Poin-poin yang disampaikan Grand Syaikh Al-Azhar dalam pidatonya pada Konferensi “Forum Aliansi Agama untuk Keamanan Masyarakat” yang digelar di Abu Dhabi dengan tema “Martabat Anak dalam Dunia Digital”:

– Anak-anak adalah para pemuda masa depan, pemimpin di era yang akan datang serta pemikul tanggung jawab di seluruh umat dan bangsa yang senantiasa mengharapkan kekuatan dan kemajuan.
– Islam menjadi pionir dalam membuat undang-undang yang paling komprehensif dan memadai bagi kemaslahatan anak dan hak-haknya, di mana tidak ada undang-undang serupa yang menyamainya dalam tatanan manapun.
– Perhatian Islam terhadap anak-anak telah diberikan semenjak mereka belum menjadi janin di kandungan ibu mereka hingga mencapai usia pria dan wanita dewasa.
– Undang-undang modern masih perlu belajar kepada ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Islam dan agama-agama lain secara umum terkait dengan hak-hak anak.
– Orang-orang yang membolehkan aborsi terhadap janin yang cacat untuk menghindari derita psikis yang mungkin akan menimpa keluarganya di masa mendatang, adalah orang-orang tersesat yang berlari mengejar fatamorgana.
– Solusinya bukanlah membolehkan aborsi terhadap janin yang cacat, namun mendirikan yayasan-yayasan modern untuk menampung anak-anak yang dilahirkan dengan berbagai cacat dan ketidaksempurnaan, serta memastikan kehidupan yang baik untuk mereka.
– Syariat Islam menetapkan seorang ibu Kristen atau Yahudi untuk mengasuh anak muslim, dan tidak mengharuskan ayah dan keluarganya yang muslim untuk mengasuh anak tersebut.
– Tidak ada perbedaan di antara ulama Islam dalam pengharaman yang tegas atas tindak pidana terhadap anak, begitu pula keharaman atas dukungan terhadap tindak pidana tersebut dengan bentuk dan sarana apapun.
– Saya menyeru untuk dirumuskannya program sekolahan yang edukatif, yang dapat menanamkan pada diri anak-anak tentang penggunaan optimal terhadap tekhnologi modern dalam dunia digital.
– Ada berbagai upaya internasional yang patut disyukuri dan diapresiasi dalam melindungi anak-anak, tetapi beberapa di antaranya tidak sesuai dengan budaya Timur yang berdasarkan pada pondasi-pondasi agama dan stabilitas neraca etika.
– Saya menyerukan dilanjutkannya upaya-upaya dalam membentuk “Aliansi Agama dan Keyakinan untuk Keamanan dan Keselamatan Masyarakat” guna merumuskan sistem etika global bersama yang melindungi hak-hak anak, perempuan dan pemuda.
– Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada negara Uni Emirat Arab yang menggelar konferensi besar ini, bertepatan dengan perayaan Hari Anak Internasional.

***

Grand Syaikh Al-Azhar sekaligus ketua Dewan Cendekiawan Muslim, Prof. Dr. Ahmad Al-Thayyib menyampaikan pidato pada hari Selasa di akhir acara “Forum Aliansi Agama untuk Keamanan Masyarakat: Martabat Anak dalam Dunia Digital” yang diselenggarakan oleh Uni Emirat Arab di bawah asuhan Yang Mulia Syaikh Muhammad bin Zayed Al Nahyan, pangeran mahkota Abu Dhabi.

Berikut ini adalah teks lengkap pidato Grand Syaikh Al-Azhar:

***

Bismillâhirrahmânirrahîm
Hadirin yang mulia.
Assalâmu ‘Alaikum wa Rahmatullâhi wa Barakâtuh

