Tik tok… Tik tok… Tik tok… Suara jam besar yang sudah sangat tua, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 11.44 malam. Dinding rumah yang berwarna biru sudah terlihat agak kusam dan banyak garis kerutannya, malam itu langit sedang gerimis, suara hujan gerimis yang terdengar semu membuat suasana kantuk. Di tengah ruang tamu, duduk kakek tua di atas kursi kayu menghadap ke arah pintu keluar, sedangkan di pangkuan kakek itu, ada seorang anak kecil yang sedang mengantuk. “Aaaaah” anak kecil itu menguap sambil menutup mulutnya. “Farhan mau kakek ceritain dongeng enggak?” Tanya kakek itu. Si Farhan mengangguk asal menjawab pertanyaan kakeknya karena kantuk.

Lalu kakek itu memulai ceritanya. “Dahulu kala ada seseorang hidup seorang pemuda yang tampan, badannya berotot, tinggi dan berkulit putih,” mulai kakek bercerita. “Apa pemuda itu setampan artis Korea, Kek?” Tanya si Farhan. “Ketampanan pemuda itu melebih para artis Korea, Cu,” jawab kakek. “Wah…! Keren dong, Kek. Pasti pemuda itu hidupnya sangat bahagia,” ucap anak kecil itu sok dewasa. “Memang, seharusnya pemuda itu sangat bahagia. Tapi pemuda itu malah terlihat sangat murung,” ucap kakek “Lah…! Kok murung, Kek? Emang pemuda itu kenapa?” Tanya Farhan itu penasaran.

“Pemuda itu terkena penyakit aneh. Penyakitnya itu terus-menerus kentut ketika ada orang di dekatnya. Terkadang penyakitnya menjadi sangat parah, dan terkadang penyakitnya menghilang. Sebenarnya orang tak mempermasalahkan dia sering kentutnya, tapi hanya saja kentut pemuda itu baunya khas, menusuk tajam ke hidung.” Mendengar itu, anak kecil merapatkan bibirnya sambil menahan tawa yang membuat air matanya keluar. “Bau kentut itulah yang membuat pemuda itu jadi dijauhi orang-orang di sekitarnya. Bahkan beberapa keluarganya ikut menjauhinya karena tak kuat terus-terusan mencium bau kentutnya.

Lama makin lama, pemuda itu tak kuat menjalani hidupnya yang menurutnya sangat menyedihkan, ia beranggapan kalau dirinya tak berguna. Setiap kali dia bekerja, pasti besoknya langsung dipecat, saat dia kecil pun tak ada sekolah yang mau menerimanya, terpaksa ia harus belajar sendiri, dan bertanya kepada guru atau keluarganya melalui kertas. Bahkan ketika dia menolong, orang lain tak mengizinkannya. Pemuda itu sangat putus asa, ia berencana untuk mengakhiri hidupnya, ia berencana pergi ke gunung terlarang saat tengah malam, gunung itu berada di ujung desa. Penduduk desa melarang orang yang ingin pergi ke desa itu karena konon ceritanya setiap orang yang pergi ke gunung itu pasti tak akan bisa kembali pulang. Bahkan jika ada yang mencari orang hilang ke gunung itu, maka orang-orang yang mencari itu juga akan menghilang. Hingga sampai saat ini tak ada orang yang berani mendekati gunung itu,” cerita kakek.

Si Farhan hanya mengangguk terus mendengarkan cerita kakek dengan saksama. “Siang pun berganti malam, tibalah saatnya tengah malam, si pemuda itu berjalan mengendap-ngendap keluar rumah, melalui belakang perumahan warga, terus menuju pepohonan rimbun. Tak terlihat jalan setapak di tempat itu karena memang tak ada jalan khusus menuju gunung itu. Setelah berjalan hampir 3 jam lebih, si pemuda itu berhenti. Dia bingung. Dia bertanya-tanya di hatinya ‘kok tak terjadi apa-apa?’ dia tak menemukan hal aneh; tidak binatang buas, tidak setan, dan tidak pula monster yang sering digosipkan orang-orang desa. Pemuda itu meneruskan perjalanannya hingga dia hampir sampai ke puncak gunung itu, pemuda itu sudah sangat kecapekan, tak lama lagi matahari akan terbit, dia memutuskan untuk istirahat sebentar.

