Pada Tanggal: 13-15 Safar 1440 H.
Bertepatan dengan: 22-24 Oktober 2018 M.

*****

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam bagi junjungan kita Rasulullah, keluarganya dan para Sahabat Ra. serta mereka yang diberi petunjuk dengan petunjuknya.

Tuan-tuan yang berada di panggung!
Para tamu yang terhormat!
Hadirin yang mulia!

Assalâmu ’Alaikum wa Rahmatullâhi wa Barakâtuh

Selamat datang di Mesir, negeri yang terjaga, tempat pertemuan banyak peradaban, tempat tumbuhnya berbagai ilmu dan budaya, lembah sungai Nil, negeri piramida, dan negeri Al-Azhar Al-Syarif institut ilmiah tertua dan guru bagi banyak universitas. Selamat datang… Semoga anda semua dalam keadaan baik, dengan perjalanan dan tempat bersinggah yang baik.
Terima kasih dari Al-Azhar beserta lembaga-lembaganya atas kesediaan anda untuk berpartisipasi dalam Simposium Internasional ini sebagai salah satu dari Seminar-Dialog antara Timur dan Barat, di mana saya harapkan menjadi seminar yang berbuah dan bermanfaat dalam membahas hubungan antara Islam dan Barat, dengan pembahasan yang didasarkan pada keterusterangan dan keterbukaan, dan memperhatikan kondisi buruk yang sedang dihadapi oleh bangsa kami di sini, di Timur, yang memerlukan pemikiran para cendekiawan dan pengaturan orang-orang bijak seperti anda sekalian.

Hadirin dan hadirat!

Saya telah lama memikirkan kalimat yang layak untuk disumbangkan pada simposium ini, saya mendapati diri saya berada dalam keadaan yang mirip dengan kondisi orang yang terpaksa berbicara tentang masalah yang diulang-ulang, yang sudah banyak pembicaraan disampaikan tentangnya, telah terbit banyak pernyataan dan rekomendasi yang tidak bisa diabaikan dalam ajakan untuk dialog antar-peradaban, dan keharusan bertemu pada urusan bersama demi menyelamatkan dunia kontemporer kita dari bahaya konflik dan kedamaian yang terancam; perang kemarin yang dingin dan perang hari ini yang berapi-api. Terlepas dari upaya yang mesti diapresiasi dari para cendekiawan Barat dan Timur, hanya saja jalan ini masihlah keras, dan upaya yang lebih besar harus dikerahkan. Saya telah merenungkan paradoks yang tidak masuk akal ini antara kenyataan dan yang diharapankan. Tampak bagi saya bahwa sebabnya mungkin karena adanya hambatan-hambatan di jalan dialog, dan bahwa fokus terhadap hambatan-hambatan ini baik secara diagnosa dan pengobatan, mungkin lebih berguna dan lebih singkat untuk perjalanan panjang ini. Dari perspektif inilah pidato saya datang untuk berkontribusi pada simposium kali ini, yang akan saya ringkas dalam sesuatu yang serupa dengan pemikiran, renungan serta impian di tengah hari.

Hal pertama yang ingin saya tekankan —di hadapan anda semua— berkaitan hal ini adalah: keyakinan saya bahwa agama dan peradaban Timur tidak memiliki masalah dengan Barat, baik jika kita tilik Barat dalam pengertian Kristennya yang terwujud dalam lembaga-lembaga besar keagamaannya, atau dalam pengertiannya sebagai peradaban ilmiah materialis. Hal itu bertolak dari sejarah peradaban Timur dan sikap-sikapnya yang konstan dalam menghormati agama dan sains, dari manapun tempat asalnya dan siapa pun ilmuwan dan orang yang beriman tersebut.

