagi. Hanya dengan Allah dalam sudut hatimu yang terdalam serta dalam suasana paling diam dan hening tanpa perlu mengeluarkan sembarang ucapan dan hanya merasakan kehadiran Allah itu ada bersamamu dimana pun kau berada. Sehingga kau dapat bersatu dengan-Nya seperti terbakarnya besi ke dalam api, besi itu menjadi api, api itulah besi yang terbakar. Tidak kau lihat sesuatu sebelumnya melainkan Allah, tidak kau lihat sesudahnya melainkan Allah, tidak kau lihat sesuatu di dalamnya melainkan Allah.

Akhirnya tiada lagi wujud selain Allah di dalam maqom Insan Al-Kamil, sampai cukup masanya besi telah keluar dari api sebagai besi yang indah dan sempurna, tidak lagi sebagai besi yang bodoh dan berkarat serta berkebaikan buat kehidupan dunia saja. Uushiikum wa iyyaya.

Allahu Ta’ala A’laa wa A’lam.

Alfaqir, 11 November 2018

Leave a Reply