Oleh: Zulia Misbach

“Orang yang sukses adalah ia yang fokus pada satu titik.”

Contoh kecil, Farah Queen sukses menjadi koki terkenal karena dia fokus dengan hobi memasaknya. Hingga ilmu dan kekereatifannya terus berkembang membuatnya menjadi ahli di bidang tersebut. Jonathan alias Mas Jojo, dia fokus pada hobinya berolahraga hingga menjadi sebuah keahlian dan menjadikannya sebagai seorang atlet internasional. Karena apa? Karena mereka fokus dan memaksimalkan nilai lebih yang ada pada dirinya. Dari dua contoh tersebut, apakah kita tahu bahwa Farah Queen dan Mas Jojo pernah tidak naik kelas? Satu kelebihan saja, bisa menutupi segala kekurangan seseorang. Maka di situlah fungsinya kenapa kita harus selalu bersyukur dengan cara mempertahankan nilai lebih yang ada pada diri kita. Fokus saja pada nilai lebihmu, maka kekuranganmu akan tertupi dengan semua itu.

Ada sebuah cerita yang begitu memotivasi aku. Seorang mantan ketua dari sebuah organisasi besar, dia sukses menjadi bagian terpenting dari sebuah kemajuan masyarakat di sekitarnya. Dengan sikapnya yang pandai berbaur dan menyampaikan ide-ide cemerlang dengan baik sehingga mudah diterima orang. Ternyata memiliki masa lalu kelam dalam akademiknya. Tapi apakah semua orang tahu? Tidak. Hanya beberapa orang terdekat yang mengetahui kegagalannya di bangku kuliah. Ketika aku menanyakan bagaimana bisa seperti itu? Dia menjawab: “Aku menjadi ketua setelah aku gagal di bangku kuliah. Saat itu temanku juga gagal, namun dia lebih memilih keluar dari organisasi dan memfokuskan hidupnya hanya untuk belajar (mengasingkan diri). Berbeda dengan aku, yang juga sama-sama gagal. Aku malah menjadi ketua dalam organisasiku. Dari situ aku banyak kenal dengan orang-orang hebat dan pastinya memicu aku untuk terus berkembang dalam akademik.

Organisasi aku jadikan ajang terbesar silaturahmi termasuk mengenal orang-orang hebat yang mahir dalam dunia akademik. Singkat cerita, ketika aku sudah melakukan banyak hal dengan organisasiku dan lulus kuliah dengan nilai yang baik. Aku bertemu dengan teman yang dulu gagal bersamaku. Dia juga lulus dengan baik, sama seperti aku. Tetapi bedanya dia hanya lulus dengan nilai baik, tanpa pengalaman apapun dalam perjalanan kuliahnya. Dia memelukku dengan erat dan menyesali kenapa dulu harus pergi meninggalkan sebuah kelebihan yang dimilikinya; pandai bersosial. Ketika aku fokus dengan belajar, aku memang lulus dengan nilai yang baik tetapi tidak bisa menjadi yang terbaik. Andai dulu aku tetap mempertahankan organisasiku, pasti pengalamanku semakin banyak. Linkku semakin meluas. Tapi sekarang? Jangankan link yang luas, orang-orang yang aku kenal dulu saja sudah terasa asing untuk aku dekati. Seperti itulah singkatnya. Dia menceritakan penyesalannya. Kelebihannya tidak berkembang dan dia hanya menjadi manusia biasa karena fokus pada kekurangannya.”

Logikanya, kekurangan selamanya akan menjadi kekurangan. Itulah keadilan Tuhan. Allah sudah dengan adil membagikan kelebihan dan kekurangan di setiap jiwa manusia. Agar mereka saling melengkapi dari nilai lebih yang dimilikinya. Mereka akan menjadi seorang yang ahli dalam suatu bidang karena memaksimalkan nilai lebihnya. Sedang kekurangannya hanya bisa tertutupi, tidak akan bisa berubah menjadi kelebihan. Karena, hanya membuang-buang waktu jika memfokuskan diri pada sesuatu yang sulit untuk kita raih. Hidup terlalu singkat, untuk berjuang lama seperti itu. Toh malah membuat kita tidak bersyukur pada akhirnya. Bukankah lebih indah jika memfokuskan dirimu pada nilai lebihmu? Membuatmu cepat berkembang, dikenal dengan satu keahlian, dan keahlianmu menjadi aset terbesar yang membuat mu menjadi bagian terpenting dalam sebuah kemajuan bangsa.

Terkadang orang kerap meremehkan nilai lebih, karena memandang sesuatu formalitas menjadi dewa akan semua hal. Sehingga alam bawah sadar kita pun termindset dengan hal-hal yang dianggap baik menurut budaya. Apakah hobi memasak itu bukan nilai lebih? Apakah hobi bermain musik itu bukan nilai lebih? Apakah hobi menulis itu bukan nilai lebih? Itulah bedanya masyarakat Indonesia dengan negara maju. Walaupun kita tidak terlalu jauh tertinggal, namun Indonesia masih kategori rakyat yang minim apresiasi terhadap nilai lebih yang dimiliki anak bangsa. Bukan hanya dari apresiasi pemerintah melainkan apresiasi dari kedua orangtuanya sendiri. Yang dominan masih suka memaksa sang buah hati untuk mahir dalam bidang yang mereka kehendaki. Dan meremehkan bakat yang sejak lahir dimiliki sang buah hati.

Berbicara tentang nilai lebih itu sendiri. Aku yakin semua orang pasti memilikinya. Apa nilai lebihmu? Kembangkan! Maksimalkan! Itu yang menjadi sejarah dikenangnya kau dengan manusia. Tekuni saja, sembari terus berproses. Biarkan kata orang yang masih meremehkan kegiatanmu. Asal kau yakin itu positif terus tekuni. Dan buat mereka tercengang dengan keberhasilanmu. Tidak mungkin semua manusia sukses dalam semua bidang. Itulah kenapa Allah berikan nilai lebih yang berbeda-beda pada hambaNya. Teruslah berjuang.

Sumber: https://wp.me/p9p2jq-2f