Fase kesusahan dan malas dalam menghafal Al-Qur’an itu pasti ada, intinya jangan putus semangat dan jalani sebaik mungkin. Bersyukurlah dapat bergabung dalam komunitas Al-Qur’an seperti MAQURAA.


Demikian pesan bijak ustaz H. Ahmad Manfaluti, Lc., Al-Hafiz, seorang hafiz pertama MAQURAA, yang disampaikan dalam walimatussafar atau perpisahan sebelum kepulangan beliau ke Indonesia. Acara tersebut dilaksanakan pada Jum’at(14/9) pagi di Rumah MAQURAA VI, Abbas El-Akkad.


“Bukan saya yang hebat, namun keinginan dan perhatian luar biasa ustaz Arief yang menjadikan saya selesai. Saat itu saya malas, tapi karena sering ditanya kapan setor, mau tidak mau ya saya setor sampai akhirnya selesai,” terangnya bercerita proses menyetorkan hafalannya dulu.


Beliau bercerita pertemuaanya dengan ustaz Arif ketika mengikuti Musabaqah Hifdzil Qur’an. “Saat itu ustaz Arief menjadi juri bersama ustaz Fikri. Selesai perlombaan, saya belajar pada ustaz Fikri. Setelah cukup lama, beliau mempertemukan saya dengan ustaz Arief untuk belajar lebih dalam,” tambahnya.


Suatu saat nanti, lanjutnya, gantian kalian yang akan mengabdi untuk MAQURAA. “Disamping sebagai bentuk terima kasih, pengabdian juga merupakan cara kita menjaga adab terhadap guru, yang telah meluangkan waktu untuk mendidik dan membimbing kita,” ujarnya berpesan pada para mahasantri.




Kesadaran mengabdi beliau dapat dari ayahnya. Suatu ketika setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di kelas 2 Aliyah, beliau ingin pindah ke pesantren khusus membaca kitab. Namun setelah meminta nasihat orang tua, beliau mengurungkan niat tersebut. 


“Bagaimana mungkin gurumu yang telah mendidik dan membimbingmu sejak kecil kamu tinggalkan begitu saja? Dimana adabmu terhadap guru?” ujarnya meniru nasihat ayahnya dulu.


Dalam konteks di MAQURAA, bagaimana mungkin setelah mendapat bimbingan bahkan sanad dari ustaz Arief, lantas kita pergi begitu saja tanpa memberikan balasan yang selayaknya. “Dalam hal ini mengabdi menjadi penting sebagai tanda balas jasa dan cara kita menjaga adab terhadap guru,” tegasnya.


Direktur MAQURAA ustaz Arief Wardhani, Lc., M.Hum., dalam sambutannya bercerita bahwa ustaz Manfaluti ialah mahasantri pertama yang menyelesaikan setoran Al-Qur’an dan mengambil sanad darinya. “Tidak tanggung-tanggung, beliau dulu setor langsung 3 qira’at. Qiraat Ibn Amir riwayat Hisyam dan Ibn Zakwan; qiraat Ashim riwayat Syu’bah dan Hafs; qiraat Al Kisa’i riwayat abu al Harits dan ad Dury”


Beliau juga memuji semangat ustaz Manfaluti dalam membantu dan mengajar di MAQURAA. “Memang tidak pernah satu atap, namun selalu siap mengajar dan membantu kapan saja beliau diminta,” imbuhnya. Ustaz Arief kemudian berharap sepulangnya ustaz Manfaluti nanti, dapat berdiri MAQURAA-MAQURAA lainnya di Indonesia.


“Saya punya harapan 10 tahun kedepan, kita dapat mewarnai Indonesia dengan sistem muraja’ah yang telah kita buat. Menghafal Al-Qur’an dengan tahfiz bersanad,” tutur ustaz Arief.


Mewakili mahasantri MAQURAA, H. Ahmad Shodiqil Wa’di, Lc menyampaikan kesannya terhadap ustaz Manfaluti. “Hampir semua yang pernah bertemu beliau sepakat beliau sosok yang sangat tawadhu’. Hafalannya juga kuat. Semoga kita bisa meneledani beliau,” katanya.


Terakhir, ustaz Arief memberikan pesan bijak kepada para mahasantri lainnya. “Tidak ada kata khatam bagi penghafal Al-Qur’an. Khatam terakhir seorang penghafal Al-Qur’an ada pada nafas terakhir ia hidup di dunia,” tegasnya.


Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian Piagam kepada ustaz Manfaluti oleh Direktur MAQURAA, lalu bersalaman dan foto bersama. Ustaz Manfaluti berangkat menuju tanah air pada Jum’at pukul 18.00 dari Bandara Kairo. Semoga keselamatan dan barokah selalu mengiringi langkah beliau. Aamiin.