Oleh: Akhmad Yani

Semilir angin malam berhembus menerpa dua orang yang sedang duduk memandang pepohonan yang sangat lebat. Malam itu bulan terlihat sangat terang, “Siti..!” Ucap suaminya pada istrinya setelah lama membisu. Rasa takut dibunuh oleh orang-orang Belanda membuat keduanya terus berusaha agar tidak tertidur. Saat ini mereka berdua sedang bersembunyi ke hutan, karena perkampungan diserang Belanda. Berulang kali si suami memanggil nama istrinya, tapi istrinya masih membisu. Mata yang terlihat sedikit bengkak karena si istri terus menangis sepanjang perjalanan menuju pedalaman hutan.

Hatinya terasa sangat sesak membuatnya terus-terusan menangis meski air matanya tak mau keluar lagi, pun sang suami sesekali air matanya menetes, rasa lapar yang sangat menusuk dan lelah yang luar biasa tak mampu mengalahkan rasa khawatir keduanya, hal itu karena mereka berdua lupa membawa kabur bayinya yang masih berumur dua bulan ikut kabur bersama mereka menyelamatkan diri.

“Mas Ajii… !” Lirih Siti pelan. Aji paham maksud dari si Siti, hanya dengan melihat matanya yang berlinang air mata.

Mas akan pergi ke kampung sekarang untuk membawa anak kita ke sini, Mas pesan kepada Siti jangan pernah berpisah dengan orang kampung lain yang bersembunyi di hutan ini, Siti harus terus hidup!” Ucap si Aji dengan yakin. Ia langsung mencium kening istrinya lalu memeluknya dengan sangat erat, berharap kebahagiaan akan datang suatu hari.

Dengan sebilah bambu runcing Aji pergi ke kampung, ia terus berlari tanpa henti hingga dadanya terasa sakit, tapi rasa sakit itu tak dia hiraukan karena dia benar-benar sangat khawatir pada anaknya yang tertinggal di kampung. Si Siti hanya bisa pasrah ditinggalkan suaminya bersama dengan orang-orang yang kabur lainnya di hutan. Hampir dua jam berlari tanpa henti, akhirnya si Aji sampai di perkampungan tempat tinggalnya, ia berjalan menyelinap di sisi-sisi perumahan tanpa diketahui oleh orang-orang Belanda yang berjaga.

Aji memasuki rumahnya secara diam-diam. Rumah yang kecil tanpa ada kamar satu pun. Ketika ia memasuki rumah itu, mungkin cahaya rembulan malam itu terasa sangat menusuk karena menampakkan sesuatu yang benar-benar menyakitkan hatinya. Ia hampir tak bisa mempercayai apa yang ia lihat saat itu. Aji terdiam mematung, wajahnya pucat. Ia berkeringat dingin.

Aji benar-benar kaget melihat bayinya dibunuh dengan sangat keji. Ia mendekat ke sudut kiri rumah dan langsung menggendong bayinya yang penuh dengan darah. Ia peluk erat sambil terisak-isak menahan perihnya penderitaan. Sedih, sakit, marah dan kecewa membuatnya pasrah terhadap hidupnya. Kebahagiaan yang lahir setelah sepuluh tahun menanti bersama sang istri hilang begitu saja. Ia bungkus mayat bayinya dengan kain, lalu ia ikatkan ke punggungnya. Kemarahan yang luar biasa dalam dirinya tak lagi mampu terbendung, ia siapkan semua keberaniannya.

Malam itu ia berniat membalaskan semua Belanda bajingan yang sudah membuat hidupnya menderita. Terdengar sangat konyol dan bodoh, karena menyerang Belanda seorang diri dan tanpa strategi sama seperti bunuh diri. Tapi, ini sudah diambang batas kesabaran dan kekuatannya. Ia merasa tak kuat menahan kepedihan ini. Ia keluar dari rumahnya dengan bermodalkan sebilah bambu runcing sambil menggendong mayat bayinya di punggung.

Aji berjalan perlahan hingga dia menemukan satu orang penjaga yang sedang tertidur pulas di tempat penjagaan mereka. Tanpa ragu, Aji langsung menusukkan bambu runcing itu tepat di wajah penjaga itu “Aaaaarggh!” Jerit penjaga itu, darah pun muncrat ke arah Aji, penjaga itu langsung menembak ke arahnya menggunakan pistol kecil hingga mengenai pinggangnya. Aji tak sedikit pun gentar, ia terus menusuk-nusuk kepala penjaga itu hingga mati.

Suara teriakan dan tembakan tadi membangunkan orang-orang Belanda yang lain. Beberapa orang Belanda yang ada di dekat sana langsung menembaki Aji. Saat itu, Aji sudah benar-benar pasrah dengan hidupnya. Ia bertarung mati-matian di peperangan yang sudah jelas mustahil baginya untuk bisa menang. Ia tidak tahu sudah berapa peluru panas yang menancap di tubuhnya, ia hanya berpikir bahwa selama masih bisa bergerak, dia akan terus menyerang. Dengan usaha itu, ia berhasil membunuh enam orang Belanda dan mencederai sekitar empat orang Belanda. Aji meninggal sambil mencium kening bayinya.

Suara berisik hujan lebat terdengar samar di telinga Aji. Ia mencoba membuka matanya perlahan. Tempat yang dominan berwarna putih terlihat asing dan sangat mewah baginya. Tempat yang ia baringi saat itu terasa sangat nyaman. Ia berpikir, apakah sekarang ia berada di surga? Ia memperhatikan ke sekelilingnnya, di tangannya ada jarum infus yang terpasang. Ia mencoba menggerakkan tangannya, badannya terasa sangat lemas dan susah bergerak. Ia sentuh wajahnya yang diperban di bagian sisi kepalanya. “Argh!” Rintihnya pelan, tak ada seorang pun di sana.