Saya kira persoalan ini tidak butuh bukti dan dalil; peradaban Andalusia di jantung Eropa kuno, keterbukaan Al-Azhar untuk semua lembaga-lembaga besar agama di Eropa saat ini, dan respons serius yang penuh tanggung-jawab dari institusi-institusi Barat ini, adalah bukti terkuat bagi kemungkinan pendekatan antara komunitas Muslim di Timur dan komunitas Kristen serta sekularisme di Barat., dan bahwa pendekatan ini telah terjadi dan mungkin untuk terjadi; sehingga tidak seperti apa yang dikatakan oleh seorang penyair —bernama— Kipling bahwa: “Timur itu Timur dan Barat itu Barat, tidak akan pernah bertemu selamanya.”

Di sini saya teringat penelitian terbaru oleh beberapa orang Barat yang peduli dengan masalah dialog Islam-Kristen, mereka menyerukan untuk menghadirkan tipe sejarah Andalusia dengan tiga budayanya: Yahudi, Kristen dan Islam, untuk menginspirasi dengan contoh tersebut dalam memetakan proses dialog yang terjadi saat ini dan merancang “Kerangka teoritis dan praktis untuk aturan dan tujuan dasar dari dialog ini.” Khususnya setelah upaya-upaya Barat kontemporer disambut oleh upaya-upaya Timur untuk mendorong proses dialog antara Islam dan Barat, di antaranya: Keputusan-keputusan dari Konsili Vatikan Kedua (1962-1965) dan kunjungan Paus Paulus VI ke beberapa negara Arab terutamanya Negara Palestina, dan Deklarasi PBB yang melakukan proyek aliansi peradaban pada tahun 2004 yang mendorong diadakannya konferensi dialog internasional di Barat dan Timur, serta kunjungan Paus Francis ke Mesir (April lalu), dan partisipasinya dalam pembukaan Konferensi Internasional Al-Azhar untuk Perdamaian, serta pertukaran kunjungan antara Al-Azhar dan Uskup Agung Canterbury, Dewan Gereja-gereja se-Dunia di Jenewa dan Gereja Protestan di Jerman. Para tokoh-tokoh khusus tersebut telah merasakan —apa yang dirasakan oleh setiap orang yang perhatian dengan masalah “Kedamaian yang Hilang”— berupa kesusahan dan kepayahan yang menjadi batu penghalang bagi upaya yang dikerahkan baik dalam kancah lokal dan maupun internasional, yang menjauhkannya dari hasil yang diinginkan dari pertemuan-pertemuan ini.

