Hujan roket mulai berjatuhan, peluru berterbangan, 13 abad yang damai tiba-tiba menjadi suasana mencekam peperangan. Lebanon adalah taman firdaus yang ditinggali 12 sekte, etnis, dan kepercayaan yang berbeda, setidaknya sebelum perang saudara terjadi pada tahun 1975. Harmoni antar golongan Kristen dan Islam yang sebelumnya hidup rukun berdampingan berabad-abad harus sirna seketika. Tidak ada yang pernah menduga hal tersebut bisa terjadi, namun begitulah black swan menimpa umat manusia di setiap masa. Kebinekaan yang harmonis di Lebanon harus berakhir tanpa ada yang mengetahui dasar penyebab aslinya.

Sebuah proses mengubah pluribus (keragaman, bineka) menjadi unum (satu bangsa, ika) adalah mukjizat yang terjadi di setiap bangsa yang berhasil di bumi. Di Indonesia sendiri, istilah Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu tujuan) pertama kali dikenal pada abad ke‒14 Masehi di pulau Jawa pada masa Kerajaan Majapahit. Keragaman yang ada di Indonesia menghasilkan kekayaan budaya yang dapat bermanfaat bagi kreatifitas, khazanah keilmuan, dan pariwisata Indonesia.

Luasnya wilayah Indonesia juga memberikan sumber daya alam yang berlimpah. Bila dikelola dengan baik, dua aset ini akan membawa kita kepada kesejahteraan rakyat Indonesia, dan yang lebih penting dari itu, membawa kita kepada kestabilan di tengah gonjang-ganjing situasi global yang tak menentu. Kita juga bisa menjadi negara yang kuat, mandiri, dan berdaulat, tanpa bergantung kepada negara lain dalam menentukan langkah ke depannya.

Kekuatan tersebut bukan tanpa kelemahan, tantangan, maupun ancaman. Dengan keragaman yang begitu banyak, gesekan-gesekan kecil pasti terjadi antar kelompok golongan yang hidup di bawah naungan nama Indonesia. Sikap intoleran satu kelompok terhadap kelompok yang lain akan memperparah dampak dari gesekan tersebut. Toleransi sendiri hanya bisa terjadi ketika suatu kelompok dapat memahami sudut pandang yang digunakan kelompok lain. Lalu, memahami sudut pandang kelompok lain berarti memahami dimensi moral yang berlaku dalam kelompok tersebut.

Jonathan Haidt, dalam bukunya The Righteous Mind, menyatakan dimensi moral yang dimiliki manusia terbagi menjadi enam bagian. Keenam dimensi tersebut adalah:

  1. Pengayoman/bahaya;
  2. Kemerdekaan/penindasan;
  3. Ketidakcurangan/kecurangan;
  4. Kesetiaan/pengkhianatan;
  5. Kewenangan/pembangkangan;
  6. Kesakralan/kebejatan.

Dari kemukjizatan Bhinneka Tunggal Ika di Indonesia, kita bisa menyimpulkan bahwa orang-orang kita menggunakan keenam dimensi moral yang ada. Karenanya kita bisa memahami satu sama lain serta membangun toleransi yang indah.

Indonesia Emas 2045

Setelah membaca-baca Rancangan Pembangunan Jangka Panjang Nasional
(RPJPN) 2025-2045 yang sudah banyak berkeliaran di internet, capaian ideal yang dibayangkan mengerucut kepada dua hal (kalau saya tidak salah menyimpulkan) yaitu kesejahteraan ekonomi dan keunggulan sumber daya manusia.

Keduanya mengingatkan saya kepada istilah WEIRD yang dikenalkan pertama kali oleh ahli-ahli psikologi budaya Joe Henrich, Steve Heine, dan Ara Norenzayan dalam sebuah artikel berjudul “The Weirdest People in The World”. WEIRD sendiri adalah akronim dari western, educated, industrialized, rich, and democratic atau kebaratan, teredukasi, terindustrialisasi, kaya, dan berdemokrasi.

Saya berhipotesis bahwa visi dan misi RPJPN yang tercapai nanti di tahun 2045 akan membawa karakter-karakter orang Indonesia kepada lima poin yang ada pada kata WEIRD di atas. Kita setuju dengan empat poin terakhir dari WEIRD, tapi bagaimana dengan poin western, bukankah kita berada di timur yang lebih santun? Kita tidak mungkin berubah menjadi western. Jawabannya mudah, seperti yang diungkapkan oleh Istiliani dan Suryo Ediyono di dalam jurnalnya bahwa westernisasi sudah ada sejak kolonialisme dan imperialisme masuk ke Indonesia, dan semakin melaju cepat dengan hadirnya teknologi.