Si pemuda itu berbaring di tanah miring pegunungan itu. Lalu tanpa dia sadari kantuk pun menyerangnya lalu tertidur. Ketika si pemuda itu bangun, dia kaget karena hari sudah siang, dan dia pun sudah tidak berada di tempat dia tidur tadi. Dia berpikiran, mungkin dia malam tadi tidur sambil berjalan. Dia melihat-lihat ke sekeliling, batu-batu gunung dan rerumputan menyelimuti tempat sekeliling. Ketika si pemuda itu melihat-lihat ke sekelilingnya, dia langsung terdiam membatu saat dia melihat seorang perempuan cantik sambil menyatukan kedua tangannya dan menunduk-nunduk, mengisyaratkan seperti orang yang sedang minta maaf. Si pemuda itu merasa aneh, karena pakaian perempuan itu tidak terlihat seperti pakaian orang-orang desanya, bahkan pakaian kerajaan di daerah pemuda itu tak ada yang seperti itu. Perempuan itu tak menggunakan sandal. Di kakinya terdapat gelang besar warna silver mengkilat dan memakai rok warna biru berlapis-lapis kain lembut transparan. Bajunya juga berwarna biru dengan lengan panjang yang sangat besar. Di bagian depan bajunya dilapisi besi. Baju itu terlihat seperti baju perang, tapi juga terlihat seperti baju orang yang akan pergi ke pesta, indah dan rapi, sangat cocok dengan perempuan itu. Kulit putih merona, bibir pucat tapi terlihat indah, serta rambut pendek sebahu yang berwarna abu-abu keputihan, tiupan angin gunung membuat rambutnya melambai-lambai diikuti lengan bajunya yang sangat besar. “K…k…kamu siapa?” Kata si pemuda itu gagap.

Perempuan itu juga kebingungan bagaimana dia bisa menjelaskannya. Lalu perempuan itu mengumpulkan keberaniannya dan menjelaskan tentang dirinya sedikit demi sedikit. Ia mulai dengan memperkenalkan namanya, lalu menjelaskan tentang dirinya kalau dia adalah seorang ilmuwan yang berasal dari masa depan dan ia menjelaskan bagaimana bisa sampai bisa ke sini. Entah kenapa pemuda itu langsung percaya pada perempuan itu. “Lalu apa kamu yang akan membunuh aku?” Tanya pemuda itu. “Tidak… tidak… ,“ kata perempuan itu. Pemuda itu berpikiran kalau perempuan inilah penyebab orang-orang menghilang yang pergi ke gunung ini menghilang. Sebenarnya pemuda itu punya banyak pertanyaan pada perempuan itu, tapi ada satu hal yang membuatnya bingung “Tadi kamu kenapa minta maaf?” Tanya pemuda itu. “Eh he… kalau itu, ketika saya berpindah tempat ke waktu ini, saya tidak sengaja jatuh ke muka kamu,” kata perempuan itu sambil memalingkan muka dan menggaruk kepalanya.

Lalu pemuda itu meraba bagian mukanya, dan langsung merintih, nampak bonyok di bagian pelipis kirinya. Mendengar pemuda itu merintih, perempuan itu langsung mengambil kain lembut di sakunya, dan langsung menyapu pelipis pemuda itu. Seketika itu pemuda langsung menahan napas, dan menguatkan otot perutnya sekuat-kuatnya demi menahan kentut yang akan keluar hingga membuat mukanya memerah serta ekspresi yang lucu. Demi menjaga harga dirinya, dia tak ingin kentut di hadapan perempuan cantik, perempuan itu hampir tertawa melihat ekspresi muka pemuda itu. Pemuda itu baru menyadari satu hal, selama perjalanan dia menuju ke gunung, dia tidak ada kentut sekalipun dan ketika pertama bertemu dengan perempuan itu dia juga tidak langsung kentut. “Tuan menahan kentut? Tidak usah ditahan. Saya tahu kok. Tadi saat tuan masih tidur, tuan kentut sangat banyak…. eh… maksudnya beberapa kali kentut,” jelas perempuan itu sambil menahan tawa.

