Oleh: Ust. Fakhry Emil Habib, Lc., Dipl. (Wakil Presiden PPMI MESIR 2017-2018)

Pernah dulu seorang tamu datang ke madrasah kami, Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Ia heran saat melihat aktifitas dan amaliyah para guru dan santri. Ia pun bertanya kepada salah seorang guru.

“Ustaz! Madrasah ini didirikan oleh Syekh Ibrahim Musa kan?”

“Iya.” jawab ustaz.

“Beliau dahulu belajar di Makah kan, Ustaz?”

“Benar.”

“Lalu mengapa amalan santri disini berbeda dengan Makah dan Madinah, ustaz? Misalnya, disini setelah salat, para guru dan santri berdoa bersama-sama. Bukankah ini bid’ah?”

Si ustaz terdiam, juga ikut bingung. Barangkali hal ini juga pernah terjadi di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang yang didirikan oleh Syekh Sulaiman ar-Rasuli, juga tamatan Makah.

***

Jika saya yang ditanyai demikian, maka saya akan tegas menjawab:
Saat tuan menemukan perbedaan antara kurikulum ajar madrasah kami dengan apa yang ada di Makah SEKARANG, maka yang seharusnya tuan pertanyakan bukanlah madrasah kami, melainkan rentetan sejarah perkembangan keislaman di Makah, dimulai dari sebelum Dinasti Usmani runtuh hingga Kerajaan Bani Su’ud berdiri.

Guru-guru kami disini memiliki keilmuan paten, mengajar dengan kurikulum madrasah Syafi’i dalam fikih, Asy’ari dalam akidah dan menekankan tasawuf dalam berakhlak. Beliau (termasuk juga K. H. Hasyim Asy’ari) rata-rata memiliki sanad keilmuan bersambung kepada Syekh Ahmad Khathib al-Minangkabawi, Imam Masjidil Haram pada saat itu. Saat pulang pun mereka tetap teguh membawa ajaran tersebut, berikut dengan kitab-kitab klasiknya yang muktamad. Dan budaya itu terus dipertahankan hingga sekarang. Tetap sama.

Masalahnya, mereka pulang ke Indonesia SEBELUM terjadi revolusi Saudi. Jadi saat tuan heran: Siapa yang berbeda? Siapa yang berubah? Maka jangan pertanyakan madrasah kami, tapi coba lihat sejarah.

Agak rusak hati kami saat ada yang mengatakan, usah ikuti ustaz tamatan Mesir, tamatan Maroko, tamatan Yaman. Ambillah ilmu dari para ustad tamatan Saudi, karena disanalah wahyu diturunkan.

Wailak! Sekalian saja belajar di Gua Hira jika memang tempat belajarlah yang menjadi patokan patut atau tidaknya seorang ustad untuk diikuti!!

Saya tegaskan, sekalipun seseorang belajar di Gua Hira, jika mentalnya adalah mental pemerkosa Al-Quran dan Sunah*, mengeksploitasi istilah bid’ah kemudian mengaku-ngaku punya pemahaman paling sahih, maka tak pantas ia disebut ulama!!

Dan seorang yang walaupun belajar di pedalaman lembah di Sumatera Barat, jika ia punya sanad keilmuan teruji, paham mana ijtihad mana taklid, mengerti perbedaan fatwa dan taklim, maka itulah ulama sejati!!

Kami belajar dengan kurikulum Syafi’i Asy’ariy, kami juga belajar ilmu tasawuf yang murni, karena itulah yang dibawa oleh guru-guru kami dahulu, bersanad dari Syekh Ahmad Khathib al-Minangkabawi. Kurikulum ini pulalah yang dipertahankan oleh Syekh Yasin al-Fadani (wft 1990) di Makah yang merupakan ‘musniduddunya’ dan benteng pemahaman salaf yang sahih.

Jadi jangan lagi bertanya ‘belajar dimana’. Tapi tanya : proses belajar macam apa yang dilalui? Akidahnya bagaimana? Fikihnya bagaimana? Tazkiyatunnafsnya bagaimana?

Alim tetaplah alim. Tak peduli ia punya kertas ijazah atau tidak. Tak peduli ia belajar di Kairo ataupun di Ringan-ringan Pariaman. Selama ia punya guru, dan keilmuannya punya sanad yang dapat dipertanggungjawabkan, maka ambillah ilmu darinya, sebanyak-banyaknya!

Semoga yang bukan alim tidak mengaku alim. Semoga yang awam bisa menghargai yang alim.

Teruntuk madrasah turats, semoga dapat terus mempertahankan kurikulumnya yang sudah kokoh dan mampu mencetak alim sejati. Semoga pengurusnya tidak tergoda dengan kurikulum lain yang malah hanya akan mengikis kualitas ilmu para santri.

Semoga Allah selalu menuntun kita untuk jadi lebih baik.. (^_^)


*Agak keras memang istilahnya. Namun itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan seseorang yang tidak punya malakah ijtihad, namun berani-berani menukilkan sendiri dalil-dalil wahyu dengan pemahaman pribadinya yang amburadul. Dalilnya sahih, pemahamannya batil. Istilah minangnya: Gadang sarawa.

Doa bersama bukanlah bid’ah

Sumber: FB

Leave a Reply