Saya menampilkan istilah WEIRD di sini sebagai bentuk keresahan atas dua ciri utama yang biasa dimiliki oleh mereka. Ciri utama yang pertama adalah mereka melihat dunia sebagai individu-individu yang terpisah bukan sebagai satu kesatuan. Kalaupun ada kesatuan, maka tetap mereka memandangnya sebagai individu-individu yang kebetulan tujuan pribadinya sama. Ini tentu bertolak belakang dengan Bhinneka Tunggal Ika yang menghendaki adanya satu kesatuan yang melebur dalam penerapannya.

Ciri yang kedua adalah mereka tidak memakai keenam dimensi moral yang sudah saya sebutkan tadi. Ini juga menjadi masalah serius yang akan menimbulkan gesekan-gesekan yang lebih besar sebagai akibat dari sifat intoleran yang muncul atas ketidakmampuan memahami suku-suku yang beragam di Indonesia.

Serangan dari Dua Arah!

Selain tantangan yang timbul dari Masyarakat WEIRD, Indonesia juga sedang bertahan dari perkembangan paham radikalisme. Dilansir dari situs Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, indeks potensi radikalisme memang turun pada tahun 2022 sebesar 2,2 persen menjadi 10 persen, dari 12,2 persen pada tahun 2020. Namun, jumlah 10 persen tersebut cukup besar untuk menjelma menjadi black swan jika tidak diperhatikan secara berkala. Apalagi dengan kemajuan teknologi dan cepatnya penyebaran informasi, maka hal tersebut semakin susah diprediksi. Keharmonisan bineka di Indonesia bisa menguap kapan pun sama seperti yang terjadi di Lebanon.

Masyarakat WEIRD dan radikal adalah dua serangan yang bisa melubangi benteng pertahanan Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Keduanya sama-sama punya sifat intoleran walaupun dalam dimensi moral yang berbeda. Masyarakat WEIRD intoleran dalam tiga dimensi moral terakhir sedangkan masyarakat radikal dalam tiga dimensi moral pertama. Bayangkan keenam dimensi moral yang sudah harmonis dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika akan diserang dari dua arah yang berbeda.

Memang Diaspora Kita di Mesir Bisa Apa sih?

Dari lima misi utama Indonesia Emas 2045 yang tertuang dalam RPJPN 2025-2045, kita akui saja bahwa kita tidak bisa banyak membantu karena memang kita tidak bisa mengambil pelajaran dari bidang ekonomi, pembangunan ataupun kesejahteraan di sini, berbeda dengan diaspora lain yang berada di negara-negara maju seperti Belanda, Amerika, Inggris, dan sebagainya. Maka, kita tidak bisa ikut membantu dalam perubahan dan kemajuan di bidang-bidang tersebut. 

Tapi jangan salah paham dulu, justru saya berpandangan tugas terberat ada di pundak kita. Saya telah menyajikan di awal bagaimana Bhinneka Tunggal Ika adalah kekuatan besar yang dimiliki Indonesia maka kita harus menjaganya, kemudian saya menyajikan tantangan-tantangan yang terjadi akibat keragaman yang kita miliki. Terakhir, tantangan tersebut malah diperparah dengan serangan dua arah yang menyerang Indonesia.

Dari poin itu semua, sangat tidak berlebihan mengatakan bahwa diaspora Indonesia di Mesir adalah kunci penting dalam mengawal Indonesia Emas 2045 khususnya, dan persatuan Indonesia umumnya, dengan wasatiyah islamiyahnya. Pola perubahan masyarakat yang tidak menentu akan menjadi gonjang-ganjing yang menggoyahkan Bhinneka Tunggal Ika. Menjaga keseimbangan sama nilainya dengan menciptakan perubahan-perubahan strategis bagi Indonesia yang akan dilakukan diasporanya dari negara maju. Malah, tidak akan ada perubahan tanpa keseimbangan yang dimiliki oleh suatu bangsa. Situasi chaos akan menahan suatu bangsa untuk bisa melangkah ke depan.

Wasatiyah islamiyah sendiri adalah antibodi penyeimbang bagi sikap intoleran yang muncul sebagai akibat dari sikap WEIRD dan radikal. Al-Azhar sudah sangat masyhur dengan paham wasatiyah islamiyah-nya. Hal ini semakin ditegaskan lagi dengan penandatanganan dokumen perdamaian antara pemimpin tertinggi Al-Azhar (Grand Syekh Imam Ahmad ath-Thayyib) dengan pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma (Paus Fransiskus) yang berjudul “Human Fraternity for World Peace and Living Together” atau “Persaudaraan Manusia demi Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama”.  Maka, ini adalah oleh-oleh berharga yang bisa kita bawa pulang sebagai hadiah untuk bangsa Indonesia.