Mendengar itu, muka pemuda itu langsung menjadi merah padam walau dia berhasil menahan kentutnya, dia tetap sangat malu. “Hmmm… saya mulai memahami kondisi tuan, kondisi saat orang malu kentut di depan umum. Hal ini pernah diceritakan nenek moyang kami. Katanya dulu sekali, kentut di depan umum itu seperti aib bagi pelakunya. Tapi di waktu saya, itu bukanlah aib lagi, tapi itu di anggap sebagai kebaikan. Bahkan pemerintah di waktu saya sangat mengapresiasi orang-orang yang sering kentut di depan umum,” kata si perempuan. “Loh kok bisa?” Pemuda itu menjadi bingung. “Tapi kentut tuan itu sedikit berbeda,” kata perempuan itu pelan. Pemuda itu jadi malu lagi “Eh… bukan…bukan gitu maksudku. Maksudku gini, kentut tuan itu sesuatu yang spesial, tuan tau enggak? Bau kentut itu dapat memperlancar peredaran darah. Nah, saat saya mencium baunya kepala pusing sayang akibat berada di gunung ini hilang dengan sangat cepat, dan peredaran darah saya menjadi lancar,” papar perempuan itu sambil menunjukan lengan kirinya. Nampak terlihat angka-angka kecil berwarna merah di lengan bajunya. “Baju ini juga bisa mengukur suhu badan saya dan suhu di sekitar,” kata perempuan itu lagi.

Pemuda itu mulai sedikit bingung apa maksud perempuan itu. “Normalnya bau kentut biasa tak akan bisa berefek sebagus ini. Tuan sangat beruntung bisa memiliki keahlian dan bau kentut seperti itu, itu sangat bermanfaat. Mungkin kalau tuan ada di waktu saya, tuan akan diperiksa,” kata perempuan itu. “Diperiksa seperti apa?” Kata pemuda itu sedikit takut. “Entahlah… kurang tau. Tapi mungkin di masukkan lab, lalu dirontgen atau bahkan mungkin seperti diotopsi, tapi bukan seperti otopsi mayat, kayak di operasi gitu mungkin, hihihi,” perempuan itu tertawa kecil, gigi putih mungilnya terlihat sangat lucu. Perempuan itu mencoba menakut-nakuti si pemuda, karena dia melihat pemuda itu seperti ketakutan, tapi sayangnya pemuda itu tidak mengerti apa yang dikatakan si perempuan, karena baru pertama kalinya dia mendengar kata seperti itu. “Tuan! Biasanya orang-orang kentut 3 sampai 14 kali perhari, tapi kalau lebih dari 20 kali itu bisa disebut sesuatu hal yang berlebihan, patologis gitu. Tapi keadaan tuan ini sedikit berbeda, walau bisa dianggap berlebihan, tapi itu sangat menguntungkan, bahkan tuan bisa buka klinik terapi kentut. Tuan tahu, kan, bau kentut bisa nyembuhin berbagai penyakit. Beberapa darinya seperti penyakit hipertensi, hipotensi, maksudnya tekanan darah tinggi atau darah rendah, karena efek dari bau kentut dapat mengatur tekanan darah. Dua penyakit tadi adalah penyakit awal yang kalau tidak diobati bisa menyebabkan penyakit parah lain, seperti anemia, stroke, serangan jantung, sakit kepala. Manfaat lainnya juga, bau kentut bisa menjadi anti inflamasi yaitu sebagai pencegah radang, seperti radang tenggorokan, radang pada lambung dan usus, peradangan pada organ-organ lainnya, maag dan refluks asam lambung. Intinya, bau kentut sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh, gitu, Tuan,” tutur perempuan itu.

Walau pemuda itu banya tidak mengerti kata apa yang dikatakan perempuan itu, tapi dia paham kalau bau kentut itu menyehatkan, dan kentutnya adalah kentut yang spesial. Setelah berbicara banyak hal, perempuan itu meminta pemuda itu untuk melihat-lihat daerah yang baru dia datangi. Si pemuda mengajak perempuan itu pulang ke desa, mulanya mereka tersesat, tapi dengan alat pendeteksi kehidupan milik perempuan itu mereka bisa kembali ke desa dengan selamat.