Hal yang menguatkan keyakinan saya bahwa tidak ada masalah bagi Timur atau Islam dengan Barat adalah: realitas yang tengah kita jalani, dengan segala manis-pahitnya dan baik-buruknya, sejak terbukanya pintu kaum muslimin bagi Barat dalam dua abad terakhir dan sampai hari ini. Maka sejak saat itu umat Islam telah bersandar kepada sesuatu yang tidak sedikit dari peradaban Barat dalam kehidupan mereka, baik secara teoritis maupun praktis. Dan inilah sekolah-sekolah kami, universitas-universitas kami dan bahkan sekolah-sekolah asing anak-anak kami, di mana —yang memprihatinkan— mereka berbicara bahasa Inggris, Perancis dan Jerman lebih baik daripada bahasa Arab yang merupakan bahasa ibu, ayah dan tanah air mereka. Saya katakan: lembaga-lembaga pendidikan ini mendiktekan kepada anak-anak kami pelajaran-pelajaran sains dan sastra lebih banyak dari yang dipelajari oleh para mahasiswa Eropa di universitas–universitas mereka di Barat. Dan inilah Universitas Al-Azhar, satu-satunya universitas yang bangga mempelajari warisan Islam beriringan dengan kurikulum pendidikan Barat modern di fakultas kedokteran, teknik, farmasi, sains, pertanian dan lain-lain. Universitas ini memiliki fakultas yang mengajarkan berbagai bahasa asing, mengajarkan literaturnya di berbagai jurusan ilmiah yang beragam, dan nama-nama pelopor sastra Barat di berbagai sekolahnya bergema di aula-aulanya. Bahkan lebih jauh lagi saya katakan: “Sesungguhnya jurusan-jurusan sastra Arab di universitas kami mengajarkan para mahasiswa Arabnya, Muslim dan non-Muslim, semua aliran kritik yang dikenal di Barat, demikian juga jurusan-jurusan filsafat mengajarkan mahasiswa mereka semua doktrin filsafat Barat. Bahkan saya katakan lebih jauh lagi: bahwa saya telah belajar filsafat di Fakultas Ushuluddin (Teologi) pada tahun enam-puluhan abad yang lalu dari para guru yang mulia, yang mana mereka telah belajar di universitas-universitas Eropa dan menerima ijazah tinggi mereka dari tangan para profesor Eropa, mereka telah menanamkan dalam diri kami rasa hormat kepada para profesor tersebut, —juga menanamkan— penghormatan dan pengakuan atas kemuliaan mereka sekalipun jika kami berbeda dengan mereka.” Toleransi yang para guru kami tekun untuk mendisiplinkan kami dengannya ini, bukanlah cerminan dari apa yang mereka pelajari dari universitas-universitas Barat dengan kadar apa yang terefleksikan oleh filsafat Islam dalam hubungannya dengan yang lain: baik dari sisi “dipengaruhi” ataupun “mempengaruhi”. Dan inilah filsuf muslim, Ibnu Rusyd, yang dikenal oleh universitas-universitas di Barat dan diketahui perannya untuk Eropa pada Abad Pertengahan, di mana ia membahas secara otentik dalam teks yang sangat indah —yang saya tidak bosan menyebutkannya— dalam keharusan pertimbangan rasional dan keharusan terbukanya kaum muslimin terhadap kebudayaan lain, serta kebutuhan untuk mengambil manfaat dari upaya para pendahulu dalam semua ilmu, termasuk ilmu filsafat sebagai ilmu paling “berbahaya” dalam ketersinggungannya dengan keyakinan dan agama. Ibnu Rusyd berkata dalam teks ini: “Jika kita menemukan sebuah teori tentang hal-hal yang ada dari orang-orang sebelum kita (….) kita harus melihat apa yang mereka katakan tentang hal itu, dan apa yang mereka tetapkan dalam buku mereka: maka apa yang sesuai dengan kebenaran, kita terima dari mereka, kita senang dengan hal itu dan berterima kasih kepada mereka. Dan apa yang tidak sesuai dengan kebenaran, kita tunjukkan hal itu, kita peringatkan dan maafkan mereka”.

Apa yang dikatakan Ibn Rusyd dalam teks ini tidak untuk basa-basi bagi dirinya atau orang lain, tetapi mengungkapkan sebuah pokok yang kokoh di antara dasar-dasar Islam yang mendorong untuk mencari kebenaran, berterima kasih kepada orang yang menemukannya dan memaklumi orang yang gagal menemukannya. Inilah yang sangat kita hafal dari —Hadits— Nabi Islam Saw. bahwa mujtahid yang benar mendapat dua pahala dari Allah Swt. yaitu pahala kesulitan dalam mencari kebenaran dan pahala menemukan kebenaran, sedangkan mujtahid yang tidak menemukan kebenaran dalam ijtihadnya mendapat satu pahala, yaitu pahala kepayahan dan kesusahan dalam pencarian itu. Maka pencari kebenaran dan yang kompeten untuk menemukannya, dalam filsafat Islam itu selalu: diapresiasi atau dimaafkan. Saya tidak berpikir bahwa ada persamaan lain yang mencapai tingkat toleransi kepada orang lain seperti yang dicapai oleh persamaan ini.

Siapa di antara anda —wahai para tamu mulia— yang akan mengunjungi kampus-kampus lama Al-Azhar kami di distrik Al-Azhar lama, untuk melihat sekolah yang mengajarkan bahasa-bahasa Eropa kepada siswa-siswa kami yang merupakan para guru masa depan, dan mempersiapkan yang terbaik dari mereka untuk studi pascasarjana di universitas-universitas Eropa. Dan di bawah payung Kantor Grand Syaikh Azhar Al-Syarif, Pusat Kebudayaan Inggris, Pusat Kebudayaan Perancis dan Goethe Institut Jerman, juga turut serta berkontribusi dalam manajemen dan pengawasan sekolah tersebut.
Inilah kurikulum Al-Azhar dengan orisinalitas dan keterbukaannya yang sadar terhadap kebijaksanaan di mana pun ia temukan, itulah yang membentuk “Nalar Azhari” yang moderat dalam pemikiran serta perilakunya, dan selalu mampu beradaptasi dengan zaman, berbagai masalah dan tuntutannya.

