“Nanggung bu, ini lagi seru-serunya, nanti aja belajarnya,” bantahan si anak ketika disuruh belajar. Ia mengacuhkan perintah orang tua demi memuaskan hasratnya untuk bermain gawai. Suatu keprihatinan yang sudah mendarah daging pada generasi milenial saat ini.
Tak bisa dipungkiri, teknologi banyak membantu pekerjaan manusia dan menjadikannya lebih mudah dan efisien, Salah satunya adalah gawai. Jika dahulu seseorang harus bertatap muka dalam berkabar, kini cukup menggunakan gawai. Pun, penggunaan gawai tidak berbatas usia dan kasta, sehingga jarak dan waktu tidak lagi menjadi masalah dalam berkomunikasi.
Di lingkaran keluarga, orang tua membelikan gawai untuk anaknya sebagai sarana berkomunikasi, khususnya untuk mereka yang sekolahnya jauh dari rumah. Selain itu, gawai juga berfungsi sebagai alat bermain yang mencegah sang anak untuk bermain di luar rumah sehingga orang tua tidak perlu susah payah untuk mengawasi kegiatan bermain anak. Dari sini kita bisa melihat bahwa orang tua menggunakan gawai untuk memaksimalkan pengawasan terhadap anak.
Akan tetapi, perlu kita ketahui bahwa masa anak-anak adalah masa efektif belajar dan pembentukan karakter, khususnya masa The Golden Age (usia 1-5 tahun). Menurut Loeziana Uce, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, pada masa tersebut, kecerdasan kognitif, motorik, emosional dan sosial sedang mengalami tahap perkembangan yang pesat. Persentase kapabilitas perkembangan kecerdasan anak menurut kajian neurologi ialah 50% untuk usia 4 tahun, 80% untuk usia 8 tahun hingga mengalami masa puncak pada usia 18 tahun.
Perkembangan kecerdasan kognitif anak ditandai dengan rasa peka yang tinggi terhadap lingkungan sekitar. Mereka akan mempertanyakan segala hal yang dilihat, didengar dan dirasakan dan melakukan imitasi atas segala perilaku orang sekitarnya, khususnya orang tua. Sedangkan untuk perkembangan motorik, emosional dan sosial berlangsung ketika anak bermain dengan teman sebayanya di luar rumah. Mereka bermain dengan mengerahkan seluruh kemampuan fisiknya sembari bersosial dengan sesamanya. Bisa dikatakan, seluruh perkembangan tersebut mensyaratkan interaksi langsung dengan lingkungan sekitarnya.
Lantas, bagaimana dengan anak-anak yang interaksinya hanya dengan gawai? Menurut saya, mereka tetap mengalami perkembangan tersebut dengan intensitas yang rendah karena gawai merampas proses interaksi langsung terhadap lingkungan sekitar, khususnya dalam bersosial. Jane Cindy, psikolog dari Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta, mengatakan bahwa anak yang sudah kecanduan gawai akan terbiasa mendapatkan kesenangan dengan pola satu arah. Mereka lebih suka bermain sendiri menggunakan gawai ketimbang bermain dengan teman-temannya. Hal ini dapat menghambat perkembangan interaksi sosial bagi anak dan secara tidak langsung membentuk pribadi yang tidak bertanggung jawab.
Selain itu, sebuah studi bertajuk Personal and Environmental Associations with Children’s Health Project yang dilakukan pada 1000 anak di Amerika Serikat menemukan bahwa penggunaan gawai lebih dari dua jam bisa meningkatkan risiko depresi, kecemasan, sulit tidur, serta mempengaruhi kemampuan motorik anak yang berdampak pada perilakunya.
Dengan ini dapat disimpulkan bahwa gawai memiliki banyak dampak negatif bagi anak. Meskipun di sisi lain gawai juga membantu menstimulasi imajinasi dan daya pikir anak. Oleh sebab itu, dibutuhkan penanganan yang bijak dalam masalah ini
Di sini saya memiliki beberapa solusi agar untuk mengurangi dampak negatif gawai. Pertama, membatasi waktu penggunaan gawai. Intensitas hiburan di gawai lebih tidak terbatas dari pada televisi yang dibatasi oleh jam tayang sehingga bisa diakses kapan saja. Dari sini pembatasan jam tayang penggunaan gawai dapat mengurangi efek samping gawai, semisal pembatasan jam tayang menonton kartun Larva di Youtube dari pukul 6-7 pagi setiap hari. Kedua, mengarahkan untuk melihat konten positif. Tidak bisa dipungkiri, gawai juga menyediakan konten positif dalam bentuk video, game dan artikel, semisal provider Icivic yang menyediakan game edukasi berbasis simulasi pemerintahan dan hukum. Orang tua dapat memanfaatkan konten positif tersebut untuk membantu perkembangan kecerdasan kognitif anak.
Ketiga, memanfaatkan fitur pengawasan yang disediakan provider gawai. Duo raksasa provider smartphone, Android dan Apple, menyadari bahwa pengguna smartphone tidak hanya orang dewasa. Oleh karena itu, mereka berusaha menambahkan fitur-fitur keamanan, khususnya penyaringan konten, untuk pengguna di bawah umur. Salah satunya adalah fitur Family ID dari Apple, fitur keamanan berbasis sharing account ini memudahkan para orang tua untuk memantau konten yang diakses oleh anak tanpa harus mengontrol smartphone anak setiap waktu. Segala konten yang dibuka oleh anak bisa langsung terlaporkan ke orang tua sehingga jika terdapat konten berbahaya bisa segera diblokir.
Seluruh solusi tersebut dapat dilaksanakan jika orang tua melek teknologi. Maka, sudah saatnya bagi orang tua untuk “kepo” terhadap apa yang dimainkan anaknya. Perkembangan teknologi merupakan suatu hal yang tidak bisa ditolak, yang bisa dilakukan hanyalah memanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan mencegah keburukan sedini mungkin.

 

Oleh: Dzurriyah Ahsantiyah

The post Gawai dan Perkembangan Anak appeared first on GAMAJATIM Mesir.

Leave a Reply