– Grand Syaikh Al-Azhar mengucapkan selamat kepada presiden Al-Sisi dan bangsa Mesir yang luhur beserta semua bangsa Arab dan umat Islam, atas perayaan Maulid Nabi Sang Pembawa Nilai-nilai Kemanusiaan.
– Sebagian orang yang mengintai Sunnah dan mengingkari ketetapannya, meskipun aliran dan selera mereka berbeda-beda, namun mereka memiliki kesamaan dalam keraguan dan kebimbangan mereka terhadap para perawi Hadits.
– Para ulama dan cendekiawan umat telah menghabiskan segenap usia mereka untuk menyaring riwayat-riwayat Sunnah yang sahih dari yang tidak sahih.
– Ilmu “Isnâd” (periwayatan Hadits) dan Ilmu “Rijâl” (pengetahuan tentang para perawi) adalah ilmu yang tiada bandingnya pada non-muslim, hal tersebut telah diakui oleh para cendekiawan Eropa terkemuka.
– Nabi Yang Mulia telah memperingatkan sejak 13 abad silam, akan adanya orang-orang yang mengaku mengikutinya tapi menyeru untuk menjauhi Sunnah-nya dan mencukupkan dengan Al-Qur`an saja.

Berikut ini adalah teks pidato Grand Syaikh Prof. Dr. Ahmad Al-Thayyib, Syaikh Al-Azhar Al-Syarif:

***
Bismillâhirrahmanirrahim.

Yang terhormat Bapak Presiden Abdul Fattah Al-Sisi, Presiden Republik Arab Mesir.
Hadirin yang mulia!

Assalâmu ’Alaikum wa Rahmatullâhi wa Barakâtuh..

Saya sangat bahagia kepada anda dan bangsa Mesir yang luhur, serta segenap bangsa Arab dan umat Islam: para raja, pemerintah dan masyarakatnya, untuk menyampaikan sebaik-baik ucapan selamat akan datangnya peringatan Maulid Nabi Sang Pembawa Nilai-nilai Kemanusiaan dan Nabi Perdamaian. Shalawat dan salam senantiasa tercurah baginya dan bagi saudara-saudaranya dari para Nabi dan Rasul.

Peringatan ini, yang membangkitkan kesadaran setiap muslim dan kesadaran setiap orang yang mengenal Nabi mulia ini serta mengenal sejarah hidup dan berita-berita tentangnya kemudian benar-benar menghargainya, adalah pertanda dari kenangan agung dan para pembesar yang telah mengubah sejarah serta menyelamatkan manusia, memperbaiki jalan hidupnya dan menjadi penghubung dengan cahaya langit untuk menerangi bumi.

Nabi yang memiliki kemuliaan tinggi dan wibawa agung ini, yang sedang dirayakan kelahirannya pada hari ini oleh sekitar satu sepertiga miliar pengikutnya di seluruh penjuru Timur dan Barat bumi, Beliau memiliki lebih dari sekedar hak dan kewajiban atas kita sebagai orang-orang yang beriman kepada Beliau dan mendapat manfaat dari sunnah, ajaran dan arahan-arahan Beliau; karena Beliau Saw. bukanlah orang besar dari satu sisi saja di antara berbagai sisi kebesaran manusia yang menarik perhatian dan mencengangkan akal, akan tetapi Beliau adalah akumulasi kebesaran dari setiap sisinya, yang mengharuskan penghormatan dan pemuliaan di setiap masa dan segala aspek.

