Dan lagi, untuk kesekian kalinya aku melihat kakak senior dengan pin berbentuk kelinci biru kecil. Entah dengan alasan apa aku sangat suka memandangnya berlama-lama. Padahal jika diperhatikan, tak ada yang istimewa darinya. Apalagi berdasarkan standar cantik menurutku, ia sangat bertolak belakang dengan tipe perempuan yang aku suka. Putih, tinggi, berhidung mancung, rambut panjang tergerai, dan bergaya stylish. Tapi untuk kali ini, seorang lelaki ‘playboy’ sepertiku bisa terpesona dengannya. Bahkan, aku bisa mencirikan tentangnya secara detail. Selalu mengenakan jubah longgar berwarna gelap, kalau tidak biru tua, merah marun, abu-abu, bahkan lebih sering hitam. Ditambah kerudung lebar menjulur separuh badannya. Dan satu yang tak pernah tertinggal, tentu saja pin kelinci biru kecil yang selalu tersemat, itulah mengapa aku menjulukinya dengan nama tersebut.
Awal jumpa aku dengan kakak tersebut saat aku tak sengaja menabraknya dan menjatuhkan seluruh barang yang ia bawa. Mirip seperti adegan dalam FTV yang sering ditonton adik perempuanku di rumah. Aku masih sangat ingat, hari itu aku terburu-buru untuk pulang. Apalagi kalau bukan karena janji receh kawanku yang bersedia mentraktirku makan siang gratis di Cafe Karya, maklum sebagai anak kost pasti sangat senang dalam urusan yang satu ini. Lalu, hal apa lagi yang kuingat masa itu, aku tak jeli memperhatikan wajahnya karena awalnya aku tak tertarik dengan perempuan model seperti dia. Satu hal yang aku tahu, pasti kerjaannya hanya mengaji dan berkumpul dengan teman sejenisnya. Bukan aku bermaksud merendahkan mereka, tidak sama sekali. Mungkin aku yang tidak paham dengan jalan hidup mereka, aku hanya seorang pemuda yang masih senang dengan kehidupan dunia. Apapun itu, yang jelas sekarang aku suka dengan kakak itu.
Namanya Shofi Maharani, Mahasiswi tingkat akhir jurusan Biologi. Hanya itu informasi yang aku dapat setelah riset ke berbagai penjuru kampus ini. Tak ada hal menarik lainnya selain dia adalah aktivis rohis kampus dan aktif dalam berbagai kajian. Dan lagi, seorang sepertiku tak tertarik dengan hal-hal seperti itu. Jangankan untuk berdakwah, sekedar mengaji saja terkadang aku masih malas. Tuhan, pemuda macam apa aku ini! Batinku.
Sebuah tempat yang aku pasti bisa melihatnya adalah masjid al-Hidayah yang terletak di tengah-tengah kampus, sangat strategis dari gedung fakultasku yang berhadapan langsung dengan Masjid. Jadi, tiap kali aku selesai jam kuliah, selalu kusempatkan untuk duduk di bangku panjang samping masjid yang penuh dengan pepohonan rindang sembari berpura-pura membaca buku. Kemudian kakak pin kelinci tersebut akan melewatiku menuju masjid dengan jalan yang menunduk seperti biasa. Kebiasaan inilah yang akhirnya justru membuatku hapal dengan jadwal kajian yang diadakan di masjid ini. Tapi tak sedikitpun hati ini terketuk untuk masuk dan ikut duduk mendengarkan kajian yang disampaikan. Apalagi jika tujuanku hanya demi memperhatikan seseorang, apa kata dunia?! Karena hal ini pula yang pada akhirnya membuatku rajin ke kampus meski bukan dengan niatan untuk mencari ilmu. Dan lagi, semua ini demi dia .
Kalau dipikir, seperti mustahil dengan perasaan yang aku alami saat ini. Bagaimana bisa seorang pemuda dekil sepertiku jatuh hati pada kakak senior yang sangat berseberangan misi dan tujuan. Sempat terbersit pula bagiku untuk segera menepis perasaan ini jauh-jauh. Tidak mungkin bisa diteruskan, bukan karena aku. Aku hanya merasa kasihan dengan kakak pin biru tersebut nyatanya ditaksir oleh lelaki yang tidak bisa dikatakan sholeh sama sekali. Harusnya ia akan mendapatkan pemuda sholeh juga yang sama sepertinya, memiliki cara pandang yang sama dalam misi dakwah. Kurang lebih seperti itu yang seharusnya.
Tapi tetap saja, semakin aku berusaha menjauhkan perasaan ini. Justru pada kenyataannya adalah kibaran kerudungnya yang selalu berkelebat dalam pikiran. Terbayang pin kelinci birunya yang dengan manis tersemat seakan memberi senyum kepadaku. Ahh..kenapa aku bisa seperti ini sekarang?? Tak ada yang bisa menebak perasaan seseorang, ia datang tanpa alasan, mengalir begitu saja, menjadikan seseorang yang seperti tak memiliki hati menjadi luluh karenanya. Tapi walau begitu, tak sedikitpun ada keinginanku untuk mengungkapkan rasa ini untuk pin kelinci biru tersebut. Bukan dia yang tak pantas untukku, justru aku yang sangat tidak pantas untuknya. Toh, kakak itu sudah jauh diatasku, pasti sudah banyak para Ikhwan yang tengah menantinya dengan penantian yang berada pada ketaatan tentunya.
