Ditulis Oleh: Maulana Abdul Aziz

Tepatnya di pasanggrahan KPMJB.

Sore belum usai, namun langit begitu gelap. Bersama angin sahara, debu berputar menyapa gedung-gedung, pepohonan, lalu pamit meninggalkan jejak di sela-sela jendela. Hanya beberapa lampu yang dinyalakan di Pasanggrahan. Bahkan di Aula, tak satupun lampu dinyalakan karena cahaya sore dari jendela masih cukup untuk sekadar menjaga penglihatan.

Jika tidak ada orang di Pasanggrahan, Aula ini nampak sunyi dan kosong. Beberapa orang yang malas pergi ke Masjid biasanya akan salat magrib atau isya atau subuh di sini. Jika tidak cukup nyali, mereka akan salat di kamar, di antara himpitan teman-teman lain yang sedang baca buku atau nonton atau main game atau tidur.

Tidak banyak yang tahu, tapi kabar itu telah menyebar dari mulut ke mulut, dari telinga ke telinga. Ada yang menunggumu di pojok Aula. Seorang perempuan berbaju putih yang tak pernah seorang pun melihat wajahnya. Terkadang ia menangis, terkadang ia tertawa. Terkadang ia hanya ingin menemanimu bermain dengan ikut menggeser beberapa benda, menarik selimut yang kamu pakai tidur, atau menjadi makmum ketika kamu salat sendirian.

Bulan pertama menghuni Pasanggrahan, kawanku pernah tidur di Balkon. Sambil mendengarkan Rossa bernyanyi, sosok itu berulang kali menarik selimut kawanku. Sampai akhirnya ia ganti playlist menjadi Albaqarah, sosok itu tak lagi mengganggunya.

Di malam berikutnya, giliranku tidur di Balkon itu. Hanya ingin membayar rasa penasaran tapi hanya kuat sampai pukul dua malam. Ya ada yang mengganggu, seperti diperhatikan seseorang. Tapi yang jelas pasti, di Balkon banyak nyamuk.

Suatu sore, seorang kawanku yang lain tengah sendirian di Pasanggrahan. Sementara yang lainnya masih berada di lapang olah raga Nadi Zahraa, ia baru selesai menyelesaikan beberapa kerjaan desain. Sore itu ia salat magrib di Aula, di bagian depan hampir mendekati pojok menuju pintu balkon. Ingin dekat AC, katanya. Rakaat pertama berjalan seperti biasa. Tak ada yang aneh, tak ada yang menarik. Rokaat kedua, ia mulai sadar bahwa sesuatu tengah terjadi di ambang batas kesadarannya. Pori-pori kulitnya membesar dengan sendirinya, tiba-tiba ada gigil yang tak diundang. Di rakaat ketiga, ia benar-benar tidak sendirian di sana. Sesuatu yang begitu lembut membuat bulu kuduknya berdiri. Seseorang telah berbisik tepat di dekat telinganya. Seorang makmum kasat mata yang juga ingin mengamini Alfatihahnya.

Hal serupa juga dialami kawanku yang lain. Waktu itu ia tengah sibuk menyiapkan sebuah acara. Menyiapkan beberapa dekorasi dan tentatif. Ia dengan dua teman lainnya saling bercengkrama, saling menertawakan suatu topik. Tapi di belakang papan background, tepat di pojok aula, mereka mendengar ada orang lain yang juga tertawa dan bercengkrama. Seseorang lain yang barangkali ingin bergabung namun tak pernah dilibatkan.

Di bagian lain rumah ini, di Ruang Kesenian tempat menyimpan berbagai macam alat kesenian seperti Angklung, Calung, Gong, dan Gendang. Ruangan itu tidak sering dijamah orang. Hanya sesekali saja dibersihkan, dan sesekali kali saja dikunjungi untuk mengeluarkan dan memasukkan barang. Ruangan itu nampak sunyi. Jika kamu tidak keberatan, kunjungilah ruangan itu tengah malam, atau menjelang subuh. Barangkali, seseorang telah menunggumu di sana untuk sedikit bermain Gamelan atau Gong.

Malam tadi, seorang kawan berkisah pengalamannya ketika masak sendirian di Dapur. Entah kenapa, ia merasa diperhatikan seseorang dari jarak yang tak begitu jauh. Ya, dari jendela dapur yang di seberangnya terdapat jendela lift. Seseorang sepertinya sedang mengawasinya secara sembunyi-sembunyi. Entah laki-laki, entah perempuan. Kawanku tahu dan menyadari hal itu, tapi tiap kali matanya ingin meyakinkan, sosok itu hilang seketika.

Kisah mistis di Mesir memang tak sebanyak kisah mistis yang kutemui di Indonesia. Meskipun konon katanya Mesir punya dunia persantetan yang jauh lebih ganas dari Indonesia, tapi kukira itu soal lain. Hantu di Mesir tidak sevariatif Indonesia. Tidak ada Kuntilanak, Sundel Bolong, Tuyul, Genderewo, atau Setan Muka Rata. Ketidakberagaman inilah yang membuat industri perfilman horor di Mesir tidak begitu menjanjikan.