Strategi Bertahan Kita

Dengan adanya ancaman dari dua arah yang berbeda, Saya akan menyebutnya sebagai peperangan, peperangan untuk menjaga kesatuan Indonesia. Sebuah peperangan akan mudah dimenangkan ketika kita punya strategi dan pasukan yang terorganisir. Maka, saya mengajukan bahwa diaspora kita harus punya keduanya dalam kaitannya menjaga keseimbangan Bhinneka Tunggal Ika.

Kita punya Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) di Indonesia. Apabila dikelola dengan baik, OIAA adalah kekuatan yang kita miliki untuk tantangan-tantangan yang dimiliki bangsa Indonesia. Sejauh ini OIAA hanya tersorot ketika mendekati upacara tahunan agenda calon mahasiswa baru. Maka, program baru terkait penyebaran wasatiyah islamiyah sebagai antibodi yang kita bawa dari Al-Azhar harus segera dirancangkan. 

Strategi jitu yang kita pakai harus sesuai dengan medan perang yang ada. Sosial media adalah medan perang pertama, maka kita harus membentuk tim media dan riset untuk memberikan antibodi yang sesuai dengan racun yang ada. Sistem pendidikan di Indonesia adalah selanjutnya, menanamkan ideologi wasatiyah islamiyah akan lebih mudah jika diterapkan dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Tak cuma kurikulum, guru pengajar juga harus dijangkau dalam hal ini. Masjid harus mendapat perhatian lebih, terutama masjid-masjid kecil yang ada di pelosok daerah. Indah rasanya menjadikan masjid di Indonesia layaknya jami’ Azhar, yaitu sebagai pusat peradaban.

Apa yang Terlewat oleh Saya

Rasanya ide-ide saya di atas hanya menjadi idealisme semata bila melihat kenyataan yang terjadi di lapangan Mesir ini. Saya terlalu idealis sampai mengharapkan diaspora kita bisa menjadi penyeimbang untuk perubahan yang akan terjadi dalam perjalanan Indonesia menjadi negara maju. Kita masih sangat naif dalam memahami arah serta tujuan bersama sebagai diaspora yang berasal dari Indonesia. Kita terkesan hanya sebagai individu-individu yang memiliki tujuanya sendiri-sendiri.

Orang yang rajin menimba ilmu biasanya tidak terlalu suka dengan organisasi, pun sebaliknya orang yang berorganisasi tertinggal jauh dari mereka yang fokus membangun pondasi keilmuan. Yang pertama tak acuh terhadap fakta sosial, yang kedua tak memahami wasatiyah islamiyah secara komprehensif. Sebelum terjun di Indonesia nanti, hendaknya kita mulai dengan masalah kita di bumi Kinanah ini dulu. Penerapan wasatiyah islamiyah tidak bisa kita lakukan tanpa adanya ilmu yang cukup. Pun begitu, tidak bisa kita lakukan tanpa adanya sebuah pasukan yang terorganisir. Terpecah-pecahnya kita di sini adalah gambaran terpecah-pecahnya kita di Indonesia nanti. 

Mari kita bersama memenuhi ruang-ruang yang sering kosong di jami’ Azhar saat pengajian berlangsung dan ayo kita duduki bangku-bangku kuliah yang rindu akan kehangatan dari kita semua. Khatam dan pahami muqorror yang sudah disusun dengan baik oleh guru-guru kita, talkhisan tidak pernah memberi gambaran besar terhadap ideologi yang dimiliki Al-Azhar. Pahami wasatiyah islamiyah, jangan biarkan ia menjadi jasad tanpa ruh yang tidak termanifestasi dalam perilaku dan ideologi.

Pun begitu, jangan cuma belajar dan apatis terhadap fakta sosial. Penuhi kursi-kursi PPMI agar program-programnya ke depan dapat merajut kesatuan diaspora kita di Mesir dalam bingkai wasatiyah islamiyah dan Bhinneka Tunggal Ika. Jangan biarkan perahu berlayar tanpa arah yang jelas dan peta yang mapan karena mereka akan berakhir karam di suatu pulau yang tak diinginkan. 

Kalau memang terlalu berkhayal ada orang yang bisa memegang itu semua dengan baik, maka mari buat sinergi bersama. Organisator tak perlu jemawa bertanya kepada para cendekia yang telah menghabiskan waktu dengan bukunya, pun cendekia harus memberi perhatian terhadap organisasi yang dapat menjadi roda penggerak umat. Bersatulah Masisir sebagaimana Bhinneka Tunggal Ika!

Oleh: Gaza Satria Lutfi
Juara 3 Lomba Esai pada Festival El Barra 2024

Penyunting: Rifqi Taqiyuddin

Baca juga: Terjun Bebas ala Beasiswa Kemenag