Photo: Metrojambi

Oleh: Intan Safira Ilyas

“Oh ya, gimana kabar sama kakak tingkat di rumah?” Perempuan dengan balutan jilbab ungu tua yang dipasangkan dengan cadar hitam akhirnya bertanya tentang lingkungan tempat tinggal.

“Alhamdulillah aku serumah dengan kakak kelasku saat di pondok dulu.” Kujeda jawabanku. Ia mulai tersenyum mendengarnya.

“Aku sangat kagum padanya. Dia tak pernah lelah mengingatkan kami, selalu membangunkan kami untuk shalat tahajud walau menghabiskan waktu yang cukup lama, juga perhatian soal kebersihan dan lingkungan sekitar.”

Matanya berbinar. Ikut senang mendengar ucapanku.

“Tapi itu dulu ….”

Lalu senyumannya mulai lenyap, berganti kerutan kening yang meminta penjelasan.

***

            Hampir genap satu bulan kehidupanku di tanah yang telah menjadi impianku sejak lama.

“Alhamdulillah … akhirnya aku diterima.”

Kala itu aku berteriak sejadi-jadinya dan melompat-lompat tak keruan lalu memperlihatkan namaku yang tertera pada daftar mahasiswa baru yang lulus masuk Universitas Al-Azhar pada temanku. Sayangnya hanya ada temanku di sana. Jika aku sedang bersama orang tua serta kakak adikku, mungkin aku akan memperlihatkannya pada mereka satu persatu, saking senangnya.

Ukhty... kau tahu? Dibalik rasa senang itu, tentu ada rasa lain yang lambat laun menyelinap keluar. Rasa yang bukan hanya berbenih di hatiku tapi juga kedua orang tuaku. Bagaimana tidak, putrinya yang baru saja menyelesaikan SMA-nya di pondok pesantren di suatu kota lalu berlanjut satu tahun mengabdi di kota lain yang artinya selama itu tidak pernah ada waktu bersama yang panjang dalam satu atap, kini kembali akan pergi. Bukan hanya berbeda kota atau pulau, melainkan berbeda benua.

Tak bisa dipungkiri, rasa itu pasti ada. Ibu yang saat melepasku di bandara, menciumku dan memelukku cukup lama, padahal itu tak pernah ia lakukan ketika aku sudah sebesar ini, bahkan ketika pertama kali masuk pondok sekalipun. Di wajahnya tersirat rasa khawatir akan perjalananku yang akan melewati benua. Tapi rasa itu tetap hanya sebuah rasa. Tak bisa menjelma menjadi sebuah tangan yang mendekapku untuk tidak pergi atau sebuah tali yang menjerat kakiku sehingga tak bisa melangkah.

Semua itu tenggelam oleh satu kata. Yaitu impian. Ini bukan layaknya impian seorang anak kecil yang cukup memimpikan berada di atas tanah jejak para nabi saja tapi impian yang beranak pinak menjadi harapan-harapan dan target seorang mahasiswa untuk ke depannya. Bermimpi bisa menuntut ilmu di universitas tertua di dunia tentu banyak harapan yang sudah dirajut. Bisa belajar ilmu-ilmu agama langsung dari sumbernya, bisa menginjakkan kaki di tempat-tempat bersejarah para nabi maupun ulama, yang paling terpenting bisa menyibukkan diri dengan belajar dan juga belajar, rakus akan ilmu adalah hal yang memang harus ada pada setiap penuntut ilmu.

Ukhty… bisakah kau memberiku jawaban? Mengapa warna impian itu kini mulai redup. Tak secerah dulu, tak sekuat dulu yang bisa membuat pikiranku mengawang, membayangkan indahnya perjalanan sang perantau dalam mencari ilmu.

***

“Dulu?” Perempuan di depanku benar-benar meminta penjelasanku.

“Iya… dulu. Saat kami bersama di pondok, saat ia menjadi pembimbing kamar kami. Dan kepadanya lah rasa kagumku berlabuh.”

***

Satu bulan bukanlah waktu yang tidak lama. Tapi ia menjadi waktu yang terlalu lama untuk aku yang tidak mendapatkan apa-apa saat melaluinya. Aku pikir, aku tersesat di dunia lain. Aku tak sukses dilandingkan di tanah yang memiliki laqab kiblat ilmu. Aku gagal menemukan bumi kinanah, buminya para nabi. Aku kecolongan. Aku kehilangan keindahan-keindahan bumi ini yang dulu tergambar jelas di pori-pori kepalaku. Adakah yang bisa mengembalikan itu?

“Hei, sudah ke mana saja satu bulan ini? Sudah berapa majelis yang pernah kamu ikuti?”

Aku tersentak. Kita sama-sama mahasiswa yang baru tiba tidak lebih dari satu bulan. Iya, aku dengan sang penanya yang tak sengaja berjalan bersamaan menuju gedung biru Markaz Lughoh. Namun perjalanannya tidak semonoton diriku, akunya. Ia sudah banyak mengecap rasa perjalanan di Mesir. Duduk di majelis dengan Masyayikh, mengunjungi toko-toko kitab, serta berziarah ke makam para ulama.

Aku tak sanggup menjawab pertanyaannya. Rasa yang berlabuh di dalam hatiku hanya satu. Jenuh. Jenuh dengan ketidaktahuan. Jenuh dengan kebutaan akan kenikmatan negeri ini yang seharusnya aku nikmati. Jenuh dengan pemandangan yang lagi-lagi hanya terbatas pintu flat.

Rasa berani untuk pergi ke manapun belum menghampiri, akibat ketidakberdayaanku dalam berbicara bahasa ammiyah. Tapi seharusnya itu tak kan jadi masalah, selama adanya peta yang bisa mengarahkan sekaligus mengajariku untuk berbicara. Betul, ukhty? Tapi sayangnya ia tak ada. Ia berada dalam satu atap tapi tak nampak dalam pandangan kami.

