​Seminar Peta Keilmuan Islam – Madah Tafsir

Oleh : Afifah Thohiroh
Kairo – Seminar Peta Keilmuan Islam yang sudah dilaksanakan sejak Sabtu (23/12) telah mencapai pada penghujung acaranya pada Sabtu (13/01) di Aula Perwakilan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Mesir, Bawwabat 2, Hay Asheer, Madinat Nasr. Oleh Ustadz Taufik selaku pembawa acara membuka rangkaian acara pembuka. Ustadz Azzam sebagai moderator mempersilahkan Ustadz Shibgatullah Ahmad, Lc., Dipl. untuk menyampaikan materi tepat pukul 16.00 CLT. Madah Tafsir merupakan tema materi yang disampaikan Ustadz Shibghoh setelah lima pertemuan sebelumnya dengan frekuensi seminggu sekali diisi oleh materi Aqidah Filsafat, Syari’ah Islamiyah, Hadits, dan Lughoh serta Dirasat Islamiyah. 
Ustadz kelahiran Muara Rantau 26 Juni 1992 ini, sekarang berdomisili di Distrik Tujuh, Kairo. Ustadz Shibghoh sendiri menamatkan studi Sarjana nya di Universitas Al-Azhar, Mesir dengan jurusan Al-Qur’an dan Ilmu Tafsir (2014), dan melanjutkan S2 di universitas yang sama. Beliau memiliki motto dalam hidup, yang amat memotivasi beliau untuk terus memperdalam Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Motto tersebut adalah khoirukum man ta’allama-l-qur’aana wa ‘allamahu, yang berarti bahwa sebaik-baik dari manusia adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.

 

“Tafsir adalah ilmu yang sekarang banyak menarik orang untuk mempelajarinya.” ungkap beliau dalam awal penyampaian materinya sebagai pembuka kepada wawasan yang lebih luas. Beliau juga menyampaikan bahwa cara berfikir yang salah dalam setiap bidang keilmuan adalah menganggap suatu bidang tidak penting dan meninggalkan untuk mempelajarinya. Mempelajari Al-Qur’an dan tafsirnya adalah ibarat ingin meminum air barang seteguk, namun tenggelam dan menikmati dalamnya perairan. Bahwa, mempelajari Al-Qur’an yang amat luas akan terus menerus butuh pembaharuan terhadap banyaknya dan luasnya ilmu tersebut sehingga membuat manusia yang mempelajarinya terbawa untuk terus mempelajarinya.
Semua bidang keilmuan telah ada sejak zaman dahulu, begitu pula Ilmu Tafsir. Ilmu Tafsir telah ada sejak zaman diturunkannya Al-Qur’an dan dibagi kepada tiga fase, yakni; Zaman Nabi dan para sahabat; zaman Tabi’in (pengikut nabi); dan zaman Tadwin yakni zaman kepenulisan Al-Qur’an. Ilmu Tafsir ditinjau dari sumbernya dikategorikan menjadi dua yakni; Tafsir bi-l-ma’tsur atau Tafsir yang menggunakan kaitannya dengan hadits di setiap ayatnya serta; Tafsir bi-r-ro’yi yakni tafsir dengan pendapat sang mufassir dengan bersandar kepada syarat-syarat diperbolehkannya berpendapat dalam ilmu tafsir. Lalu terakhir, pembagian hadits dalam segi manhaj terbagi menjadi empat yakni; Tafsir Tahlili (Analisis), Tafsir Maudu’I (Tematik), Tafsir Ijmali (Ringkas), dan Tafsir Muqorin (Perbandingan).
Di sesi akhir materi, ustadz shibgoh memberi pertanyaan kepada sekalian peserta yang cukup membuat tercengang dan tertampar. Pertanyaan tersebut adalah, Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat lalu apakah telah sampai mukjizat-mukjizat tersebut pada hati dan kehidupan dunia? Yang padahal, orang terdahulu yang tidak ada iman terhadap AL-Qur’an pun selalu tergetar hatinya kala didengarkan lantunan tilawahnya. Sebagian besar dari Al-Qur’an yang membuat bani adam takjub adalah konteks bahasa dan epistimologi arab, yang sastrawan arab pun tidak akan bisa menandingi indahnya AL-Qur’an.

Fanpage fb:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2032414557025235&id=2022484538018237
Fanpage IG:

https://www.instagram.com/suara_ppmi/
#suarappmidaily

#suarappmimesir

#suara_ppmi

#pcimmesir