Oleh: Ust. Fakhry Emil Habib, Lc., Dipl. (Wakil Presiden PPMI MESIR 2017-2018)

Sore itu kami telah membahas masalah salah satu syarat shalat bersama Syekh Mustafa Abu Hamzah dari Kitab al-Yaqûtu’n Nafîs. Setelah beliau menjelaskan enam pembagian aurat bagi laki-laki dan perempuan dari Hâsyiah al-Bâjûri, beliaupun melempar sebuah pertanyaan menggelitik:

“Apa batas wajah yang tidak wajib ditutup oleh wanita saat shalat?”

Saya yang teringat batasan wajah yang harus dibasuh saat berwudu langsung menjawab, “Panjangnya: dimulai dari batas tumbuh rambut (yang normal) sampai ujung dagu (tulang rahang). Lebarnya adalah: antara dua pangkal telinga.”

“Benar!” beliau menimpali. “Lalu bagaimana menurutmu bagian yang terletak antara dagu dan leher? Apakah itu aurat?”

Saya kembali menjawab, “Iya, jika merujuk pada kaidah, wahai Tuan Guru,”
.
“Lalu bagaimana menurut kalian wanita yang keluar rumah, ataupun shalat sedangkan aurat kecilnya tersebut tersingkap?”
.
Untuk pertanyaan terakhir ini, saya terdiam. Kami terdiam, Syekh Mustafa tersenyum. Mau dijawab apa? Saya bukan perempuan. Akan tetapi kami yang hadir disana sama-sama paham, bahwa sekecil apapun ia, sesepele apapun ia, aurat tetaplah aurat.
.
***
.
Kebanyakan orang memang tergelincir oleh batu kerikil, bukan oleh batu besar. Maka jangan anggap enteng sesuatu yang kecil, karena boleh jadi ia berefek gawat. Seperti serangga yang membunuh Raja Namrudz, dalam satu riwayat.
.
Semoga Allah selalu menuntun kita untuk jadi lebih baik.(^_^)
.
***
.
#Khathirah dari kurikulum #Syafiiyyah

Sumber: FB

Leave a Reply