Oleh: Hammad Rosyadi

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa diantara ujian yang dihadapi Nabi Yusuf álayhissalam, selain dari saudara-saudaranya, beliau juga menghadapi ujian dari istri seorang pejabat Mesir yang telah mengangkatnya sebagai budak mereka. Sebagian orang menyebut istri pejabat tersebut bernama Zulaikha.

Di dalam surat Yusuf ayat 24 disebutkan,

“Dan sungguh dia (Zulaikha) telah hendak kepadanya (Yusuf), dan ia (Yusuf) juga hendak kepadanya (Zulaikha) seandainya tidak melihat petunjuk dari Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sesungguhnya ia termasuk diantara hamba-hamba Kami yang terpilih.”

Sebagian kaum muslimin memahami dari ayat ini, bahwa Nabi Yusuf sempat memiliki keinginan untuk melakukan perbuatan keji (dalam hal ini zina) kepada Zulaikha sebagaimana Zulaikha memiliki keinginan kepada Nabi Yusuf. Tentu saja pemahaman semacam ini kurang tepat.

Mengapa kurang tepat, bagaimana pemahaman yang benar, serta apa saja bukti pendukungnya, insyaallah kami akan sampaikan pada kesempatan kali ini.

Mengapa Nabi Yusuf Sama Sekali Tidak Memiliki Kehendak Tersebut?

Dengan logika sederhana saja, kiranya apakah layak seorang Nabi yang disebut memiliki ke-ma’shum-an ada keinginan untuk berzina dengan seorang perempuan? Bukankah ketika kita mendengar, misalnya, ada ulama yang punya keinginan untuk zina saja, hati kita sudah risih? Apalagi ini seorang Nabi.

Dari segi bahasa, pada ayat tersebut terdapat kalimat “seandainya” setelah kalimat “dan ia (Yusuf) juga hendak kepadanya“. Salah satu fungsi kata “seandainya” adalah penafian terhadap kalimat sebelumnya. Oleh karena itu, bisa dikatakan, kalimat “dan ia (Yusuf) juga hendak kepadanya” hakikatnya tidak pernah terjadi.  Sebagaimana misalnya kami katakan, “Saya menikahi fulanah, seandainya si fulan tidak mendahului saya.”

Kesaksian Mereka Terhadap Nabi Yusuf

Selain itu, ‘kebersihan’ Nabi Yusuf dari keinginan berbuat keji itu juga diakui oleh para saksi-saksi yang ‘udúl maupun yang fásiq. Dengan begini, betul-betul sempurna lah keterlepasan dirinya dari tuduhan istri sang pejabat, dan sebagian muslimin yang salah paham. Saksi-saksi tersebut adalah;

1. Nabi Yusuf

Yaitu ketika beliau berkata, “Dia-lah yang menggodaku dan merayu diriku,” (Yusuf: 26) dan saat beliau berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka,“(Yusuf: 33).

2. Zulaikha

Yaitu ketika ia berkata, “Dan sungguh aku telah menggoda untuk menundukkan dirinya tetapi dia menolak,“(Yusuf: 32) dan saat ia berkata, “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dan merayunya, dan sesungguhnya dia termasuk orang yang benar,” (Yusuf: 51).

3. Suami Zulaikha

Yaitu saat ia berkata, “Sesungguhnya ini adalah tipu dayamu (Zulaikha). Tipu dayamu benar-benar hebat. Wahai Yusuf! Lupakanlah ini, dan (istriku) mohonlah ampunan atas dosamu, karena engkau termasuk orang yang bersalah!” (Yusuf: 29).

4. Saksi dari keluarga Zulaikha

Yaitu saat ia menjelaskan, “Apabila gamisnya terkoyak dari depan, maka ia (Zulaikha) telah benar dalam ucapannya, dan ia (Yusuf) telah berbohong, dan jika gamisnya terkoyak dari belakang, maka ia (Zulaikha) telah berbohong, dan ia (Yusuf) telah benar dalam ucapannya,” (Yusuf: 26-27).

5. Teman-teman kongkow Zulaikha

Yaitu saat mereka berkata, “Istri Al-Aziz menggoda dan merayu pelayannya untuk menundukkan dirinya…,” (Yusuf: 30) dan saat mereka menjawab pertanyaan raja, “Mahasempurna Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya,” (Yusuf: 51) .

6. Allah Rabbul Álamín

Saat Allah berfirman, “Sesungguhnya ia termasuk diantara hamba-hamba Kami yang terpilih (Al-Mukhlashin),” (Yusuf: 24) dan ini berkaitan dengan kesaksian dari iblis saat ia bersumpah kepada Allah sebagaimana yang akan disebutkan.

7. Iblis

Saat ia bersumpah, “Sungguh aku akan menyesatkan seluruh manusia, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (Al-Mukhlashin) di antara mereka,” (Al-Hijr: 39-40).

Di sini Iblis sendiri mengakui bahwa ia tidak mampu menyesatkan hamba-hamba Allah yang terpilih. Sedangkan Nabi Yusuf diakui sendiri oleh Allah bahwa ia termasuk di antara hamba-Nya yang terpilih.

Dari kesaksian tujuh saksi ini, makin jelaslah, bahwa Nabi Yusuf sama sekali terbebas dari dugaan orang-orang yang menyangka bahwa beliau memiliki kehendak kepada Zulaikha.

Sebab, seandainya ia memang ada kehendak; ia tidak mungkin berbohong karena para Nabi memiliki sifat shidq, Zulaikha pun akan membela dirinya, bahwa Nabi Yusuf juga punya gerak-gerik, teman-teman Zulaikha juga akan sadar sekiranya ada gerak-gerik mencurigakan dari Nabi Yusuf, dan tentu Allah Ta’ala tidak akan memberi kesaksian bahwa Nabi Yusuf termasuk di antara hamba-Nya yang terpilih.


Wallahu a’lam. | Diringkas dari dars Syaikh Sa’id Al-Kamali Al-Maliki.