Suatu hari aku bertanya pada kawan Mesir soal film horor buatan dalam negeri. Ia bilang, jika yang kamu maksud adalah mummie, itu pernah ada. Tapi jika yang dimaksud adalah seperti film Annabel, The Ring atau The Conjuring, kamu tak akan banyak menemukannya. Kami tak menyukainya. At All.

Jika pun aku berkunjung ke bioskop atau sekadar melewatinya, tak pernah sekalipun ada poster fim horor Mesir yang ditayangkan. Beberapa memang nampak horor, tapi menurutku lebih ke genre thiller dan psikosocial. Mungkinkah di Mesir tak ada hantu? Ataukah terlalu banyak sehingga hantu menjadi topik yang terlalu sensitif untuk difilmkan?

Beberapa mahasiswa Indonesia di Mesir punya kisah menarik seputar hantu dan penampakan. Sayang rasanya tidak diabadikan dengan baik, sebagai kenang-kenangan.

Sebut saja namanya Ali. Ia punya kamar sendiri di lantai tiga, tapi lebih betah menghabiskan malam di perpustakaan yang ada di lantai empat. Perpustakaan Mahasiswa Indonesia di Kairo (PMIK) berada di lantai paling atas Gedung, di bagian yang paling jarang dijamah. Ruangan perpus itu nyaris mistis tanpa cela. Barisan rak buku dengan pencahayaan yang tidak begitu terang dikombinasikan dengan sepi pengunjung adalah kehororan yang hakiki. Malam itu, Ali masih asik masyuk membaca buku. Tiba-tiba ada buku jatuh dari rak. Disusul suara seseorang yang samar seperti hembus angin. Tanpa angin, tanpa gempa, tanpa tikus yang menggoyang apapun, buku itu terjatuh dan berpindah dari tempatnya.

“Enta 3ez eih?” Kata Ali spontan.

Ia memang cukup berani dengan hal-hal semacam itu. Ia datangi sumber suara, tapi tak pernah nampak seorang pun berada di sana. Bukan sekali.

Di gedung yang sama, seorang pengurus PPMI pernah melihat perempuan bertudung layaknya pelajar Malaysia. Ia turun dari tangga lantai perpus tapi tak sempat terlihat rupa wajahnya.

“Ustadzah dari mana?” Tanyanya tak berbalas.

Ia ikuti perempuan itu turun tangga. Mungkin dia tamu hotel di lantai dua, pikirnya. Perempuan itu terus turun sampai halaman gedung, lalu menghilang di persimpangan gerbang. Mungkinkah seorang perempuan bertudung keluar malam hari jam satu malam dari lantai? Apakah ia pacar tengah malam simpanan orang perpus?

Pengurus gedung pun pernah mengalami hal yang serupa, di mana ia dapati vas bunga berulang kali pindah tempat padahal sudah disimpan di tempatnya berulang kali. Ia sadar bahwa ia hanyalah satu-satunya orang yang ada di ruangan itu. Lalu siapa yang memindahkan vas bunga?

Di Bawabah Dua, kawanku tinggal di lantai dua. Setiap malam, ia dan kawan serumahnya sering mendengar suara anak-anak berlari, atau gelinding bola, atau tawa anak-anak dari rumah di lantai tiga. Suatu hari ia bertanya kepada tetangga soal kegaduhan tiap malam itu. Tetangga bilang, rumah di atas sudah lama kosong, begitupun dengan rumah di lantai satu. Ada tetangga lain yang tinggal di atas, tapi di lantai empat. Lalu kejadian setiap malam itu berasal dari siapa? Mungkinkah ada keluarga yang terkurung di rumah lantai tiga?

Kejadian semacam itu memang banyak terjadi di sekitar kita. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Jin ataupun hantu bisa datang dan menghuni suatu tempat dengan mudahnya. Ruangan yang tak dihuni lebih dari tujuh hari saja bisa otomatis terisi ‘penghuni lain’, begitu kata seorang ustadz saat aku ikut pelatihan ruqyah tahun lalu.

Aku pun bukan sekali mengalami hal semacam itu. Apalagi ketika tinggal di rumah Atdik dulu. Bayangkan, aku tinggal bertiga dengan dua orang yang jarang di rumah. Dalam kondisi mager, bisa kuhabiskan 2×24 jam berada di rumah. Jika dua temanku sedang pulang ke Indonesia atau tugas ke luar kota, aku bisa habiskan lebih dari 3×24 jam di rumah sendirian. Tiga kamar dengan ruang tamu yang besar, dengan tumpukan barang lama, dan kisah-kisah mistis yang terwariskan dari penghuni ke penghuni. Ketika kamu merasa takut karena sendirian, keraskan saja speaker laptopmu lalu putar lagu Via Vallen.

Sejatinya, mereka tidak mengganggu selama kita tidak juga mengganggu mereka. Toh, aku juga baik-baik saja tinggal di kamar Pasanggrahan dengan seorang perempuan berambut panjang yang pernah kulihat duduk di atas lemariku. Mungkin ia hanya jatuh cinta padaku. Mungkin, kan?

Penulis: Maulanaisme