“Bulan ramadan ialah bulan Qur’an, ia bagaikan rumah sakit yang di dalamnya terdapat berbagai macam obat untuk setiap orang yang sedang sakit hafalannya. Banyak rahasia di dalam bulan mulia ini, terutama tentang hubunganmu dengan al Qur’an.” Tutur sang Guru sebelum menutup pertemuan majelis ilmu di awal ramadhan itu. Tak lama setelah semua murid pulang ke rumah masing-masing, salah satu murid menyengajakan diri untuk pulang terakhir. Seperti ada hal yang ingin ia ucapkan pada sang Guru.

“Syekh,” panggil si murid yang tinggal seorang diri itu.

“Untuk program selama Ramadan seperti yang Syekh jelaskan tadi, memfokuskan diri untuk muroja’ah hingga sebulan penuh dengan target 3x khatam di luar kepala. Lalu bagaimana dengan hafalan saya? Yang baru hafal satu juz dan butuh waktu sebulan penuh untuk muroja’ah, apa yang akan saya muroja’ahkan selama ramadan? Hapalan saya berbeda sendiri, apakah ada metode sendiri juga untuk saya, Syekh?” tanya Meida dengan penuh sopan. Sebut saja Meida. Dengan raut wajah yang terlihat mulai ada kesungguhan di dalamnya.

“Seperti yang saya ucapkan tadi, mari kita obati.” jawab Syekh dengan bijak, “datanglah kemari setiap hari, tinggalkan androidmu di sini dan tinggalkan semua kegiatanmu selama satu bulan ini. Buat semua waktumu selama ramadan, benar-benar hanya untuk membersamai al Qur’an, insyaallah akan ada rahasia yang kamu dapatkan, yang mungkin semula sulit dan menjadi lebih mudah misalnya, karena ini bulan mulia, berdoa saja. Datang kemari setiap hari dan setorkan hafalan semampumu, minimal satu halaman.” lanjut Syekh. Setelah mendengar yang Syekh jelaskan dan tawarkan, Meida pun pulang dengan membawa semangat yang menggebu.

Memang benar, bahwa ilham atau hidayah seseorang tak pernah mampu untuk diprediksi kedatangannya. Jadi, jangan mudah menjatuhkan ataupun meremehkan seseorang yang masih dalam kegelapan, jika posisimu mungkin sedang dalam keshalihan.

Selama hidupnya ketika menyantri, Meida merasa gersang akan hafalan yang tak kunjung pindah pada juz lain, seakan otak Meida sulit sekali untuk dimasuki firman-firman Allah. Dengan segala kesibukan atas keaktifannya diberbagai organisasi dan bidang keahlian, membuatnya lupa akan tanggungan, bahwa menjadi penghafal Qur’an adalah sebuah kewajiban. Ya, kewajiban untuk dirinya yang sudah berjanji untuk menghadiahi kedua orang tuanya istana di surga nanti. Namun realita kerap tak seindah pada ekspektasinya. Hingga sedewasa ini, ia belum juga mengakidkan diri untuk bersungguh-sungguh pada al Qur’an. Ada saja hal lain yang selalu mengalihkan fokus pikirannya; menjadi aktivis, penulis, organisatoris, berbisnis dan masih banyak lagi. Hampir setiap bulan, Abinya menanyakan, “Sudah sampai juz berapa hafalanmu,Nak?” Namun pertanyaan itu selalu berakhir dengan jawaban ambigu yang tak pernah tertuntaskan.

“Doakan saja, Abi. Khatam secepatnya”. Entah kapan itu, dia pun belum punya gambaran.

Ramadan adalah waktu di mana al Qur’an diturunkan. Harap Meida dengan sangat bahwa Ramadan kali ini, dia benar-benar hijrah menjadi lebih baik. Bukan tentang hijrah dalam busana, melainkan tentang ibadah dan kesungguhannya.

Di hari kedua ramadan, datanglah Meida untuk menyetorkan hafalannya. Masih seperti yang dulu, tidak lancar dan terseret-seret. Hanya satu halaman saja untuk hari itu. “Kamu harus berubah, Meida. saya tidak yakin kamu bisa lulus kuliah di al Azhar jika hafalanmu seperti itu. Maaf saya hanya berkata jujur.” ujar Syekh sedikit menyayat hatiku.

“Tidak lulus ujian? sebodoh itukah aku? berontak Meida dalam hati. Tidak! Aku tidak bodoh! Aku cerdas, aku mampu! Oke, akan aku buktikan bisa menghafal dengan baik!” tegas Meida pada dirinya.

Keeseokan harinya, ia sudah berusaha semaksimal mungkin, namun tetap saja hanya satu halaman dengan catatan tidak lancar yang ia setorkan. “Sepertinya aku harus menyendiri, aku harus menyedikitkan waktu untuk berkumpul dengan orang lain. Aku harus pergi dari rumah, mencari tempat yang mendukung untuk mrnghafal.” berontak Meida dalam hati.

Di hari berikutnya, Meida menghabiskan waktu di dalam masjid. Tidak perduli sepanas apapun cuaca Mesir ketika bulan Ramadan yang mencapai 40° bahkan lebih. Ia tetap pergi menuju masjid yang di anggapnya paling manjur ketika berdoa dan mudah masuk saat menghafal. Namun, tetap saja ia hanya bisa menyetorkan satu halaman dengan catatan tidak lancar.

“Aku sudah merelakan waktuk untuk menjauh dari teman-teman, ketika orang lain tertidur dengan pulasnya aku pergi menuju masjid yang agak jauh dari rumah dan melawan panas yang luar biasa dalam keadaan berpuasa. Seharusnya aku lebih produktif 3x lipat ketimbang mereka yang hanya menghabiskan waktu puasa dengan tidurnya.” berontak Meida dalam hatinya lebih keras lagi.