Meskipun mustahil dalam pidato yang terbatas waktu dan ruangnya ini, untuk mengumpulkan salah satu aspek saja dari kebesaran Nabi Muhammad Saw. yang luas dan beragam, yang terkumpul pada diri manusia sempurna ini, namun saya berharap sambutan saya ini cukup lapang untuk menyinggung sebuah perkara lama yang terbaharui, yang dari dekat atau jauh berkaitan dengan momen —peringatan Maulid Nabi— yang mulia ini. Perkara tersebut adalah: teriakan-teriakan yang selalu menyerukan keraguan terhadap nilai Sunnah Nabi dari sisi ketetapannya dan kedudukannya sebagai dalil, serta serangan terhadap para perawinya: dari para Sahabat, Tabi’in dan yang datang setelah mereka, dan tuntutan untuk menyingkirkan Sunnah dari lingkup pensyariatan dan hukum, baik secara keseluruhan maupun sebagian, dengan mencukupkan untuk berpegang kepada Al-Qur`an Al-Karim saja, dalam setiap apa yang kita lakukan baik berupa ibadah dan muamalah, sedangkan apa yang tidak kita temukan telah tercantum di dalam Al-Qur`an, maka kaum muslimin bebas dari ikatan haram dan kewajiban.
Seruan ini pertama kali muncul di era modern kita, di India, sejak akhir abad ke-sembilan belas, seruan ini diikuti oleh tokoh-tokoh terkenal di sana; di antara mereka ada yang pada akhirnya mengaku sebagai Nabi, ada yang berpihak kepada kolonial dan ada yang mengingkari semua Hadits Nabi baik yang mutawâtir maupun yang bukan mutawâtir, ia beranggapan bahwa Sunnah tidak memiliki nilai legislasi di dalam Islam, dan bahwa Al-Qur`an satu-satunya sumber hukum yang tidak ada sumber selainnya, dengan membuang apa yang telah disepakati kaum muslimin bahwa Sunnah harus selalu beriringan dengan Al-Qur`an, karena jika tidak, maka hilanglah tiga-perempat agama ini. Mereka memberi contoh untuk itu, misalnya: rukun kedua Islam setelah Dua Kalimat Syahadat adalah: Shalat. Sebagaimana diketahui bahwa shalat telah ditetapkan di dalam Al-Qur`an, tetapi tidak ada satupun ayat —sepanjang-lebar Al-Qur`an— yang dengannya seorang muslim bisa mengetahui tata-cara shalat lima waktu, dan tidak ada pula —ayat yang membicarakan— jumlah rakaat, sujud, gerakan-gerakannya, mulai dari takbiratul ihram sampai salam pada tasyahud akhir. Rincian ini tidak mungkin dijelaskan dan diketahui kecuali dari Sunnah Nabi yang menjadi sumber kedua di antara sumber-sumber hukum dalam Islam. Ketika orang yang mengingkari dasar hukum Sunnah ini diminta mendatangkan dalil untuk gerakan-gerakan shalat dari Al-Qur`an saja sehingga kaum muslimin dapat mengikutinya, dia pun —dengan tenggelam pada logika yang terdesak— mengatakan: “Sesungguhnya Al-Qur`an tidak memerintahkan kita kecuali menegakkan shalat, adapun tata-cara pelaksanaan shalat diserahkan kepada kepala negara untuk menjelaskannya dengan bantuan para penasihatnya, dengan disesuaikan pada kondisi waktu dan tempat.”
Di arah inilah para penjilat kolonial itu berjalan, mereka mengingkari ayat-ayat jihad dan memfatwakan haramnya melawan para penjajah, mereka mengingkari semua yang diingkari oleh kebudayaan Barat sekalipun itu adalah agama, dan mereka menetapkan apa yang ditetapkan oleh kebudayaan Barat meskipun bertentangan dengan Islam dan konsensus (ijmak) kaum muslimin.

Tak lama kemudian fitnah ini beralih ke Mesir, dan seorang dokter di penjara Thurrah yang fanatik kepada pendapat ini menerbitkan dua artikel di majalah Al-Manar pada tahun 1906 M. dan 1907 M. dengan judul: “Islam adalah Al-Qur`an saja”. Pemikiran ini mendapat dukungan dari beberapa penulis yang mengintai Sunnah Nabi dan mengingkari ketetapannya.