Hal lain yang mungkin tersembunyi bagi banyak orang dalam hubungan antara Timur dan Barat adalah, bahwa banyak aspek budaya dan peradaban Eropa saat ini telah mengakar ke dalam budaya Timur kita di semua bidangnya, baik politik, pendidikan, sosial dan artistiknya, dan bahwa perbedaan antara dua budaya hampir saja terbatas hanya dalam bidang agama, keyakinan dan yang berkaitan dengan keduanya berupa nilai-nilai, tradisi sejarah dan budaya saja; yang tidak dapat dihindari oleh setiap bangsa atau umat yang setia pada budaya mereka, serta melindunginya dari serangan, pemudaran dan kepunahan.

Hadirin dan Hadirat!

Anda mungkin setuju dengan saya, setelah narasi ini, bahwa sebuah pertanyaan mengetengahkan dirinya di sini, yaitu: Di mana Islam yang tertutup bagi dirinya sendiri ini, yang terkunci di masa lalunya, yang mana para pengikutnya merupakan ancaman terhadap peradaban Barat dan pencapaiannya yang besar dalam ilmu alam semesta dan manusia?! Di manakah terdapat bangsa Muslim yang memiliki satu saja pabrik senjata pemusnah massal, atau satu sumber kekuatan kekerasan yang mengekang dan dapat dikatakan bisa menggetarkan kekuatan internasional yang —sangat disayangkan— memiliki kebebasan tanpa batas untuk mengatakan apa yang mereka inginkan dan melakukan apa yang mereka mau, dan mengacungkan tongkat besarnya ke siapa pun yang menentangnya atau berani berpikir untuk mengoreksinya?!

Masalah sebenarnya —dalam asumsi saya— mungkin benar dan mungkin tidak, terletak pada kekuatan global ini, yang dipenuhi dengan rasa arogansi, perasaan berhak untuk menguasai orang lain dan mengendalikan mereka untuk mencapai kepentingan dan manfaatnya sendiri, yang berangkat dari perasaan bahwa ia adalah peradaban tertinggi, paling murni dan pemilik hak mutlak dalam kedaulatan dan kepemimpinan berbagai bangsa.

Dan inilah dalih sebenarnya yang digunakan oleh kolonial zaman dahulu yang dengannya membenarkan serangannya terhadap nasib berbagai bangsa dan kekayaan mereka.

Saya —wahai tuan-tuan yang mulia— termasuk orang yang percaya dengan perkenalan, integritas dan kerjasama antar-budaya. Hal itu saya pelajari dari Al-Qur`an yang saya hafal sejak kecil, bahwa “Perkenalan” adalah hukum relasi antara umat dan bangsa-bangsa, yang itu —tertuang— dalam ayat yang dikenal oleh kaum Muslim dan non-Muslim baik di Timur dan Barat, yaitu Firman Allah Swt.:
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾ (الحجرات [49]: 13).
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami Menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di Sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).
Sebagaimana saya pelajari juga dalam warisan keilmuan kaum muslimin dan persinggungannya dengan budaya Yunani, India dan filsafat-filsafat agama di Abad Pertengahan.

