Oleh: Imam Mustafa

Sekarang sudah 2018, hmmm… Biasanya orang-orang bilang “Tidak terasa hari-hari berlalu begitu cepat”, kurasa tidak bagi kami, entah kenapa semenjak menanti sesuatu yang tak pasti, hari-hari terasa sangat lambat, apalagi BBM naik, jadi terasa makin lambat.

Duduk manis menatap langit, sambil liatin awan mondar-mandir, mungkin ini juga bisa dinamakan yang namanya menunggu. Iya! Menunggu yang sangat lama, kayak menunggu perubahan zaman, mulai zaman purba, Mukidi, Dimas kanjeng, Lucinta luna sampai tiktok diblokir gegara dj Aisyah sama dj Hime terlalu bergema di dunia maya. Masih ingat sama mukidi?

Virus lambat berangkat harus dibasmi sebagaimana membasminya wabah tiktok.

Seharusnya selama kami menunggu kami bisa mengisi waktu luang kami dengan hal bermanfaat, tapi karena menanti hal yang tak pasti ini terlalu lama dan banyak sekali PHPnya, kami hanya bisa membiarkan waktu berlalu sia-sia.

“Eh ada apa?”

Mungkin itu yang sedang dipikirkan pembaca postingan ini. Jawabnya kami sedang dilanda kegelisahan dan kegalauan tingkat DEWA karena menunggu kapan BERANGKATNYA KAMI KE MESIR, perasaan sabar yang dipenuhi kekecewaan ini sudah di ujung atom tanduk karena menunggu lebih dari satu tahun, kami tidak tahu kenapa jadi sangat lambat seperti ini.

Pengumuman kelulusan seleksi kemenag Al Azhar 2018 pun sudah keluar, padahal kami yang 2017 aja belum berangkat (pengen ngakak sambil nangis liatnyaūüė≠) dan sekarang mereka ada lagi, kira-kira mereka para penerima beasiswa bakal kayak kami juga engga ya? NUNGGUIN SATU TAHUN LEBIH. Aku pribadi ingin bertanya kepada kalian semua, menurut kalian

Apakah lebih baik ambil non beasiswa ataukah ambil beasiswa dan menunggu lebih satu tahun tanpa ada kepastian dan bahkan nama kami dicancel sebagai penerima beasiswa?

Karena menunggu beasiswa ini terasa lebih sulit daripada menungu kepastian si Dia. (ea… ea… ea…)

Apakah lebih baik langsung berangkat ke Mesir dan belajar di sana dengan jalur non beasiswa atau menunggu tetap di jalur beasiswa?

Lebih berharga mana waktumu atau menunggu dengan beasiswa yang sangat susah didapatkan waktu kepastiannya?

Jawab aja dalam hati kalian masing-masing, mungkin para penerima beasiswa akan dilema setelah membaca pertanyaan di atas.

Apakah beasiswa ataukah non?

Saat ini kegalauan yang melanda kami para penerima beasiswa sudah merata, serasa ingin menyanyikan lagu BCL yang judulnya kecewa.

Aku pergi ke dapur, lalu ambil ember, aku taruh terbalik di lantai, kemudian aku naiki, berdiri dengan gaya seperti orang yang sedang mengumandangkan azan, aku nyanyikan

“Kuingin marah melampiaskan, tapi ku hanya sendiri di sini. INGIN KUTUNJUKKAN PADA SIAPA SAJA YANG ADA, BAHWA HATIKU KECEWAAaaaaAAaaaa” (A nya berayun-ayun kayak azan beneran)

Haha! Seperti itulah hayalanku sekarang.

Juga efek dari kegalauan yang melanda banyaknya dari kami yang membuat status-status PENANTIAN, berhap ada yang bisa membantu.

Di bawah ini adalah beberapa status dari teman-teman, silakan menikmati ke-Galau-an kami.