Orang-orang ini meskipun aliran dan selera mereka berbeda-beda, namun mereka memiliki kesamaan dalam keraguan dan kebimbangan mereka terhadap para perawi Hadits dan mengabaikan upaya ilmiah yang sangat penuh dengan kedisiplinan, di mana para ulama dan tokoh-tokohnya telah menghabiskan segenap usia mereka, dan menetaskan air mata mereka demi satu tujuan, yaitu menyaring riwayat-riwayat Sunnah yang sahih dari yang tidak sahih. Hal itu dilakukan dengan penelitian cermat —tiada banding— yang sangat luar biasa dalam sejarah para perawi dan sejarah perjalanan keilmuan dan akhlak mereka, hingga tumbuhlah dengan tangan mereka sebuah ilmu yang independen dari ilmu-ilmu lainnya, sebagai hasil pelacakan, investigasi dan penelitian yang akurat, yang dikenal oleh para ulama dengan “Ilmu Isnâd” atau “Ilmu Rijâl”. Ilmu yang tiada bandingnya bagi non-muslim baik dulu dan sekarang, tokoh-tokoh terkemuka dari para ilmuwan Eropa yang telah mempelajari Sunnah Nabi telah menjadi saksi untuk hal itu, bahkan seorang orientalis Jerman, Aloys Sprenger, berkata: “Seluruh isi dunia belum pernah melihat dan tidak akan pernah melihat sebuah umat seperti kaum muslimin. Ia telah dipelajari dengan keutamaan Ilmu Rijâl yang telah mereka susun dari kehidupan setengah juta orang.” Seorang orientalis besar Inggris, Margaliuoth, bahkan berkata dalam salah satu ceramahnya tentang ilmu ini: “Walaupun Teori Isnâd’ yang dimiliki para ulama Hadits telah menyebabkan banyak kesusahan karena penelitian yang diperlukan untuk mencatat verifikasi masing-masing perawi Hadits, tetapi nilai teori ‘Isnâd’ dalam kaitannya dengan akurasi Hadits Nabi tidak dapat diragukan, dan umat Islam berhak membanggakan Ilmu Hadits di antara ilmu-ilmu mereka.”
Perkataan objektif ini tidak keluar dari para cendekiawan Barat —terlepas dari kesulitan mereka akan hal itu— kecuali setelah kepayahan dan perjuangan yang panjang dalam mempelajari, meneliti, mengeksplorasi, dan setelah menjadi jelas bagi mereka bahwa sejarah tidak mengetahui sosok yang lain selain Muhammad Saw., yang semua fakta kehidupannya telah tercatat; demikian juga semua perbuatannya, perkataannya, perjalanannya, etika dan adat istiadatnya hingga model pakaiannya, garis wajahnya, cara berbicaranya, berjalannya, makannya, minumnya, tidurnya, senyumnya, pergaulannya dengan keluarganya, temannya, musuh-musuhnya, dan lain sebagainya yang telah memenuhi buku-buku sumber biografi dan sejarah.

Saya akhiri pidato saya dengan kembali ke ribaan pemilik peringatan ini Saw. untuk melontarkan pertanyaan yang penuh dengan kekaguman dan keheranan: Siapa yang mengabarkan kepada Nabi yang mulia ini: bahwa akan ada orang-orang yang merasa mengikutinya —setelah lebih dari tiga belas abad— yang menyerukan penyingkiran Sunnahnya dan mencukupkan dengan Al-Qur`an saja; untuk memperingatkan kita tentang perbuatan mereka, jauh berabad-abad sebelum mereka lahir. Di dalam sebuah Hadits sahih, beliau Saw. bersabda:

(يُوشِكُ رَجُلٌ مِنْكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ يُحَدَّثُ بِحَدِيثٍ عَنِّي فَيَقُولُ: “بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللَّهِ فمَا وَجَدْنَا فِيهِ مِنْ حَلَالٍ اسْتَحْلَلْنَاهُ وَمَا وَجَدْنَا فِيهِ مِنْ حَرَامٍ حَرَّمْنَاهُ” أَلَّا وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلُ الذي حَرَّمَ اللَّهُ).

“Akan ada salah satu dari kalian dengan duduk di atas kursinya meriwayatkan Hadits dariku dengan berkata: ‘Di antara kami dan kalian ada Kitab Allah, apa yang kita dapati halal di dalamnya kita halalkan, dan apa yang kita dapati haram di dalamnya kita haramkan’. Ketahuilah! sesungguhnya apa yang diharamkan Rasulullah Saw. seperti apa yang diharamkan oleh Allah.”

Bukankah ini sebuah bukti di antara bukti-bukti kenabiannya Saw. dan sebuah mukjizat di antara mukjizat-mukjizatnya?!

Bapak Presiden yang saya muliakan!
Saya ulangi ucapan selamat kepada anda, dan memohon kepada Allah Ta’ala untuk menambahkan tekad, taufik dan ketepatan kepada anda. Semoga Allah Swt. Melindungi anda untuk Mesir, dan Melindungi Mesir melalui anda.
Semoga setiap tahun anda semua dalam kebaikan.

Wassalâmu ‘Alaikum wa Rahmatullâhi wa Barakâtuh

***
Sumber:
Like & Share Pusat Terjemah Al-Azhar (y)
http://www.azhar.eg/act/id

Leave a Reply