Oleh: Rofi’ah

Dari masa ke masa, persoalan terbesar bagi Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) adalah fakta bahwa mereka tidak terlalu cakap dalam berbahasa lokal Mesir, untuk tidak disebut gagap bahasa. Memang, setiap individu yang memasuki suatu lingkungan dengan budaya baru, cenderung mengalami gegar budaya, namun apakah masih dalam batas wajar, jika seorang masisir tingkat tiga perkuliahan masih kesulitan untuk berbicara bahasa lokal Mesir? Jangankan bercakap panjang lebar dengan seorang warga Mesir, untuk membeli lada di warung saja ia hanya bisa menunjuknya dengan isyarat tangan.

Ketika seseorang memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar negeri, setidaknya ada tiga hal yang harus dipersiapkan sebelum keberangkatannya; kondisi fisik dan finansial, kematangan intelektual dan emosional, serta penentuan cultural negara yang akan dituju. Jika salah satu dari ketiganya terlupakan, tentu akan memperbesar kemungkinan ia mengalami gegar budaya. Apalagi jika yang terlupakan itu adalah penentuan cultural negara yang akan dituju, khususnya perihal bahasa apa yang digunakan warganya sehari-hari.

Manusia adalah makhluk sosio-budaya yang memperoleh perilakunya lewat belajar. Apa yang seorang individu pelajari pada umumnya dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Dari semua aspek belajar manusia, komunikasi merupakan aspek yang terpenting dan paling mendasar.  Bila dilakukan, kegiatan-kegiatan komunikasi berfungsi sebagai alat untuk menafsirkan lingkungan fisik dan sosial manusia. Komunikasi merupakan alat utama untuk memanfaatkan berbagai sumber daya lingkungan dalam pelayanan kemanusiaan. Lewat komunikasi, seseorang akan dengan mudah menyesuaikan diri dan berhubungan dengan lingkungan, serta mendapat keanggotaan dan rasa memiliki dalam berbagai kelompok sosial.

Lalu, apa kaitan semua ini dengan gegar budaya?

Ilustrasi | youtube.com/watch?v=Q9HmF6cfdeU

Gegar budaya merupakan padanan kata dari istilah dalam Bahasa Inggris, culture shock. Gegar budaya yaitu adanya ketidaksiapan menerima budaya yang baru pada kehidupan. Ia adalah penyakit yang diderita orang-orang yang tiba-tiba berpindah atau dipindahkan ke lingkungan yang baru. Gegar budaya ditimbulkan oleh kecemasan yang disebabkan oleh kehilangan tanda-tanda atau simbol-simbol dalam pergaulan sosial.

Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berpikir, mempercayai dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, praktik komunikasi, tindakan-tindakan sosial, kegiatan ekonomi dan politik, dan tekhnologi. Semua itu berlandaskan pola-pola budaya.

Meskipun ada berbagai variasi redaksi terhadap gegar budaya, dan perbedaan jangka waktu penyesuaian diri, sebagian besar literatur menyatakan bahwa orang biasanya melewati 4 tingkatan gegar budaya. Keempat tingkatan ini dapat digambarkan dalam bentuk kurva u, sehingga disebut u-curve.

Fase optimistic, fase pertama yang digambarkan berada pada bagian kiri atas dari kurva U. fase ini berisi kegembiraan, rasa penuh harapan, dan euphoria sebagai antisipasi individu sebelum memasuki budaya baru

Fase cultural, fase kedua di mana maslah dengan lingkungan baru mulai berkembang, misalnya karena kesulitan bahasa, sistem lalu lintas baru, sekolah baru, dll. Fase ini biasanya ditandai dengan rasa kecewa dan ketidakpuasan. Ini adalah periode krisis dalam gegar budaya. Orang menjadi bingung dan tercengang dengan sekitarnya, dan dapat menjadi frustasi dan mudah tersinggung, bersikap permusuhan, mudah marah, tidak sabaran, dan bahkan menjadi tidak kompeten.