Tidak diragukan lagi di dalam agama-agama dan ketentuan-ketentuan yang dikenal manusia pada zaman dahulu dan sekarang, bahwa anak-anak adalah para pemuda di masa depan, pemimpin di era yang akan datang dan pemikul tanggung jawab dalam setiap umat dan bangsa yang mengharapkan kekuatan dan kemajuan.
Sulit untuk berbicara mengenai korpus terkait ajaran anak-anak dari segi hak, perlindungan dan perawatannya, tanpa menyebutkan kepeloporan Islam dalam bidang ini dengan berbagai hukumnya, di mana dalam banyak sisinya, undang-undang Islam lebih komprehensif dan memadai bagi kemaslahatan dan hak-hak anak. Saya tidak menyatakan demikian untuk memuji Syariat Islam dan perhatiannya kepada anak-anak —yang diberikan— semenjak mereka belum menjadi janin di kandungan ibu mereka hingga mereka menjadi lelaki dan wanita dewasa. Akan tetapi saya mengatakan itu untuk mengingatkan bahwa undang-undang modern —terlepas dari upaya yang patut disyukuri dan diapresiasi— masih perlu belajar kepada ajaran-ajaran yang ditetapkan oleh agama Islam ini dan agama-agama lain secara umum dalam urusan perlindungan terhadap mahluk yang lemah ini.
Keunggulan bagi Syariat Islam adalah, ia telah memberi perhatian kepada masalah hak anak-anak sejak masa yang sangat lampau, yaitu pada masa di mana kesadaran manusia belum siap untuk —sekedar— memikirkan tema semacam ini, bahkan kebrutalan manusia pada masa-masa itu medorong orang tua untuk membunuh dan mengubur hidup-hidup anak perempuan mereka di dalam tanah, sementara mereka menganggap bahwa dengan itu mereka sedang melakukan kebaikan.

Hadirin sekalian.

Ulama Islam sepakat bahwa Syariat Islam didasarkan pada penjagaan atas lima tujuan, yang untuk tujuan itu, Allah telah Mengutus para Rasul dan Menetapkan berbagai Syariat, kelima tujuan itu adalah: Menjaga Agama, Menjaga Keturunan, Menjaga Akal, Menjaga Nyawa dan Menjaga Harta. Kelima tujuan ini merupakan pondasi dari setiap masyarakat manusia yang mengharapkan stabilitas dan ketenangan jiwa. Syariat Ilahi telah meliputi kelima pilar tersebut dengan ketentuan (hukum) yang ketat; Pertama: untuk mewujudkannya, dan Kedua untuk melindunginya dari segala gangguan terhadapnya.

Sehubungan dengan tujuan “Menjaga keturunan”, Islam telah mengharamkan zina, penodaan kehormatan, pelecehan perempuan, membunuh anak dan mengubur anak perempuan hidup-hidup. Menjaga keturunan inilah yang diungkapkan dalam konferensi kita hari ini dengan tema: “Pemuliaan Anak”, hal itu pula yang diliputi Syariat Islam dengan berbagai hukum yang tidak ditemukan padanannya dalam sistem perundang-undangan, sistem kemasyarakatan atau falsafah manapun.

Bukti atas fakta tersebut bisa kita temukan dari perhatian Islam terhadap kemaslahatan anak semenjak ia berada di alam gaib, di mana Islam telah memberikannya hak-hak yang harus ditunaikan ayahnya, mulai dari memilih ibu dari kalangan yang sekiranya ia tidak diolok-olok di antara rekan-rekan di masa kecilnya. Lalu ketika anak lahir, wajib bagi ayahnya untuk memilihkan baginya nama yang tidak menjadikannya bahan ejekan dan penghinaan di kalangan anak-anak, dan agar ia tidak merasa terkucilkan, terasing dan terisolasi. Dan Nabi Muhammad Saw. telah menyadari akan bahaya penamaan —buruk— bagi anak-anak serta efek negatifnya terhadap mereka, sehingga beliau secara pribadi mengubah nama anak-anak jika di dalam nama mereka tersimpan sugesti yang dapat menyakiti perasaan anak, baik itu anak lelaki maupun perempuan. Diriwayatkan bahwa sahabat Umar bin Al-Khatthab Ra. memiliki anak perempuan bernama “’Ashiyah” (perempuan ahli maksiat), kemudian Nabi Saw. menamainya dengan “Jamilah” (perempuan yang cantik), sebagaimana beliau mengubah nama “Harb” (peperangan) menjadi “Silm” (perdamaian), “Al-Mudhthaji’” (yang tidur terlentang) menjadi “Al-Munba’its” (yang bangkit), bahkan beliau mengubah nama sebuah kabilah seutuhnya dari “Bani Mughwiyah” (yang menyesatkan) menjadi “Bani Rasyadah” (yang mendapat petunjuk/berakal).
Perhatian Islam terhadap hak-hak anak sampai pada derajat menjaga bagiannya dalam warisan meski ia masih berupa janin di kandungan ibunya. Islam juga mengharamkan kekerasan yang membahayakan hidup janin dan mengganggunya dalam kondisi apapun, kecuali satu kondisi saja yaitu jika keberadaan janin tersebut menyebabkan bahaya yang nyata terhadap nyawa ibunya, dalam kondisi ini diperbolehkan melakukan aborsi sesuai dengan pengamalan kaidah Syariat yang menetapkan kewajiban memilih salah satu bahaya yang lebih ringan dari dua perkara yang sama-sama berbahaya, dan menghilangkan perkara yang bahayanya lebih besar dengan menempuh perkara yang bahayanya lebih kecil. Selain kondisi tersebut, tidak diperbolehkan mengaborsi anak selama ia sudah bernyawa, apapun kondisi dan alasannya, sebab kehormatan nyawa anak saat di dalam kandungan ibunya, setara dengan kehormatan nyawanya setelah dilahirkan. Jika kita membolehkan aborsi anak secara hidup-hidup sebelum lahir karena alasan ketidak-sempurnaan, maka kita juga harus membolehkan untuk membunuhnya setelah ia lahir karena alasan ketidak-sempurnaan akibat kecelakaan atau penyakit yang parah. Saya pikir tidak ada orang berakal yang menerima pembunuhan anak-anak atau orang dewasa yang ditakdirkan menderita penyakit-penyakit tersebut.
Pendapat yang membolehkan aborsi janin yang cacat untuk menghindari derita psikis yang mungkin akan menimpa keluarganya di masa mendatang, adalah pendapat yang tidak benar, sebab kehidupan ini tidak akan terlepas dari rasa sakit dalam hal apapun. Orang-orang yang menginginkan kehidupan yang terbebas dari rasa sakit dan air mata, maka sejatinya mereka sedang bermimpi atau mengejar fatamorgana. Solusinya bukanlah dengan memperbolehkan pengguguran janin yang cacat, namun dengan mendirikan yayasan-yayasan modern untuk menampung anak-anak yang dilahirkan dengan berbagai cacat dan ketidak-sempurnaan, memastikan kehidupan yang baik untuk mereka, dan membahagiakan keluarga mereka.