Ukhty… sepertiga malamku terasa hampa. Tak ada senyuman yang rela aku ajak memulai hari. Sajadah terhampar kosong tak tertunggangi. Al-Qur’an tertata rapi di antara kitab-kitab yang hanya menjadi hiasan ruangan. Matahari tampak lebih istikamah dalam memulai hari daripada makhluk terbaik yang Allah sebutkan dalam kitab suci-Nya. Ancaman laknat malaikat di pagi hari pun sudah tak dihiraukan.

Memang Mesir lebih hidup di malam hari daripada pagi hari. Kalimat itu beberapa kali sudah kudengar. Tapi jika dipikir kembali, doktrin itu bersifat ‘aam, sangat luas. Apakah semua orang Mesir seperti itu? Seperti ada qanunnya yang menetapkan. Tidak, bukan? Tentu doktrin itu hanya untuk sebagian orang Mesir yang memiliki kebiasaan seperti itu. Saat masih ada orang minoritas yang lebih layak menjadi figur, kenapa diabaikan. Mereka ada, tapi tak sebanyak yang menyimpang. Karena berada pada jalan kebenaran tak mudah, itulah sebabnya mereka sangat spesial.

***

“Kamu nyaman Dek di rumah?” tanyanya kembali bergeser sedikit pada perkara yang lain.

“Aku takut dengan kata ‘nyaman’ itu Kak. Aku takut kata nyaman terucap yang padahal tak sepantasnya diucapkan.”

***

Seorang mukmin sudah seharusnya bersikap layaknya seorang mukmin, betul Ukhty? Ia pasti memperhatikan segala aspek kehidupannya agar sesuai dengan apa yang diperintahkan. Berjalan di atas Al-Qur’an dan sunah Rasulullah, adakah yang lebih indah dari itu?

Ukhty… aku merindukan keindahan. Kata ‘indah’ sebulan ke belakang ini telah menjauhiku. Tak kudapati praktek dari kalimat itu, “Islam itu indah dan mencintai keindahan.” Sungguh rumahku hampir kehilangan perannya sebagai tempat beristirahat. Suasana rapi dan indah yang didamba dan seharusnya menjadi pemandangan mata setiap hari hanya menjadi ilusi semata.

***

“Ayo Dek, bawa aku ke rumahmu.”

Lantas kuajak perempuan itu menemui atapku yang jauh untuk bisa disebut sebagai ‘surgaku’.

Kupanggil kakak tingkat rumahku untuk duduk bersama, tak lupa teman rumahku yang lainnya.

“Tahun ke berapa kamu sekarang di Mesir Dek?” tanya perempuan itu pada katingku.

“Tahun kedua Kak.”

“Baguslah, cukup melegakan.”

Aku beserta teman-temanku hanya menjadi pendengar.

“Kamu merasa di pundakmu sedang ada beban besar?” perempuan itu bertanya kembali.

Katingku hanya menggeleng. Apalagi kami para pendengar hanya mengerutkan kening tak tahu ke mana arah pembicaraan.

“Ketahuilah Dek, dengan hadirnya adik-adik yang berada di depan matamu saat ini, seharusnya kamu merasa sedang memikul beban berat. Mengapa? Karena kamu adalah orang pertama yang menjadi panutan mereka di sini. Ibarat seorang ibu yang menjadi madrasah ula bagi anak-anaknya. Kamu mengarah ke mana, adik-adik ini sebagian besar akan mengikutimu.”

“Apa yang salah denganku? Kak, mereka ini berstatus mahasiswa. Seharusnya mereka sudah bisa menentukan jalan mereka sendiri. Ketika mereka bergerak ke arah yang salah, apakah itu menjadi kesalahanku?”

Perempuan itu mengangguk mengerti. “Tentu itu tidak murni kesalahanmu. Tapi kamu tetap mendapat bagian dari kesalahannya jika kamu tidak pernah mengingatkan.”

“Dek, apakah saling mengingatkan sesama saudara itu terbatas rentang usia? Tidak, bahkan itu adalah suatu kewajiban bagi semua mukmin. Maka membimbing mereka dengan baik bukan hanya sebatas tugas sebagai senior melainkan tugas sesama muslim,” Perempuan itu melanjutkan nasihatnya.

Katingku menunduk mulai menyadari kesalahannya.

“Maafkan aku Kak. Sebetulnya aku benar-benar tidak siap menjadi kating. Dan maafkan aku yang terlambat menyadari kesalahanku, karena sikap egoisku.”

“Sudah kakak duga. Kebiasaan katingmu dulu pasti tak jauh dari sikapmu saat ini. Menjalani hari demi hari hanya mengikuti alur. Tidak ada target. Melupakan tujuan awal pergi ke Mesir, apalagi tanpa menghadiri majelis-majelis ilmu. Betul?”

“Betul Kak.”

“Baiklah Dek. Apa kamu ingin nasibmu juga tertimpa pada adik-adik kita ini? Semua bergantung padamu. Muhasabahlah selalu untuk menuju perubahan yang lebih baik. Karena tak ada yang bisa mengubahnya kecuali dirimu sendiri. Dalam suatu ayat disebutkan bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri.”

“Dan satu lagi yang harus kamu ingat. Empat tahun itu bukan waktu yang lama. Dan siapa sangka jika di hari esok mata kita sudah tak bisa terbuka.”

***

Ukhty… semoga mereka beruntung mendapatkanmu sebagai senior. Bukan sekedar senior, tapi sesama muslim yang saling menyayangi karena Allah.