__________________

Status 01

BOSAN MENANTI HARAPAN

Malam ini, Terasa lebih dingin dari beberapa malam terakhir. Entah mengapa ada firasat yang aneh…
Dan ternyata benar. Pukul 23:05 WIB, ada satu chat masuk di grup beasiswa Al-Azhar.
La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim…
Ternyata info keberangkatan camaba bu’ust Al-Azhar 17/18…

Begitu hancur hati ini sa’at kata demi kata dibaca…Seakan Otak Yang Terbenturkan, sakit dan retak.
Penantian yang sudah setahun lebih dijalani, akhirnya harus menelan pil pahit. Jadwal yang sudah dinanti-nanti, nyatanya hanya “perminta’an maaf”…
Informasi apalagi yang akan diberi?
Ah, Masa bodoh. Mau sampai kapan akan dikasih info seperti ini ???

_______________

Status 02
HANYA MENUNGGU DAN MENUNGGU…

Menunggu adalah kegiatan yang paling membosankan. Terlebih untuk sesuatu yang tanpa ada kepastian…
Ke sana kemari seperti orang bodoh yang tak tahu arah. Belum pasti bulan ini berangkat, belum pasti tahun ini dan belum pasti berangkat.
Kamu tahu rasanya dikasih harapan palsu ???
Sakit tahu !!!!
Begitu kata salah seorang saudara kami dari Lombok.

Begitu pula yang kami alami. Setelah sekian lama menanti, tak juga kunjung pergi. Masih saja setia menunggu tiket… (Alasannya)
Aneh kan???
Memang mahal, tapi kalau untuk sekali, kami juga mampu membeli…
Kenapa harus sampai detik ini kau belum kunjung datang tiket ? Oh tiket… lucu kalau membayangkan kuliah kami digantung tiket pesawat… Hahaha…

Kepada siapa kami marah ???
Apakah karena kami terlalu egois atau emosi ??? Sehingga melihat yang salah menjadi benar, yang benar menjadi salah, atau memang hakikatnya begitu…Bingung.
Jadwalnya bulan juli ???
Juli dari mana ???
Ini juli Kakak !!!
Menunggu sampai ada yang mengundurkan diri lagi ???
Kamu tahu rasanya di tinggal keluarga yang baru di miliki ???
Sedih tahu !!!

_________________

Status 03
KEPASTIAN TAK KUNJUNG DATANG

Tak ada yang bisa kami lakukan… Kecuali hanya berdo’a. Sampai kapan do’a kita panjatkan ??? Sampai kepastian diberikan… sampai kapan ???
Kepastian saja tidak punya, bagaimana mau memberi kapastian? Mimpi !!!

Pikiran kami kian hari bertambah buyar. Bagaimana mau belajar, setiap hari hanya berpikir kapan tiket keluar. Dan entah, harus sampai kapan lagi kami di minta bersabar…
Minggu depan InsyaAllah berangkat. Bulan depan InsyaAllah berangkat. Tahun depan belum juga berangkat. Hahaha. Kasihan kan….

“Daftar PHP”

1. Agustus 2017
2. September bareng non beasiswa
3. Januari 2018 (seperti tahun kemarin)
4. Maret 2018 (gelombang 1)
5. Mei 2018 (seminggu setelah visa turun)
6. July 2018
7. Agustus 2018
8. September 2018.

Tolong jangan sampai ini dilanjutkan ke 2019, tak bisa digambarkan bagaimana hancurnya perasaan dan hati kami dan keluarga kami…!!!

Yang kurang dari kami apa ???
Muwafaqoh aman daulah ? Sudah.
Berkas berkas ? Sudah.
Apa yang kurang ???
Surat Kementrian Luar Negeri ? Apa kaitannya…
Sudahlah…
Tinggal bilang kalian belum bisa berangkat tahun ini apa susahnya ?
Do’akah yang kurang ?
Kesabaran ?
Atau keberuntungan ?
Mau sampai kapan ?
Kecewa tahu !!!
Kamipun tak tahu, kata-kata ini tertuju sama siapa. Tapi…Entahlah…

________________

Status 04
HILANGNYA 3 NAMA SAUDARA KAMI…

Setahun lebih dua bulan kami menunggu. Katanya istimewa? Apa ukurannya?
Lama?
“Semakin lama menunggu semakin kamu menjadi istimewa”. Seperti itu???
“Semakin istimewa kamu, maka semakin diuji kesabaranmu”.
Terus??
Artinya, “semakin lama menunggu, semakin diuji kesabaranmu”…