Contoh lain yang membuktikan perhatian Syariat Islam terhadap pengasuhan anak adalah, jika ada anak terlahir dari seorang ayah Muslim dan ibu Kristen atau Yahudi, kemudian kedua orang tuanya bercerai karena suatu alasan, maka Syariat Islam menetapkan bagi sang ibu Kristen atau Yahudi untuk mengasuh anak Muslim itu dan tidak memberikan hak pengasuhan anak kepada ayah dan keluarganya yang Muslim, hal itu sesuai dengan sabda Nabi Saw.:
(مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ وَالِدَةٍ وَوَلَدِهَا فَرَّقَ اللهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَحِبَّتِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ).
“Barang siapa yang memisahkan antara ibu dan anaknya, maka Allah akan memisahkan antara dirinya dan orang-orang dicintanya di hari kiamat.”
sekaligus sebagai bentuk pengamalan terhadap kaidah Syariat yang menetapkan bahwa “Hak manusia didahulukan atas hak Allah”.
Bahkan Nabi yang mulia ini melarang pemisahan antara ibu dan anaknya dalam dunia binatang dan burung. Diriwayatkan bahwa suatu ketika beliau sedang dalam perjalanan bersama para sahabatnya, salah seorang dari mereka melihat seekor induk burung bersama dengan anaknya, kemudian sebagian sahabat mengambil anak burung itu dan memasukkannya ke dalam sangkar, sang induk pun mengepak-ngepakkan sayapnya dan terbang mengitari sangkar, saat mengetahui kejadian itu, Nabi Saw. marah dan menegaskan:
(مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بِوَلَدِهَا؟ رُدُّوْا وَلَدَهَا إِلَيْهَا)
“Siapa yang menyakiti induk burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikan anak burung itu kepada induknya.”
seakan-akan induk burung itu meminta pertolongan Nabi dan Nabi-pun menolongnya.

Hadirin yang mulia.

