Oleh: Ust. Fakhry Emil Habib, Lc., Dipl. (Wakil Presiden PPMI MESIR 2017-2018)

Bismillah

Para ulama-ulama besar pun masih taklid. Makanya hendaknya kita harus takut untuk mengaku mampu mentarjih, mampu mengkomparasikan mazhab, apalagi berijtihad.

Mengetahui kualitas keilmuan pribadi adalah langkah untuk mendapatkan ilmu. Sebab orang yang tutup mata dari kebodohan diri adalah orang sombong. Dan kesombongan adalah satu dari dua penyakit yang menghalangi masuknya ilmu ke dada.

Imam Nawawi rahimahullah, yang keilmuannya luar biasa, yang hafalan hadisnya konon lebih dari 350.000, yang tulisannya tak hanya berisi ilmu namun juga dihiasi sastra karena kepiawaian beliau dalam Bahasa Arab, masih rendah hati untuk menyebut dirinya sebagai pengikut Imam Syafi’i, -rahimahullah-

Begitu pula Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Amirul mukminin fil hadis, juga merupakan salah satu ulama yang menisbatkan diri kepada mazhab Syafi’i,

Keduanya adalah ulama hadis terbesar. Imam Nawawi menulis al-Minhaj, syarah Sahih Muslim paling muktamad. Sedangkan Imam Ibnu Hajar menulis syarah Sahih Bukhari paling paten, Fathul Bari.

Andai memang mazhab Syafi’i tidak sesuai sunah, tidak sejalan hadis, tentu dua ulama besar hadis inilah yang akan lebih dahulu menolak mazhab dan memilih langsung kembali pada Quran-Sunah. Tetapi tidak! Meski mereka ulama hebat, mereka masih sadar akan batas kemampuan diri.

Sedangkan ustadz-ustadz sekarang, yang hafalan Qurannya patah-patah, yang hafalan hadisnya tak lebih dari empat puluh, yang kemampuan Bahasa Arabnya memprihatinkan, malah dengan sombong dan berani mengatakan bahwa pendapat ulama mazhab itu tidak ada gunanya untuk diikuti.

Jika Imam Nawawi saja -yang kecerdasannya seperti saya gambarkan di atas- masih butuh kepada fikih Imam Syafi’i, lalu kenapa ustadz-ustadz baru ini malah berani sekali bersifat tinggi hati?

Memang, bahwa Al-Quran dan hadis merupakan sumber utama dalam beragama. Namun perlu diketahui pula, bahwa keduanya akan sulit dipahami tanpa keilmuan yang memadai, karena keduanya disampaikan dengan sastra tingkat tinggi, juga dengan pilihan kata yang sangat teliti, sehingga kita butuh seseorang dengan keilmuan mantap untuk membantu kita mengamalkan dua sumber pokok ini.

Itulah yang dilakukan oleh Para Imam Mazhab -rahimahumullah-, yang mengorbankan waktu mereka untuk mendalami Al-Quran, menguasai ratusan ribu hadis, memantapkan Bahasa Arab selama bertahun-tahun, sehingga mereka bisa menulis mazhab, sebagai intisari praktis yang bisa langsung kita gunakan, tanpa harus bersusah payah lagi.

Jika masih berkeras untuk langsung merujuk kepada Al-Quran dan Sunnah, silakan! Namun pastikan, bahwa Anda sudah menguasai Quran, menguasai ratusan ribu hadis, memantapkan Bahasa Arab lisan dan tulisan, mengerti cara berlogika sehat. Dalam artian, silakan merujuk langsung kepada Quran dan Sunnah jika keilmuan Anda sudah selevel dengan Imam Ibnu Rif’ah, Imam Subki, kalau perlu Imam Syafi’i.

Jika Anda tidak mampu, -dan saya rasa zaman sekarang tidak akan ada lagi yang mampu-, maka mazhab yang sudah ada sajalah yang harus diikuti.

Karena keabsahannya terjamin, berabad-abad telah teruji.

Analoginya, jika Seiichiro Honda harus kehilangan kaki untuk menguji motor ciptaannya, haruskah kita juga kehilangan kaki?

Jika para Imam sudah berkorban banyak demi menghasilkan intisari yang bisa langsung kita praktekkan, haruskah kita juga harus mengulang dari nol? padahal hasil yang kita cari sudah ada di depan mata, tinggal diikuti.

Mempelajari fikih melalui salah satu mazhab -terutama mazhab yang empat- adalah hal mutlak, apalagi jika keilmuan kita memang jauh dari kata memadai, karena hanya ada dua golongan sombong yang merasa berhak untuk langsung mengambil hukum dari Quran dan Sunnah tanpa ilmu yang cukup; (kita sama-sama tahulah. Tak perlu saya sebutkan di sini).

Kita yang sadar diri, ambillah jalan yang selamat. Apa itu? Itulah jalan yang sudah dilalui dan dibuka oleh ulama yang keilmuannya teruji.

Kembali lagi ke awal: Jika Imam Nawawi masih butuh merujuk kepada ijtihad Imam Syafi’i, lalu mengapa kita yang lemah ini merasa sombong untuk mampu berijtihad sendiri?

Saya ingin tegaskan, bahwa mazhab fikih yang dibangun para Imam tidaklah dilandaskan pada khayalan. Mazhab tersebut merupakan intisari dari Al-Quran dan hadis yang mereka susun secara sistematis agar kita yang tidak paham Quran dan hadis tetap bisa beramal sesuai dengan petunjuk keduanya. Tolong dipahami, 🙂

Semoga kita bisa menyadari sejauh mana batas diri.

Semoga kita bisa menghormati ulama, yang merupakan pewaris para Nabi, -Alaihimussalam-

Mohon maaf jika ada kata yang tidak pas serta kekurangan sana-sini,

Semoga Allah selalu menuntun kita untuk jadi lebih baik.. ^_^

Pesan :

  • 3 mazhab lain selain mazhab Syafi’i pun memiliki ahli hadis di dalamnya, sehingga mustahil bertentangan dengan wahyu
  • Jika saudara mengikuti majlis ilmu, kemudian ustad pengisi majlis tersebut mulai mengatakan bahwa kita tidak perlu mengikuti Imam Mazhab, maka tolong ingatkan ustad tersebut tentang kerendahhatian seorang Imam Nawawi, dan bagaimana kita harus lebih rendah hati lagi 🙂
  • Jika berkenan, sebarkan kepada sahabat-sahabat yang memiliki keinginan besar untuk belajar agama : agar mereka belajar dengan cara yang pas dan jalan yang benar, agar hasilnya pun tidak “bagai bunga kembang tak jadi” 🙂

Untuk Fakhry Mar-i Fathaniy dan kawan-kawan yang sedang giat mengikuti kajian keislaman. Semoga bisa belajar dari guru yang alim dan arif dik 🙂

Sumber: FB

Leave a Reply