Dari 1400 lebih camaba, tersisa 72. Itupun sudah banyak saudara kami yang namanya hilang, Ada yang ke Negeri seberang, ada juga yang SENGAJA DIHILANGLAN, KENAPA NAMA BISA HILANG???
HILANG KEMANA NAMA SAUDARA KAMI???
Beasiswa macam apa ini, kayak main sulap sulapan aja…
Mau kasih alasan apalagi???
Aturan baru? Kebijakan baru? Atau kebijakan dan aturan yang baru kamu buat untuk kepentinganmu?
Oh. Tidak. Tolong kami…
Kepada siapa kami melapor? Allah?
Ah. Sudah lah… Toh 3 SAUDARA KAMI bukanlah sembarang orang. Mereka adalah ORANG PILIHAN…
Kami ulangi lagi… KENAPA NAMA ITU HILANG ??? Apa kalian tidak melihat yang dibawah, apa kalian hanya bisa melihat yang di atas… Taukah kalian… betapa sakitnya hati orang tua mereka, guru-guru mereka, hati orang tua kami memang sakit karena keadaan kami yang seperti ini, tapi itu semua tak sebanding dengan sakitnya hati orang tua mereka, belum lagi jika salah satu dari mereka orang tuanya udah meninggal… kalian mau minta maaf sama siapa… bahkan saat kami tanya mengapa bisa hilang, tak satupun jawaban yang jelas… Ah udahlah, mungkin ini hanya sebatas rintihan dari orang2 yang gak penting.

___________________

Status 05

BUTUH PERHATIAN LEBIH

Sejujurnya, dari awal kami tidak meminta banyak. Karena sudah pasti, apa yang kami minta tak akan dituruti. “Berangkat sekarang juga!”.

Hanya sebatas perhatian, Tidak lebih. Andai mereka tahu. Betapa rindunya kami dengan Al-Azhar As-Syarif, Betapa cintanya kami pada negeri Kinanah dan betapa inginnya kami segera bertemu dengan keluarga para Nabi…

Kalaupun belum bisa menginjakkan kaki di bumi Kinanah, setidaknya kami ingin menjabat penghuninya, Mendengar ceritanya dan mendapat sambutan hangat dari senior di sana.
Tapi apa?
Nyatanya tidak. Uluran perhatian belum pernah kami terima. Kalau pun di kasih, hanya sebatas informasi, itupun masih harus kami tanya..
Kami ingin ikatan lebih Kakak!!!
Bukan sekedar ikatan pebisnis. Kamu jual saya beli.
Kami ingin kalian bilang “kamu sakit aku peduli”.
Bukan hanya diam dan tanpa kata…
Kami tak tahu isi hati kalian…
Sapalah kami.
Kasih semangat kami.
Haruskah kami meminta?
Intinya apa?
Bersabar? Bersabar sampai rasa sabar tak ada bedanya dengan hilang harapan…
Tak ada hal lain yang ingin kalian sampaikan???
Tak ada yang ingin kalian bagi? Ayolah… tolong… Kami sakit senior… Kalian satu-satunya harapan kami setelah Rabbul’alamin…
Semarang 180703…

_____________

Iklan

Dan sekarang kami hanya bisa menunggu, kami tak akan berhenti karena sudah sangat banyak yang kami korbankan, kalau kami berhenti menunggu maka pengorbanan waktu kami selama satu tahun akan sia-sia.

Kami harus kuat menanti

mungkin kalau diadu antara rindu nungguin jodoh sama nungguin kepastian kapan berangkat, rasanya nungguin jodoh itu serasa basi.

Terakhir rasa syukur dan terima kasih buat semuanya yang sudah membantu.

Buat kaka-kaka kelas yang membantu mengurus, karena tanpa bantuan mereka kami tak bisa berbuat apa-apa, karena hanya mereka penyambung informasi, menanyakan informasi beasiswa kami, membantu pengurusan dan menyampaikan kepada kami.

Mungkin lambatnya birokrasi di Mesirlah yang menghambat keberangkatan kami.

Rasa terimakasih yang tak terujung kepada kakak² kelas yang sabar dan ikhlas membantu kami dalam pencarian info keberangkatan.

PRAHARA DI AKHIR PENANTIAN

Akhirnya setelah kami menunggu sekian lama, kami tiba di Mesir Pada tanggal 17 September 2018

Alhamdulillah

Leave a Reply