Tidak pernah terpikirkan bahwa abad ke-20 yang merupakan abad kemajuan peradaban, kemajuan manusia, abad hak asasi manusia dan piagam perdamaian internasional, akan berakhir dengan munculnya teori dan doktrin yang membuka jalan bagi perang antar-bangsa dan membenarkan pertentangan antar-peradaban. Telah kita dengar sejak lama “Teori Pertentangan Kasta” yang telah hilang dan berlalu bagai angin, kemudian “Teori Akhir Sejarah” dan “Teori Huntington” tentang Benturan Peradaban. Dan ini adalah teori-teori yang asal-usulnya kembali ke tesis-tesis penuh rasisme murni, di antaranya adalah tesis Max Weber seorang sosiolog dan ekonom Jerman (1864-1920) yang telah meninggal hampir satu abad lalu; ia membangun teorinya dengan klaim bahwa: Sesunggguhnya “Perbandingan peradaban Barat dengan peradaban manusia lainnya membuktikan keunikan peradaban Barat dengan karakteristik istimewa yang tidak memiliki bandingan di antara peradaban lainnya, dan bahwa karakteristik peradaban Barat tidak dikenal oleh budaya manusia mana pun di luar budaya Barat”.

Kemudian datanglah orientalis Inggris yang terkenal, Bernard Lewis, untuk menegaskan dalam bukunya berjudul “Islam”, bahwa ia adalah orang pertama yang meluncurkan gagasan “Benturan Peradaban” pada tahun 1957 M., sehari setelah nasionalisasi Terusan Suez oleh Mesir di bawah kepemimpinan mendiang Gamal Abdul Nasser, yang mengantarkan bangsa Mesir kepada Perang “Serangan Tiga Negara” pada tahun 1956 M. Kemudian Lewis kembali lagi dengan ide ini pada tahun 1990, dan dia berbicara tentang dunia Arab dan Islam untuk menegaskan kembali bahwa perkara Barat terhadap Islam adalah perkara benturan peradaban yang nyata dan bersejarah, dan bahwa benturan Barat terhadap agama ini dan peradabannya di antara peradaban lainnya —sebagaimana yang ia katakan— adalah: ”Reaksi terhadap musuh lama warisan Yahudi dan Kristen kita,” kemudian dia berkata: “Sesungguhnya, benturan peradaban merupakan fenomena penting dari hubungan internasional modern.”

Hadirin dan Hadirat!

Saya harap kata-kata saya tidak dipahami bahwa saya melemparkan semua kesalahan kepada Barat dan peradabannya. Di Timur juga ada kekurangan dan hal-hal negatif yang berkontribusi pada penguatan fenomena Islamofobia yang telah menyebar baru-baru ini di antara masyarakat Barat. Yang paling serius dari aib ini adalah keheningan yang mencurigakan terhadap terorisme yang memungkinkan gerakan politik bersenjata untuk menghubungkan antara Islam dengan kejahatan terorisnya, dan memberikan nama-nama agama di berbagai organisasi mereka, yang telah menarik banyak pria dan wanita muda yang tertipu oleh penampilan agamis yang palsu ini, bahkan telah menetap di benak mayoritas orang Eropa dan Amerika bahwa kekerasan dan Islam adalah si kembar yang berasal dari satu persusuan dan tidak akan terpisahkan kecuali akan bersatu kembali.
Sulit untuk menjelaskan kebenaran kepada Barat dan orang-orang Barat, bahwa agama ini secara paksa telah diculik untuk melakukan kejahatan terorisme yang keji di hadapan pemeluknya dan para penganutnya. Dan bahwa kaum muslimin yang digambarkan dengan kekerasan dan kebrutalan mereka itulah —bukan selain mereka—yang telah menjadi korban terorisme hitam ini; dan bahwa mengikuti sebab-sebab terorisme dan mencari alasan utamanya, bukanlah tempatnya di dalam Islam ataupun agama-agama samawi, tetapi tempat yang tepat adalah sistem global yang memperdagangkan agama, nilai-nilai, etika dan adat-istiadat, di pasar senjata, persenjataan, politik rasialis penuh kebencian dan neo-kolonialisme.

Terima kasih atas perhatiannya.
Wassalâmu ’Alaikum wa Rahmatullâhi wa Barakâtuh

Grand Syaikh Al-Azhar
Ahmad Al-Thayyib

12 Safar 1440 H.
21 Oktober 2018 M.

Sumber: Pusat Terjemah Al-Azhar