***

Mendengar banyak ayat yang salah ketika ia menyetor al Qur’an, Syekh pun menyuruhnya untuk berhenti, karena beliau menganggap tidak ada usaha lebih dari dirinya. Takutnya jika diteruskan malah membuatnya berdosa besar karena tidak bisa menjaga hafalannya.

“Syekh, saya sudah berusaha, tapi tidak tahu kenapa sulit sekali mengucapkannya ketika disetorkan dihadapan antum” jelasnya dengan memelas.

“Baiklah, saya beri kesempatan. Hafalkan di rumah saya, supaya saya tahu bagaimana cara menghafalmu.” Perintah Syekh

Akhirmya Meida pun menghafal dihadapan Syekh, barulah ditemukan titik masalahnya. Metode Meida dalam menghafal sangatlah keliru. Lalu diajarkanlah metode yang benar dan cepat dalam menghafal, oleh sang Syekh.

Dan alhamdulillah berjalan dengan baik untuk beberapa hari. Ada peningktan yang luar biasa. Empat lembar untuk setiap harinya, hingga di hari kesepuluh ia sudah mendapatkan 4 juz dengan istiqomah menambah setiap hari.

Beberapa hari kemudian, dia meminta hari libur dan mengambil androidnya, lalu di hari libur itu ia menghabiskan waktunya bersama komunitas yang selalu menjadi kesibukannya, ia benar-benar menghabiskan waktu libur seharinya itu, tanpa mengingat akan tanggungan murojaah yang harus disetorkannya esok hari.

Tibalah di waktu setoran murojaah, tetiba semua hafalan hilang. Dia tidak mampu mengingat semua yang telah di hapalnya dengan sempurna minggu lalu.

“Astagfirullahaladzim, ini bulan ramadan, tidak ada syaithan yang mengganggu, kenapa mudah sekali jatuh dan terlena?” ungkap Syekh sangat kecewa dan miris.

“Dimana androidmu? Ini penyebabnya, dan kegiatanmu. Sudah saya sampaikan untuk satu bulan selama ramadan ini saja tinggalkan semua kegiatanmu. Biarlah waktumu menjadi milik al Qur’an sepenuhnya. Tinggal 19 hari lagi, perbanyaklah beristigfar.” Tegas Syekh

Itulah menghafal qur’an, sekali saja kau lupakan, dia mudah sekali untuk menghilang. Cara yang tepat pun tidak cukup tanpa kekuatan iman dan keistiqomahan.

Meida pun bermuhasabah, mencoba mentajdid niat. Namun, untuk kembali pada hafalan lancar dan sempurna itu, tak semudah membalikkan telapak tangan. Dilihatnya banyak teman yang dengan lancarnya setor 2 hingga 3 juz sekali duduk dengan lancar dan sempurna. Meida sangat iri dengan hal itu, dilihatnya pula salah satu teman menghafalnya dengan istiqomah menambah hafalan berlembar-lembar dengan lancer, padahal memiliki hubungan ketidakpastian dengan lawan jenis, yang itu adalah dosa menurut agama. Sedang ia? dia sudah berusaha menjaga dirinya, perasaannya, dan juga hatinya. Dia sudah berusaha, tetapi sehari saja terlena, semua hilang begitu saja. Dan untuk kembali menuju setoran yang sempurna, ia harus memulai usaha dari nol lagi. “Ya Rabb, sebodoh itukah diriku? kenapa aku tidak secerdas mereka?” tangis Meida dalam hati.

Hingga satu lembar itu sobek, masih juga belum masuk ke dalam otaknya. Ia pun menangis tak tertahankan lagi. “10 jam aku disini, hanya satu lembar saja tidak lancar-lancar, kalian? dua atau tiga jam saja sudah bisa mendapat berlembar-lembar.” ungkap Meida sambil terisak menahan tangis karena sudah frustasi.

“Meida, ayat itu hanya ingin kamu lebih lama lagi membersamainya” kata salah satu teman Meida yang termasuk unggul hafalannya.

“Gimana caranya biar cepat hafal?” tanya Meida dengan lemas.

“Caranya? ikhlas, Mei, udah gitu aja.”

Ikhlas, ya ikhlas. kata itu singkat namun luas sekali penjabarannya dan sulit pengaplikasiannya. Ikhlas, jika diri ini sulit dalam menghafal. Ikhlas, jika diri ini harus berjuang mati-matian namun hasilnya sama dengan teman yang santai-santai. Ikhlas jika diri ini sudah berusaha maksimal namun hasilnya masih juga gagal.

“Ya, ikhlas, Meida, ikhlas.” batin Meida menasihati dirinya sendiri.

Setelah itu, Meida memulai harinya dengan niat dan himmah yang baru. Menghafal yang sulit namun tetap dinikmatinya, hingga tak sadar keajaiban Allah yang Maha Kuasa sudah menghendaki sesuatu. Bukan karena otaknya cerdas, namun karena sesuatu yang bernama ikhlas.

Ketika ramadan tepat di hari ke-29 hafalan Meida pun tepat pada juz 29. Dia tidak pernah mentarget, tidak pernah merencanakan, hanya niat ingin selalu membersamai al Quran dengan ikhlas di setiap waktu, dan menyetorkan hapalannya pada Syekh demi mengharap keberkahan. Entah, semua berjalan dengan skenario Tuhan. Bahwa keajaiban ada dalam kehidupan.

-Zulia Misbach