SEMA FBA – Senin (23/9/19), Senat Fakultas Bahasa Arab bekerjasama dengan kekeluargaan KSW dan Pojok Peradaban dalam mengadakan acara Bincang Sejarah dengan tema “Jejak Para Rasul di Zaman Mesir Kuno”. Pada kesempatan kali ini, saudara Miftah Wibowo sebagai founder dari Pojok Peradaban menjadi pemateri. “Adapun acara ini diadakan atas kolaborasi Senat FBA yang berkaitan dengan pendidikan, dan KSW yang mewakilili kedaerahan” Ujar Ahmad Khikam sebagai ketua Senat FBA. Sedangkan dalam sambutan ketua KSW Saiful Anas mengatakan bahwa acara ini diadakan dalam rangka meningkatkan minat sejarah yang dipaparkan langsung oleh pemateri Mas Miftah Wibowo yang berasal dari kekeluargaan KSW tepatnya daerah Tegal. Acara Bincang Sejarah dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama yang diadakan hari Senin (24/9/19), dan sesi kedua yang akan diadakan di sekitar awal Oktober.

Dalam materi yang dipaparkan oleh Mas Miftah bahwa wilayah Mesir kuno sama halnya dengan wilayah Mesir pada Masa ini, hanya saja ketika zaman Ali Pasha daerah Sudan menjadi wilayah Mesir kala itu. Mesir kuno dibagi menjadi wilayah-wilayah kecil yaitu Heliopolis, Memphis, Abidos, Thebes, dan Nekhen yang semuanya diambil dari bahasa Yunani, dimana setiap wilayah itu memiliki seorang penguasa atau raja. Setiap dari nama raja biasanya disandingkan dengan nama dewa, karena menurut kepercayaan bangsa Mesir kuno bahwa raja adalah perantara antara manusia dan dewa. Peradaban kala itu sudah lumayan maju, mereka sudah mengetahui matematika, astronomi, serta sudah menentukan 24 jam dalam sehari, dan 365 hari dalam setahun. Dan masa Mesir kuno sendiri dibagi menjadi tiga, yaitu Old Kingdom, Middle Kingdom, dan Modern Kingdom.

Penjelasan materi oleh Mas Miftah Wibowo (Sumber: Dok. SEMA FBA)

Baca juga: Sambutan Buya Cecep; Sekelumit Pesan dan Harapan untuk SEMA FBABeliau juga menyampaikan ada beberapa Rasul yang pernah hidup pada zaman Mesir kuno, salah satunya Nabi Idris As.  yang menerima ajaran dari Nabi Syit bin Adam, lalu  ada Nabi Ibrahim As. pada dinasti yang ke-12 yang menjadi saksi atas adanya wilayah Heliopolis (daerah Mathariyya sekarang), kemudian Nabi Yusuf As. yang menjadi menteri pertanian di masa raja Seusrenre Khyan (Rayyan dalam bahasa Arab) dalam menyiasati negeri yang dilanda 7 tahun subur lalu terjadi kekeringan, dan Nabi Musa sekitar dinasti 18 dan 19. Menurut riwayat yang ada, Firaun sendiri ditemukan  tenggelam di Danau Timsah atau sekitar Terusan Suez, bukan di Laut Merah yang selama ini kita tahu.

“Jika ada dua bukti, yang pertama dari al-Qur’an dan yang kedua dari bukti arkeologis, maka kita harus mengedepankan bukti al-Qur’an daripada bukti arkeologis dari sejarah itu sendiri dalam menyamakan peristiwa yang terjadi, karena kita sebagai Muslim yang memang berpedoman pada Qur’an. Namun uniknya, semua kejadian yang ada dalam Qur’an selalu sama dengan bukti arkeologis yang ada.” Ujar Mas Miftah setelah sesi pertanyaan di penghujung acara. Acara berlangsung lancar, dengan diakhiri oleh sesi pertanyaan dan perfotoan.

Para Peserta Kajian Sejarah (Dok. SEMA FBA)