Bismillâhirrahmânirrahîm

Dewan Ulama Senior Al-Azhar Al-Syarif telah mengikuti dengan seksama apa yang diperbincangkan akhir-akhir ini tentang beberapa ketetapan valid dalam Syariat yang mana beberapa orang mencoba untuk menghinakan dan merendahkan hukum-hukumnya, sementara sebagian yang lain berusaha untuk mereduksi nilainya dengan mengeluarkannya dari lingkup ketetapan yang pasti (muhkam) kepada ranah dugaan (zhanniy).

Di antara perkara yang telah tetap dan pasti diketahui sebagai bagian dari agama namun batasannya telah dilampaui oleh orang-orang menyesatkan tanpa ilmu itu adalah; pembagian Al-Qur`an Al-Karim yang telah tetap terhadap harta warisan, khususnya yang berkaitan dengan bagian perempuan di dalamnya, yang telah disebutkan dalam dua ayat yang jelas dan tegas di dalam Kitab Allah yang agung, di dalam Surat Al-Nisa`. Hal ini telah menjadi kampanye keji dan zalim terhadap agama serta melewati batas-batas logika dan keadilan.

Akal pendek yang dimiliki sebagaian orang, serta khayalan-khayalan mereka yang jauh dari agama dan hukum-hukumnya, telah membuat mereka menyangka bahwa Islam telah menzalimi kaum perempuan ketika tidak menyamakan hak waris perempuan dengan laki-laki secara mutlak, dan bahwa perempuan —yang menurut mereka terzalimi— seharusnya mendapat bagian yang sama dengan laki-laki dan tidak ada perbedaan sedikitpun.
Atas dasar khayalan yang bertentangan dengan ketetapan Al-Qur`an yang bersifat pasti baik dari segi riwayat dan petunjuknya itu, dan yang mereka anggap sebagai bentuk pembelaan terhadap hak-hak perempuan karena kebodohan mereka terhadap rincian yang bijak berkenaan bentuk-bentuk warisan perempuan di dalam Islam yang terkadang perempuan mendapat bagian lebih besar dari laki-laki bahkan terkadang perempuan mendapat warisan sedangkan laki-laki tidak mendapatkannya; maka mereka pun menuntut ke sana-sini agar dibuat undang-undang yang menyamakan secara mutlak antara warisan perempuan dengan laki-laki, dan membuang semua hukum-hukum Al-Qur`an yang telah tegas dan terang!
Dan beranjak atas dasar tanggung-jawab keagamaan yang mana Al-Azhar Al-Syarif telah terlibat sejak lebih dari seribu tahun dalam isu-isu Bangsa Arab dan umat Islam, dan keinginan untuk menjelaskan fakta-fakta ajaran agama secara jelas di hadapan massa umat Islam di seluruh dunia; maka Al-Azhar Al-Syarif dengan kewajiban yang dipikulnya untuk menjelaskan agama Allah Swt. dan menjaga Syariat dan hukum-hukumnya, tidak akan menunda-nunda dalam menunaikan perannya, dan tidak akan terlambat dari kewajiban untuk menunjukkan hukum Allah Swt. bagi kaum muslimin di berbagai belahan dunia, serta menerangkannya dalam setiap kasus dan kejadian yang berkaitan dengan kehidupan keluarga dan sosial mereka.

Maka di sini Al-Azhar menegaskan: bahwa teks-teks agama di antaranya ada yang menerima ijtihad dari para ulama spesialis ilmu Syariat dan ada pula yang tidak menerima hal itu. Maka jika teks-teks tersebut telah tetap dan pasti riwayat dan maksudnya, maka ia tidak menerima ijtihad dan tidak juga berubah seiring berubahnya waktu, tempat dan keadaan. Misalnya seperti ayat-ayat warisan yang disebutkan dalam Al-Qur`an Al-Karim, yang sekarang sebagian orang mencoba untuk mempermainkannya dan mengutak-atik kembali pembagian warisan yang telah disebutkan Al-Qur`an agar sesuai dengan pendapatnya sendiri, bukan sesuai dengan apa yang dibawa oleh Syariat berupa hukum-hukum yang telah tetap dengan teks-teks yang pasti ketetapan riwayat dan maksudnya tanpa ada keraguan sedikit pun; maka dalam konteks ini tidak ada lagi peluang untuk diterapkan ijtihad.
Al-Azhar Al-Syarif sebelum ini telah berkali-kali menegaskan bahwa hukum-hukum yang seperti ini tidak menerima pembahasan berdasarkan khayalan liar dan tesis-tesis yang bertabrakan dengan kaidah serta ketetapan agama, juga tidak disandarkan kepada ilmu yang benar; pembahasan batil seperti ini akan dapat memprovokasi umat Islam yang berpegang teguh dengan agama mereka, sekaligus membuka pintu untuk merusak stabilitas masyarakat, hal ini mengandung kerusakan yang jelas dan tidak pernah kita harapkan bagi siapapun selamanya.

Adapun teks-teks yang bersifat dugaan (multi-interpretasi), maka pintu ijtihad dan pemikiran terbuka baginya, hanya saja ijtihad terhadap teks-teks tersebut hanya boleh dilakukan oleh para ulama spesialis yang telah dikenal keluasan ilmu, agama dan kesalehan mereka.
Wahai kaum muslimin di Timur dan Barat, bacalah akhir ayat warisan yang berbunyi:

﴿فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ﴾ (النساء [4]: 11).
“Ini adalah kewajiban (ketetapan) dari Allah.” (QS. Al-Nisa` [4]: 11).

Kemudian Firman Allah Swt. setelah itu:

﴿تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيم ◙ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ﴾ (النساء [4]: 13-14).
“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah Memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. ◙ Dan Barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (QS. Al-Nisa` [4]: 13-14).

Demikianlah, Al-Azhar Al-Syarif memperingatkan —kaum muslimin di belahan Timur dan Barat— dari hasutan ini serta para pengusungnya, dan menolak dengan tegas segala usaha yang berupaya untuk melanggar atau mempermainkan —sedikit atau banyak— Akidah dan hukum-hukum Syariat kaum muslimin.

Hendaknya semua orang menngetahui bahwa misi Al-Azhar Al-Syarif khususnya yang berkaitan dengan penjagaan terhadap hukum-hukum agama Allah Swt. dan penjelasannya terhadap masyarakat, adalah misi global yang tidak dibatasi oleh batas-batas geografis, atau arah pandang umum maupun khusus, di mana tanggung-jawab itu dipikul oleh orang-orang yang disebutkan ayat Al-Qur`an bahwa mereka adalah:

﴿الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ﴾ (الأحزاب [33]: 39).
“Orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.” (QS. Al-Ahzab [33]: 39).

Semoga Allah Swt. selalu Menjaga Al-Azhar dan Menjadikannya sebagai penjaga yang penuh amanah terhadap agama umat, dan keselamatannya dari berbagai fitnah dan kejahatan.

***
Sumber:
Like & Share Pusat Terjemah Al-Azhar (y)
http://www.azhar.eg/act/id

Leave a Reply