Oleh: Izzedien Malik Rabbani

Kicauan burung pelan-pelan membuka mataku
Suminar mentari telah merasuk dalam kalbuku
Mataku nanar tiap kali menatap tajam sinarMu yang kian meremuk redamkan jiwaku..
Pikiranku penuh dengan tanda tanya, hatiku resah, sukmaku gelisah. Apakah persembahan malam tadi Kau terima?
Gelagat duka macam apa yang menggetarkan tubuhku

O… Malamku…
Kau kupuja dalam siangku
Kau kunanti dalam mihrabku
Kau teteskan langit dengan manis
Anak kecil yang berlari dalam gerimis
Menyimpan rintikan hujanMu dalam botol warna warni
Kini dipeluknya hingga tak bernyawa lagi
Didekapnya, diciumnya hingga melebur dalam dirinya
Ia terlelap dalam tidur panjangnya, entah apa yang ia rasa
Tak sanggupnya menahan apa yang telah terjadi
Dengan rasa bersalahnya ia tergopoh gopoh di depan penantian
Resah gelisah menyentakku sesaat penantian kita
Lalu Kau berkata padaku “Ke mana saja kau selama ini, aku masih menantimu di taman bunga – bunga.”
Aku meneteskan bulir-bulir mataku tak sanggupku menjawab rentetan pertanyaan demi pertanyaan
Aku bersalah! Masihkah Kau berikan cintaMu padaku?
Aku mencintaiMu, maafkan kealpaanku
Aku ingin bercumbu lagi denganmu malam nanti
Kumohon jangan Kau tutup pintu kamarMu
Aku ingin memadu kasih di atas ranjang kesetiaan kita
Aku ingin bersamaMu menghirup bunga-bungaMu sepanjang malam
O… Malamku…
Cintaku padaMu

Kairo, 8 Februari 2019.

The post KumenantiMu dalam Malam appeared first on GAMAJATIM Mesir.