Setelah lebih dari setahun ini aku melakukan rutinitas tersebut, nongkrong di pelataran masjid sembari menunggu kakak pin kelinci biru kecil. Sudah seminggu aku tak lagi melihatnya duduk manis diantara teman-teman kajiannya. Hari pertama tak hadir, mungkin besok. Hari berikutnya hingga tepat satu minggu ini. Kukira ia sakit, sepertinya. Karena ia selalu hadir, tak pernah aku melihatnya absen untuk mengikuti kajian. Pernah suatu hari ia datang terlambat, dengan napas terengah-engah, kulihat ia sangat terburu untuk segera masuk dan duduk diantara anggota kajian lainnya. Aku hanya bisa memandang dari kejauhan, seperti biasa yang kulakukan dan tak bisa lebih. Hari ini, hari kedelapan aku menunggunya. Masih berharap bahwa ia akan hadir seperti biasa. Sambil sesekali aku menoleh ke seluruh arah, menyapu pandangan agar tak ada satupun manusia yang berjalan luput dari mataku. Kemudian dari arah belakang, seperti ada yang menegurku. Dan untuk pertama kalinya, seorang perempuan berkerudung menghampiriku. Satu pandangan yang pertama kulihat dan kuperhatikan adalah pin kelinci biru kecil yang tersemat di kerudungnya, lama aku memandang hingga aku tersadar, gadis ini bukan kakak yang biasa kuperhatikan. Aku tak mengenalnya, tapi aku tak asing dengan wajahnya. Sepertinya teman akrab kakak tersebut. Tapi mengapa ia mengenakan pin milik Kakak tersebut. Entahlah.
Kemudian terjadi percakapan antara kami berdua. Ia yang memulai dengan sebuah pertanyaan mengapa ia sering melihatku berada di sekitar sini. Aku sempat gugup bagaimana aku harus menjawabnya. Tidak mungkin aku mengatakan yang sejujurnya. Lalu aku menjawab sekenanya. Aku bilang bahwa aku hanya suka dengan udara sejuk di bawah pepohonan sekitar masjid sini. Aku sempat bertanya kemana perginya kakak dengan pin kelinci itu belakangan ini. Dan temannya itu memberi tahuku bahwa ia baru saja menikah dua hari yang lalu dan memutuskan pindah ke kota lain mengikuti suaminya. Perihal pin yang dikenakannya sekarang merupakan hadiah sebagai kawan dekatnya. Kemudian ia berpamitan dan pergi, sedang aku tak dapat berbicara apa-apa. Hanya terdiam tak dapat berkata-kata.
Aku terpekur memikirkan berita yang baru saja kutahu. Entah kenapa, baru kali ini aku merasa seperti ada sesuatu yang menusuk. Sebelumnya, selama aku menjalin cinta dalam status ‘pacaran’ tak pernah aku merasa sedalam ini. Padahal, telah timbul dalam hati ini sebuah niat untuk berubah. Bukan karena aku menyukai gadis sholehah lantas aku ingin berubah hanya karenanya. Baru akhirnya aku tersadar, mungkin ini cara Tuhan untuk memberiku sebuah hidayah melalui perasaan yang begitu tulus. Detik selanjutnya, aku mencoba untuk mengikhlaskan rasa yang begitu sederhana ini dalam bentuk cinta kepada-Nya. Dan untuk hari-hari selanjutnya, tak akan ada lagi bayangan akan kakak dengan pin kelinci biru kecil itu. Sikap taatnya yang mampu menyihir pemuda bandel sepertiku yang akhirnya membawa pada jalan yang mulia, yaitu Islam. Meski ia tak pernah tahu tentangku, tapi aku tetap bahagia bahwa hati ini pernah terpaut akan dirinya, walau sesaat.
– ** –
Satu minggu tepat aku meninggalkan kota asalku. Seminggu ini pula aku tak lagi hadir dalam kajian rutin kampus sebagaimana rutinitasku sebelum menikah dan memutuskan untuk pindah. Dan mulai hari ini aku akan menjalankan aktivitas dakwahku seperti sebelumnya, hanya saja di tempat yang berbeda. Kembali aku mengenakan kerudung identitasku sebagai Muslimah, dan akan mengenakan pin favoritku. Aku mencarinya di kotak kecil berisi banyak peniti dan pin yang lainnya, baru aku teringat bahwa pin tersebut telah aku berikan untuk sahabatku Miranti. Dan seketika pin kecil itu pula yang mengingatkanku pada satu hal lain. Pin tersebut memang yang menjadi favoritku, tapi ia hanya aku kenakan khusus untuk pergi kajian di masjid kampus. Entahlah, akupun tak tahu alasannya. Mengapa aku mengkhususkan penggunaan pin tersebut. Tak ada tujuan lain, hanya memang kebetulan saja seperti itu. Dan ada hal lain yang kuingat dari tempat tersebut. Kalau tidak salah, ada seorang pemuda, sepertinya dia adik kelas beberapa tingkat di bawahku yang selalu aku lihat berada di lingkungan masjid. Tak ada hal penting yang dilakukannya, akupun tak terlalu memperhatikannya secara jelas. Yang aku ingat, ia selalu ada ketika aku berjalan ke arah masjid. Detik berikutnya, aku beristighfar. Kenapa tiba-tiba aku memikirkan pria lain. Bukankah statusku kini telah menjadi milik orang lain. Segera aku tepis pikiran yang barusan lewat, dan aku buang jauh-jauh. Biarlah ia hanya sekedar menjadi bayangan yang sempat terlintas. Lagi pula, ia hanya pernah singgah dan tak lebih dari itu.Penulis: Wildah Binashrillah

The post Kelinci Biru Kecil appeared first on GAMAJATIM Mesir.