Kasih Sayang Tuhan
Oleh: Hasyim Asyari

Dulu ketika di pesantren saya sering mendengar beberapa guru saya memaknai lafadz Ar-Rahman sebagai; Dzat Yang Maha Pengasih di dunia yang jangkauannya meliputi seluruh manusia -entah muslim ataupun kafir-. Sementara Ar-Rahim dimaknainya sebagai; Dzat Yang Maha Pengasih di akhirat yang jangkauannya hanya khusus diberikan kepada hamba-Nya yang taat saja.

Keduanya ini, baik الرحمن maupun الرحيم adalah sama-sama sifat Tuhan yang besarnya dan bagaimananya tak dapat dijangkau oleh manusia. Karena manusia adalah makhluk terbatas sementara yang terbatas itu tak kan pernah mampu menjelaskan Yang Tak Terbatas.

Dalam menerangkan sifat Tuhan, manusia harus berkata; “Sifat Tuhan begitu Agung. Saya sebenarnya tidak mampu menjangkaunya, yang saya bisa jangkau itu tidak lain hanya sebatas yang diperkenalkan-Nya, itupun sesuai dengan kemampuan saya. Tuhan jauh lebih besar dan Agung dari pengetahuan saya.” begitulah terang Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam salah satu tulisan tafsirnya.

Namun demikian, sebagai taqribul fahmi, Syekh Sya’rowi (Mufassir kenamaan Mesir) mencoba menganalogikan kedua sifat Tuhan ini dengan ukuran dan jumlah yang sama. Hanya saja, karena pembagiannya berbeda; yang pertama untuk seluruh manusia dan yang kedua hanya khusus untuk pilihan-Nya, maka tentu hasilnya pun akan berbeda. Yang kedua akan jauh mendapatkan bagian lebih besar daripada yang pertama.

Kita bisa mengatakan, misal, ketika ada uang sejumlah 1 juta rupiah di bagikan kepada siswa yang jumlahnya ada 100.000, maka masing-masing siswa hanya akan mendapat 10 rupiah dari jumlah yang ada. Berbeda halnya ketika jumlah uang 1 juta rupiah tersebut hanya dibagikan kepada siswa pilihan yang katakanlah jumlahnya hanya ada 10, maka masing-masing siswa tersebut tentu akan mendapatkan jumlah yang lebih besar, yakni 100.000 rupiah per kepala. Ini baru dari segi jumlah, loh, belum dari segi sifat. Seperti yang tertera pada ayat ini, yang artinya, “Bahwa sifat akhirat itu jauh lebih baik dan kekal ketimbang dunia (QS. Al-A’la: 17)”.

Di sinilah letak keadilan Tuhan. Maka dari itu, sepertinya sudah tidak relevan lagi pertanyaan “Kenapa kafir yang tidak sholat dan tidak puasa justru malah lebih kaya ketimbang muslim yang taat dalam menjalankan perintah-Nya?” Karena bukan hanya sampai disitu ukurannya. Masih ada kehidupan yang kedua.

“Disana nanti Allah akan memberikan kejutan luar biasa bagi hamba-hamba-Nya yang senantiasa dalam ketaatan (QS. Al-Baqarah: 25).”
Jika demikian, sudahkan anda mempersiapkan diri untuk menyongsong itu semua?

Penyunting: Bagaskara