Fase recovery, fase ketiga dimana orang mulai mengerti mengenai budaya barunya. Pada tahap ini, orang secara bertahap membuat penyesuaian dan perubahan dalam caranya menanggulangi budaya baru. Orang-orang dan peristiwa dalam lingkungan baru mulai dapat terprediksi dan tidak terlalu menekan.

Fase penyesuaian, fase terakhir, pada puncak kanan U, orang telah mengerti elemen kunci dari budaya barunya (nilai-nilai, adapt khusus, pola keomunikasi, keyakinan, dll). Kemampuan untuk hidup dalam 2 budaya yang berbeda, biasanya juga disertai dengan rasa puas dan menikmati. Namun beberapa ahli menyatakan bahwa, untuk dapat hidup dalam 2 budaya tersebut, seseorang akan perlu beradaptasi kembali dengan budayanya terdahulu, dan memunculkan gagasan tentang W curve, yaitu gabungan dari 2 U curve.

Nah kaitannya, dalam hal ini masisir masih stuck di fase cultural, di mana ia merasa kesulitan berbahasa lokal Mesir namun tak kunjung menemukan solusi.

Normalnya, seseorang dapat menguasai bahasa asing pada 6 bulan pertama sejak ia berkomunikasi langsung dengan penutur aslinya. Dengan catatan, ia aktif melakukan percakapan dengan bahasa asing tersebut dan meminimalisir penggunaan bahasa ibu. Namun apa kabar penguasaan bahasa lokal Mesir oleh para masisir?

Kecenderungan masisir untuk bergaul dengan pelajar setanah air —alih alih dengan warga Mesir, menjadikan proses penguasaan bahasa ini melemah. Bagaimana tidak, para masisir dalam sehari-harinya mereka hanya berinteraksi dengan sesama masisir. Berangkat kuliah bersama masisir, duduk sebangku dengan masisir selama lecture, berorganisasi dengan sesama masisir, mengadakan kajian keilmuan berbahasa Indonesia, bahkan dalam satu indekos semua penghuninya adalah pelajar Indonesia. Seakan tak ada beda antara hidup di negeri sendiri dengan hidup di negeri orang.

Menarik memang. Bagaimana seorang pelajar asing yang tujuan kedatangannya untuk belajar bahasa asing tersebut, malah tidak bisa mengaplikasikan bahasa dalam percakapan sehari-hari, padahal ia dikelilingi oleh banyak penutur asli. Maka tidak mengherankan apabila beberapa warga Mesir cenderung meremehkan pelajar Indonesia dalam urusan-urusan kecil, seperti ketika transaksi di pasar.

Menurut saya, semua ini disebabkan oleh ketiadaan sistem reward and punnishment dalam masalah penggunaan bahasa lokal. Di pondok pesantren saya dulu, seluruh santri baru diwajibkan menggunakan bahasa asing —Inggris dan Arab, bahkan sejak hari pertama mereka masuk pondok. Lalu setelah berjalan 6 bulan, sistem reward and punnishment diberlakukan. Mereka yang bercakap dengan bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah lainnya, akan mendapat hukuman sama persis seperti hukuman yang diberikan kepada kakak kelas mereka. Sebaliknya, siapa yang menjadi teladan dalam berbahasa, akan diberikan apresiasi. Cara ini terbukti ampuh membangkitkan semangat santri baru dalam berbahasa Inggris dan Arab. Dan saya rasa, sistem reward and punnishment perlu juga diadakan di kalangan masisir.

Jadi, selain kesadaran diri sendiri untuk mengasah bahasa lokal Mesir, sebaiknya dibentuk sebuah lembaga yang bergerak di bidang penguasaan bahasa lokal Mesir untuk mendorong peningkatan bahasa para masisir. Yang mana dengan meningkatnya penguasaan bahasa lokal Mesir, para masisir dapat beranjak dari fase cultural menuju fase recovery, dan bahkan hingga mencapai fase penyesuaian agar mereka dapat sembuh dari penyakit gegar budaya. Dan tentunya, agar warga Mesir tak lagi memandang pelajar Indonesia sebelah mata.