Keistimewaan Ibadah Shalawat
Oleh: Hasyim Asyari

“Kau tahu, perintah ibadah apa yang paling istimewa?” temanku membuka diskusinya malam ini, saat kami berdua usai menyeduh kopi.

“Shalat,” jawabku dengan tegas. “Karena Nabi menerima perintah ibadah shalat saat beliau menghadap langsung pada Tuhan-nya. Shalat adalah tiang segala amalan.”

“Bukan! Ada yang lebih istimewa daripada itu.” Tandas dia sembari mengangkat cangkir kopinya. Aku mengikuti gerakannya. Ku angkat cangkir kopiku perlahan, dan menikmati nya.

“Ada perintah ibadah yang lebih istimewa daripada shalat.”

“Apa?”

“Shalawat kepada Kanjeng Nabi Saw.”

“Apa alasannya? Bukankah perintah shalawat di dalam Al-Quran itu hanya diungkapkan satu kali, sementara perintah shalat kan terulang tidak hanya dua kali, bahkan berkali-kali? Dan bukankah terulangnya suatu perintah itu telah menunjukkan kadar pentingnya sesuatu yang diperintahkan itu sendiri?” ku letakan cangkir kopiku kembali. Sementara temanku hanya tersenyum mendengar pertanyaanku.

“Sekarang aku tanya, Tuhan memerintahkan shalat, tetapi sebelum memerintahkannya apakah Dia sendiri melaksanakan perintah-Nya itu?” temanku menyunggingkan senyumnya ke arahku.

“Apalagi perintah zakat, puasa, haji dan seabrek perintah ibadah lainnya. Tentu kau tak bisa membayangkan, kan, Tuhan shalat, mengantarkan beras ke amil zakat, menahan lapar dan dahaga dari shubuh sampai petang atau thawaf mengelilingi kabah. Kan tidak mungkin.”

Aku tersenyum kecil mendengar kelakarnya.
“Berbeda dengan shalawat.” lanjutnya. “Tuhan bersama para malaikat-Nya bershalawat terlebih dahulu sebelum memerintahkan hal itu. Tak usah kusebutkan ayatnya. Tentu kau sudah hafal. Iya, kan?”

Tentu aku mengiyakannya.
“Bahkan, temanku, shalawat Tuhan beserta para malaikat-Nya itu tidak hanya sebatas pada saat sebelum Tuhan memerintahkan hal itu, loh. Tetapi shalawat mereka kepada Baginda Nabi Saw itu terus berkelanjutan.”

“Kenapa bisa demikian?”

“Dilihat dari kalam yang dituliskan-Nya. Tuhan menggunakan kalam fiil mudhari’ untuk mengungkapkan shalawat. Dan sebagaimana yang kita ketahui, fiil mudhari‘ memiliki faidah li istimrar, yang menunjukkan makna bahwa hal yang dikerjakan itu adalah sesuatu yang terus-menerus dilakukan.
Jika demikian, Jika Allah saja Yang Maha Agung lagi Maha Kuasa bersama para malaikat-Nya yang suci itu sangat cinta dan kagum kepada Nabi Muhammad saw., dengan terus-menerus bershalawat kepada Nabi Saw., maka bukankah sangat angkuh, jika kita yang hanya kehendak kecil-Nya ini malas atau bahkan kikir bershalawat kepada Nabi Saw. yang kita harapkan syafaatnya?”

“Sebab itu temanku, mari kita tingkatkan mahabbah kita kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw., dengan cara memperbanyak bershalawat. Barang siapa yang paling banyak menyebutkannya, maka ia lah yang paling banyak cintanya. Semoga dengan lantaran memperbanyak shalawat ini sendablek-ndableknya kita masih tetap termasuk diakui kaumnya yang berhak mendapatkan syafaat di Yaumil Qiyamah nanti.”

Penyunting: Bagaskara