Mengakarkan Motivasi Hanya Pada Allah

Oleh: Neng Wina Hartati

Manusia adalah makhluk istimewa yang Allah ciptakan. Dengan potensi akal yang dimiliki, manusia mampu membedakan mana hal yang baik dan buruk, mana hal yang pantas dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan. Selain memiliki akal untuk berfikir manusia juga dibekali potensi nafsu. Jika nafsunya baik maka akan menghantarkan manusia tersebut kepada jalan ketaatan yang Allah ridhai. Jika nafsunya jahat atau buruk maka akan menghantarkannya pada lubang kemaksiatan dan penyesalan.

Setiap manusia memiliki potensi untuk berbuat hal baik ataupun hal buruk yang jauh dari kebermanfaatan. Kondisi-kondisi ini memiliki kaitan erat dengan keadaan lingkungan sekitar, karena tanpa disadari salah-satu faktor yang memiliki peran besar dalam pembentukan kepribadian seseorang adalah lingkungan tempat ia tinggal. Jika lingkungan sekitarnya baik, maka kemungkinan besar ia pun akan tertuning dengan hal-hal baik dan menjadikannya memiliki kepribadian baik dan begitupun sebaliknya.

Tersebab manusia memiliki potensi untuk berbuat baik dan salah, tak jarang banyak dari kita terjebak dalam perbuatan yang tidak disukai Allah alias perbuatan maksiat. Dalam kehidupan kita saat ini terdapat banyak pemicu-pemicu yang mendorong kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang menyelisihi hukum syara’ ataupun bertentangan dengan norma yang ada. Mulai dari gaya hidup, tontonan-tontonan yang tak layak ditonton namun dijadikan sebagai tuntunan, hingga pada pemikiran-pemikiran sekuler-liberal yang diadopsi dari kehidupan dunia barat.

Perbuatan atau aktivitas yang kita lakukan tak terlepas dari pemikiran, perasaan dan pemahaman kita terhadap suatu hal. Suatu aktivitas akan terus-menerus dilakukan jika seseorang menganggap aktivitas tersebut penting bagi dirinya ataupun orang lain. Sebaliknya, sebuah aktivitas akan mudah ditinggalkan jika seseorang belum menemukan esensi penting dari apa yang dilakukannya. Ya, alasan dalam berbuat memiliki peranan penting dalam hal ini.

Jika kita amati fenomena kehidupan saat ini, banyak sekali orang-orang yang mulai tergerak hatinya untuk merubah dirinya dari yang semula tidak peduli dengan urusan keislamannya menjadi sosok-sosok yang bersemangat untuk mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu Islam. Jika dulu yang berhijab itu sebagai minoritas, maka sekarang akan mudah bagi kita menemui sosok-sosok yang berhijab syar’i.

Hanya saja, tidak semua orang mendasari aktivitasnya dengan pemahaman yang benar juga niat yang tepat. Maka tidak jarang kita temui orang-orang yang kemarin menutup auratnya dengan rapat, hari ini dengan mudahnya ia membuka aurat. Yang kemarin sangat bersemangat mengikuti kajian-kajian, hari ini menjadi sosok yang hobinya nongkrong di pinggir jalan.

Dari semua fakta di atas, yang menjadi akar permasalahannya adalah niat dan motivasi seseorang dalam berbuat. Jika niatnya hanya karena ingin mendapat pujian dari manusia lainnya, maka ketika yang ia dapatkan adalah kritikan atau hujatan, akan dengan mudah ia tinggalkan aktivitas tersebut. Karena tujuannya tidak tercapai. Dan masih banyak diantara kita yang seringkali menyandarkan niat dan motivasi dalam melakukan suatu perbuatan kepada manusia. Padahal motivasi terkuat itu adalah ketika kita mengakarkan motivasi hanya pada Allah Swt. yang Maha Kekal dan tidak fana. Sama seperti halnya dengan pengharapan. Jika kita berharap pada manusia, maka bersiaplah untuk kecewa. Berbeda jika harapan-harapan itu disandarkan pada Allah Swt. maka semuanya akan berjalan dengan baik.

Penyunting: Ambang Fajar Bagaskara