“Tuan! Di gunung itu menurut saya sangat bahaya, udaranya kurang bagus untuk kesehatan. Di gunung itu ada angin pembusuk, angin yang jika menghirupnya terlalu banyak bisa membuat kita meninggal, kemudian membusuk sangat cepat. Bahkan pembusukannya bisa menghancurkan tulang. Jadi jika ada orang meninggal di sana maka jasad dan tulang belulangnya tak akan bisa bertahan sampai dua bulan. Mungkin kita akan mati kalau tersesat di gunung itu. Tapi jika bersama Tuan, saya mungkin masih bisa berumur panjang. Setelah saya memperhatikan Tuan, Tuan akan kentut jika ada orang yang tidak sehat mendekati Tuan, sehingga orang yang tidak sehat itu menjadi sehat kembali karena mencium bau kentut tuan, itu sangat bagus,” tambah perempuan itu. Si pemuda mulai mengerti kenapa orang-orang yang pergi ke gunung itu jadi menghilang. Setelah mendengar perkataan perempuan itu, si pemuda terlihat sangat senang. Setelah sampai ke desa, mereka merasa aneh. Desa itu terlihat suram, banyak orang sedih di mana-mana. Lalu mereka berdua bertanya pada penduduk desa, “Desa sedang dilanda musibah, banyak orang terkena penyakit aneh, sekarang sudah ada satu orang yang meninggal,” cerita penduduk itu. Mereka berdua pun mendatangi penduduk yang terkena penyakit aneh itu. Banyak penduduk yang marah gara-gara si pemuda itu terus kentut. “Ah!.. tidak salah lagi, orang ini terkena penyakit stroke,” tebak perempuan itu.

Ia menjelaskan kepada orang-orang di sana tentang penyakit stroke, juga mengabarkan kalau penyakit itu bisa disembuhkan dengan mencium bau kentut si pemuda. Mulanya penduduk tak ada yang percaya, tapi perempuan itu bersih keras meyakinkan mereka. Perempuan itu minta waktu tiga hari untuk membuktikan omongannya kalau dia tidak berbohong. Walhasil, perempuan itu berhasil membuktikannya. Semua warga yang terkena penyakit stroke sembuh dalam waktu tiga hari, bahkan ada yang lebih cepat. “Saya sekarang mengerti, Tuan. Nampaknya mereka menjadi terkena stroke karena terikat dengan kentut Tuan. Tubuh mereka lupa bagaimana mengatur peredaran darah tanpa bantuan kentut Tuan. Juga gaya hidup penduduk sini kurang sehat, mereka juga tak memperhatikan makanannya. Pantas saja tuan kentut terus. Ternyata di desa ini sangat banyak orang tidak sehat. Jikalau tidak ada tuan, mungkin mereka orang di sini bisa mati. Sebenarnya tidak hanya itu, angin gunung yang tempat kita tadi, juga ada terdapat sedikit di tempat ini, kayaknya kentut tuan yang menetralkannya. Hmm… Setelah saya amati ternyata kentut Tuan, walau baunya sudah hilang, efeknya bertahan lama dan jangkauannya cukup luas. Mungkin lebih luas dari desa ini. Tuan adalah penyelamat desa ini,” ucap perempuan itu dengan bangga.

Rasa bahagia yang tak terkira, air matanya menetes dengan perasaan haru, dia benar-benar tidak menyadari kalau dia mempunyai satu hal yang sangat berharga, hal yang sangat luar biasa. Orang-orang desa di sekitar menjadi merasa bersalah kepada si pemuda itu. Mereka menyorakkan nama pemuda itu dengan bangga, dan menjadikan pemuda itu sebagai bak pahlawan. “Ibu! Ayah!… Lihatlah anakmu ini, anakmu ini bisa menjadi kebanggaan orang-orang,” seru pemuda itu. “Cerita berakhir bahagia, Cu.” Cerita kakek panjang lebar. “Loh, udah selesai, Kek, ceritanya? Yang tuh perempuan dari masa depan gimana kelanjutan ceritanya?” Tanya si Farhan penasaran. “Kalau itu rahasia, hehehe.” Si kakek tertawa. “Kakek punya hayalan hebat juga yah, walau sedikit aneh. Hihihihi…” Si kakek dan si Farhan tertawa. “Ingatlah, Cu! Kesempurnaan itu tidak menjamin kebahagiaan. Bahagia ada karena rasa syukur. Masih banyak orang yang lebih menderita dari kita. Jadi syukuri semua apa yang Allah berikan, karena Allah tak pernah menciptakan satu hal pun sia-sia. Kamu ingat, kan, ayatnya? dan Allah pasti berikan yang terbaik untuk hambanya,” jelas kakek. Si Farhan mengangguk mendengarkan dengan seksama.

Ditulis Oleh: Akhmad Yani

Cerpen Buletin Bedug Edisi 17