Kairo, 10 Juli 2019 | Auditorium Imam Al-Bukhari Fakultas Ushuluddin menjadi saksi keberhasilan Ustadz Ahmad Ikhwani Syamsuddin memperoleh gelar doktoral dalam bidang hadits dan ilmu hadits dengan predikat cemerlang Martabah al-Syaraf al-Ula setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul Syarh al-Syaikh al-Zurqani ‘ala al-Mawahib al-Ladunniyyah (Min Awwali Bab Ghazwati Badr al-‘Uzhma ila Akhiri Ghazwati Uhud) Dirasah wa Ta’liq wa Tahqiq, di hadapan majelis sidang yang terdiri dari: Prof. Dr. Mushtafa Abu Imarah (Supervisor I), Prof. Dr. Syahatah Abdullatif (Supervisor II), Prof. Dr. Ahmad Ma’bad Abdul Karim (Penguji Internal) dan Prof. Dr. Subhi Abdul Fattah Rabi’ (Penguji External).
Sidang berlangsung selama hampir empat jam, mulai dari pukul 11.00 pagi hingga pukul 14.30 Waktu Kairo. Dalam proses pengujian, kedua munaqisy menguji pemahaman Ustadz Ahmad Ikhwani dan sejauh mana ia dapat mempertanggung-jawabkan karya disertasi yang ia tulis. Ada banyak pujian, saran perbaikan dan kritikan penting yang diterima dari masing-masing guru besar itu. Apalagi medan yang digarap adalah kitab dalam bidang Sirah Nabawiyah, yang membutuhkan autentifikasi mendalam pada setiap riwayat-riwayat yang sampai kepada umat Islam saat ini.

Mughni, Ketua Senat Ushuluddin Rifki Ramdani dan kawan-kawan
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan penguji eksternal Prof. Dr. Subhi banyak berkisar pada ranah penelitian sanad (dirasatul isnad). Adapun penguji internal Prof. Dr. Ahmad Ma’bad Abdul Karim yang digelari Syaikh al-Muhadditsin bi al-Diyar al-Mishiriyyah (gurunya para muhaddits seantero Mesir) memuji kemampuan yang dimiliki Ustadz Ahmad Ikwani yang tidak banyak dimiliki peneliti zaman sekarang, yaitu kekuatan dalam menganalisa pendapat-pendapat yang berbeda dan ketepatannya dalam mentarjihkan yang paling kuat menurutnya. Bahkan guru besar itu memuji: “Anak saya ini telah berupaya keras dan tekun selama lima tahun tanpa henti menuliskan disertasi ini. Saya melihat bahwa ketika ia kembali ke negerinya kelak, ia telah mempunyai senjata paling ampuh yang pernah ada dalam studi hadits. Tidak kurang sesuatu apapun. Saya tidak bilang ia tidak akan salah, tapi senjatanya lengkap.”

Prof. Dr. Mustofa Abu Imarah selaku pembimbing utama menyimpulkan bahwa apa yang disampaikan kedua penguji jika diibaratkan dengan sebuah bangunan maka berkisar dalam tiga aspek. Pertama, aspek pondasi yang berkenaan dengan kerangka pokok dan manhaj penulisan karya ilmiah. Kedua, aspek dinding suatu bangunan yang berkenaan dengan ketajaman dan substansi karya tersebut. Ketiga, aspek dekorasi bangunan yang berkenaan dengan gaya penulisan. Pada aspek pertama, Ustadz Ahmad Ikhwani telah memberikan yang terbaik. Adapun bahwa banyak koreksi dan kritika pada aspek kedua dan ketiga tidaklah lantas mengurangi bobot disertasi yang ditulisnya itu.

Di akhir, Prof. Syahatah Abdullatif sebagai pembimbing kedua mengumumkan hasil munaqasyah disertasi ini di hadapan ratusan hadirin yang memenuhi auditorium siang itu: “Majelis sidang sepakat memutuskan untuk menganugerahkan kepada peneliti bernama Ahmad Ikhwani Syamsuddin gelar ilmiah doktoral dengan nilai Martabah al-Syaraf al-Ula (Summa Cumlaude).” Pengumuman hasil itu disambut riuh tepuk tangan dan kesyukuran semua hadirin.

PPMI Mesir berbahagia atas lahirnya pakar hadis baru dari Universitas Al-Azhar yang akan siap mengabdi untuk bangsa dan negara.

Selamat kepada Dr. Ahmad Ikhwani, M.A.! Semoga ilmunya bermanfaat dan masisir yang sedang proses belajar mampu mengikuti jejak beliau dalam kelancaran studi hingga menamatkan S3.


Rep: Muhammad Zainuddin Ruslan.

Sumber: http://www.ppmimesir.id/2019/07/berhasil-raih-doktoral-ustadz-ahmad.html