Ketika saya berbicara mengenai kepeloporan Islam dalam masalah hak-hak anak, maka bukan berarti kita hanya mencukupkan diri dengannya atau merasa puas atas apa yang tertulis di dalamnya tanpa melibatkan apa yang ditambahkan oleh perjanjian-perjanjian, kesepakatan-kesepakatan dan protokol-protokol modern terkait masalah ini, karena saya menyadari bahwa anak-anak pada era sekarang ini menghadapi masalah yang sangat kompleks yang tidak dihadapi oleh anak-anak pada masa lalu, seperti masalah jual-beli anak, pemindahan anggota tubuh anak-anak miskin kepada anak-anak orang kaya, perekrutan mereka dalam konflik bersenjata, pencucian otak mereka untuk melakukan tindakan terorisme, pengeksploitasian mereka dalam kejahatan seksual, perdagangan anak-anak yang tidak bersalah dalam iklan dan materi pornografi, pembatasan mereka dalam hak belajar, dan pemaksaan mereka dalam pekerjaan-pekerjaan yang tidak sesuai dengan usia mereka, sampai pada masalah-masalah lain yang ditimbulkan oleh problematika terbesar, yaitu kemiskinan, konflik di negara-negara berkembang, invasi media sosial dan pengaruh globalnya, kurangnya kontrol atas penggunaan anak-anak terhadap media-media tersebut, disertai dengan ketidakmampuan untuk merancang program sekolah yang edukatif, yang dapat menanamkan pada diri anak-anak bagaimana cara penggunaan seharusnya dari perangkat ini, serta kejahatan-kejahatan moral dan tidak manusiawi lainnya yang tidak diperdebatkan keharamannya oleh ulama dan fukaha Islam, begitu pula keharaman melakukannya atau mendorongnya dalam bentuk dan cara apapun.

Benar, pembicaraan saya mengenai kepeloporan Islam dalam masalah anak tidak bermaksud untuk mengecilkan upaya-upaya internasional yang patut disyukuri dan diapresiasi dalam masalah ini, namun saya ingin menyimpulkan sebuah perkara yang menurut saya sangat penting untuk diungkapkan sebelum mengakhiri pidato ini, yaitu bahwa pasal-pasal dari kesepakatan modern terkait hak-hak anak telah dibuat dalam iklim peradaban yang neraca keagamaan dan kulturalnya sedikit atau banyak berbeda dari ikim peradaban lain, dan bahwa pasal-pasal tersebut mengandung ungkapan-ungkapan terbuka yang memungkinkan banyak penafsiran, di antaranya ada yang diterima oleh kultur tertentu namun tidak diterima oleh kultur-kultur lain.

Oleh karena itu, perumusan konsep hak asasi manusia dan hak-hak anak —menurut saya— haruslah mempertimbangkan prinsip-prinsip budaya Timur yang didasarkan pada pondasi agama dan stabilitas etika. Ini adalah hal yang penting dan serius, bukan hanya untuk menghormati karakter berbagai umat dan bangsa semata, namun juga untuk menjaga kesatuan internal dari sistem-sistem masyarakatnya, serta memungkinkannya untuk mewujudkan pertukaran peradaban yang sepadan dan harmonis antara Timur dan Barat.
Hadirin sekalian.

Al-Azhar Al-Syarif —baik Masjid dan Universitasnya— turut berpartisipasi hari ini dalam forum yang sangat penting ini, dan menyerukan dilanjutkannya upaya untuk membentuk “Aliansi Agama dan Keyakinan untuk Keamanan dan Keselamatan Masyarakat” yang akan merumuskan tatanan-tatanan etika universal bersama yang dapat melindungi hak-hak anak, hak-hak perempuan dan melindunginya dari kekerasan, penguasaan dan eksploitasi dalam perdagangan seks atau bentuk pelanggaran apapun terhadap kemanusiaannya, sebagaimana dapat melindungi pemuda dari segala hal yang menghilangkan kesadaran nalar, moral dan agama, terutama semua perkara yang mendorongnya jatuh ke dalam kubangan terorisme dan ekstremisme atas nama agama. Al-Azhar siap memperkuat peran para ulama dan tokoh agama serta berada dalam sentralitas peran ini untuk merumuskan tatanan-tatanan tersebut, sekaligus bekomitmen untuk menindaklanjuti dan memberikan evalusi terus menerus.

Sebagai penutup, ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus —saya sampaikan— kepada negara Uni Emirat Arab yang menggelar konferensi besar ini, bertepatan dengan perayaan Hari Anak Internasional tanggal 20 November setiap tahunnya.

Dan terima kasih banyak kepada seluruh pihak yang telah berlembur dan bersusah-payah guna menggelar konferensi dalam format yang indah dan terhormat ini.
Terima kasih atas perhatian anda sekalian.

Wassalâmu ‘Alaikum wa Rahmatullâhi wa Barakâtuh.

***

Like & Share: Pusat Terjemah Al-Azhar (y)
www.azhar.eg/act/id

Leave a Reply