Pesan Prof. Dr., Ayman al-Hajjar Kepada Maba Indonesia “Khususnya” dan Seluruh Penuntut Ilmu “Umumnya”
___________________________________________

Segala puji hanya milik Allah, Dzat Pencipta segalanya. Sholawat nan Salam semoga senantiasa tersenandungkan kepada Nabi Pembaharu sekaligus Pemersatu, satu-satunya Nabi yang bergelar Paripurna. Tentu sudah menjadi kebahagiaan dan kemuliaan tersendiri bagi kita apabila manjadi sekaligus diakui sebagai sebagai umatnya. Bagaimana tidak, jika dalam kepribadiannya, terdapat suri tauladan yang baik dan patut untuk kita tiru agar senantiasa kita berada dalam keadaan tenteram, aman dan nyaman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا {الأحزاب/٢١}

Ada satu point penting yang menurut penulis agak sedikit menarik untuk dipaparkan kepada pembaca sekalian mengenai laqob atau gelar Rasulullah Saw. sebagai Pembaharu. Tak dapat kita pungkiri bahwa pengetahuan Rasulullah Saw. akan segala sesuatu sudah tidak bisa diragukan lagi. Terbukti bahwa pada masanya, tak ada satu kitab-pun yang menjelaskan tentang hukum-hukum fiqh atau ilmu-ilmu yang lainnya. Karena saat itu, Beliau-lah yang menjadi rujukan dari semua permasalahan yang terjadi. Itulah -salah satu- alasan mengapa Beliau dijuluki sebagai Nabi Pembaharu.

Berkenaan dengan ayat di atas bahwa dalam dirinya terdapat Uswah atau suri tauladan yang baik dan patut untuk kita tiru, ada hal penting yang harus dimiliki oleh umatnya apabila juga ingin menjadi seorang Pembaharu, yaitu Ilmu atau pengetahuan yang luas dan mendalam. Karena dengannya, kita bisa menciptakan hal-hal baru yang mungkin tidak pernah ada di masa sebelumnya, dengan garis Manhaj dan Praktek yang sama persis dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Berbicara Ilmu atau Pengetahuan, sampai kapan pun kita tidak akan pernah menemukan titik ujungnya. Bagaimana tidak, jika dengan Ilmu kita bisa mengetahui Dunia. Bagaimana tidak, jika dengannya kita bisa hidup tentram, bahagia, aman dan nyaman. Pun dengannya, kita akan menjadi hamba yang mulia di sisi Allah Swt., yang mana Allah sematkan para Ahli Ilmu dengan orang-orang yang beriman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ {المجادلة/١١}

Karena Ilmu pula, Dunia dan isinya diciptakan. Pun diutusnya para Rasul dan diturunkankannya kitab-kitab Allah. Seperti yang dijelaskan oleh Syaikh Alawi ibn Ahmad ibn Abdirrahman al-Saqof dalam kitabnya; al-Fawaid al-Malikiyah Fima Yahtajuhu Tholabatu al-Syafi’iah, hal. 27:

اعلم أن العلم و العبادة جوهران، لأجلهما كان كل ما ترى، و تسمع من تصنيف المصنفين، وتعليم المعلمين، و وعظ الواعظين، و نظر الناظرين، بل لأجلهما أنزلت الكتب، و أرسل الرسل، و لأجلهما خلقت السموات والأرض وما فيهما.

Penjelasan tersebut diambil oleh Syaikh Alawi berdasarkan pemahaman yang ia tangkap dari satu potong ayat yang tertulis dalam surah al-Tholaq, ayat ke-12:

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ وَمِنَ ٱلْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ ٱلْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا

Sampai di sini, penulis rasa sudah cukup sedikit pemaparan yang berkenaan dengan keutamaan serta kedudukan seorang Ahli Ilmu. Namun, semua itu tak cukup hanya dengan pengetahuan yang luas tanpa adanya praktek atau pengaplikasian dari apa yang sudah diketahui. Sebab Ilmu yang tidak diamalkan maka itu sama-halnya dengan butiran debu yang berterbangan. Hanya akan sia-sia sekaligus bahaya.

Kendati demikian, sudah-kah kita tahu proses atau langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan oleh seorang Penuntut Ilmu agar betul-betul mumpuni dalam suatu bidang sehingga bisa mencapai terhadap tingkatan Pembaharu?
Dari sinilah, izinkan penulis menyampaikan empat point penting yang pernah disampaikan oleh Prof. Dr., Ayman al-Hajjar dalam acara Dauroh Maba Indonesia yang bertempatkan di Masjid al-Azhar kairo, untuk menjadi orang yang mahir sekaligus mumpuni dalam suatu bidang Ilmu:

١- دراسة علم المصطلح

Pertama yang harus dilakukan adalah mempelajari Ilmu Mustolah atau Ilmu Alat dari setiap bidang yang ingin kita selami.

٢- التطبيق على هذه القواعد

Kedua, mempraktekkan Ilmu Mustolah atau Alat yang sudah dipelajari sebelumnya.

٣- القراءة في تاريخ الفن

Selanjutnya, membaca sejarah dari bidang Ilmu yang ingin kita pelajari.

٤- لا بد من الدراسة أو القراءة في بحوث المعاصرة

Yang terakhir ialah harus membaca sekaligus mempelajari permasalahan-permasalahan kontemporer yang ada pada saat ini agar bisa menerapkan Ilmu yang dipelajari dari kitab-kitab yang bersifat turost, terhadap wajah yang sesuai dengan keadaan saat ini.

_________________________________________________
– Senja~Bertasbih
– Kairo, 14 Januari 2019