Setelah kesadarannya penuh, ia mencoba bangun  sambil  membawa infus dan mengecek tempat sekitar. Semua hal yang dia lihat benar-benar asing baginya. Di sisi kiri ruangan itu terdapat sebuah cermin, ketika ia mendekatinya, ia memperhatikan, ada anak kecil berumur sekitar delapan tahun yang pakaiannya mirip seperti apa yang ia pakai, kemudian ia mencoba menyapa anak kecil itu. “Eeh… Kenapa wajahku bisa berubah jadi seperti anak kecil?” Gumam Aji kebingungan sambil menyentuh-nyentuh wajahnya. Di saat itu juga tiba-tiba ada yang membuka pintu ruangan itu. Terlihat dua orang perempuan yang kaget melihat Aji. “Bu! Cepat panggil dokter,” ucap salah satu perempuan itu. Setelah dipanggilkan dokter, ia langsung diperiksa.

Aji duduk di kasurnya, ia terlihat canggung karena ditatap orang-orang disekitarnya yang tak ia kenal satu pun. Aji mulai paham dari cara bicara orang-orang di sekitarnya, walau gaya bicara mereka terdengar asing bagi Aji, tapi bahasa yang mereka gunakan masih bahasa Indonesia. Aji paham situasinya saat ini, mendengar penjelasan dokternya sepertinya sedikit kebingungan menjelaskan keadaan Aji saat ini. Sekarang ia sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang kerumah.

Aji berusaha untuk mengerti dunia yang baru saja ia lihat dalam beberapa hari ini. Hal itu sangat sulit, karena ingatan penderitaan keluarganya masih terukir jelas dalam pikirannya, bahkan mayat bayinya pun masih sangat jelas terbayang. Sesekali Aji menangis karena teringat keluarganya. Mungkin itu yang namanya rindu yang tak bisa terobati.

Aji mulai paham apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Jiwanya berada di tubuh anak kecil yang bernama Reza. Saat ini dia dianggap terkena amnesia, karena dianggap lupa dengan dirinya sendiri dan keluarganya padahal dia memang nyatanya tidak seperti itu. Sempat Aji menanyakan kenapa dirinya; Reza jadi terluka parah kepada wanita yang selalu merawatnya. Ya, wanita itu adalah ibunya Reza. Ibunya Reza menjawab kalau Reza mengalami kecelakaan, ia ditabrak mobil saat pulang sekolah ketika ia hendak menyeberang jalan.

Walau Aji tidak tahu seperti apa kecelakaannya, tapi yang pasti dari luka-luka yang ia lihat di tubuh Reza dan dari penjelasaan dokter yang ia dengar saat di rumah sakit serta kagetnya orang-orang di sekitarnya, seakan hal yang terjadi padanya adalah sebuah keajaiban, ia menyangka kecelakaan itu adalah kecelakaan yang mengerikan. Bagaimana tidak, ia mendengar lagi dari ibunya Reza kalau dia koma selama hampir sepuluh hari di rumah sakit.

Aji berpikiran seharusnya ia dan Reza si pemilik tubuh ini sudah mati, karena ia ingat betul bagaimana ia di akhir hidupnya saat itu, saat puluhan peluru menusuk tubuhnya, saat dia berjuang melawan ketidakadilan, berjuang melawan penjajahan. Dia tidak tahu hidupnya dulu ada pada tahun berapa saat itu. Ia berpikiran mungkin hidupnya berasal dari 100 tahun yang lalu, dan sekarang sudah 2019. Tak ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi selain ia sendiri, karena ia tidak pernah menceritakan kepada siapapun, baik itu keluarga Reza ataupun lainnya, kalau dia adalah orang yang pernah hidup pada zaman penjajahan dahulu.

Aji duduk termenung menatap keluar jendela. Ia melihat dua mobil yang diparkir di depan rumahnya, pekarangan rumah yang sangat indah, ada banyak tanaman bunga yang ditanam rapi, langit biru yang cerah, udara yang segar, serta rasa aman dari kematian. Perasaan itu membuat dirinya merasa semakin tidak nyaman, karena ia terus-terusan terpikir dengan keluarganya, anak yang baru dua bulan lahir, istri yang sangat ia cintai dan orang-orang kampung yang sudah ia anggap bagaikan saudaranya.

Walau kehidupannya saat itu tak semewah apa yang ia lihat sekarang, hatinya sangat rindu pada mereka. Siapa lah yang mampu mengobati rindu hati yang dipisahkan oleh kematian.

“Nak, coba dengarkan lagu kesukaan nak Reza, siapa tau nak Reza bisa mengingat sesuatu,” ucap ibunya Reza menyadarkan lamunannya. Ibunya Reza meletakkan smartphone di meja samping tempat duduknya. Ia memperhatikan, ketika suaranya muncul, Aji sempat kaget dengan smartphone itu. Melihat ekspresi kaget Aji yang seperti itu sempat membuat wanita yang masih berumur 27 tahun itu tertawa kecil.

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Aji menyimak dengan seksama lagu itu. Alunan nadanya terasa indah didengarnya, lagu itu benar-benar menyentuh hati Aji. Tak terasa air mata Aji mengalir deras dengan sendirinya. Ia rasakan dari setiap lirik perjuangan orang-orang dahulu, pertumpahan darah, tangisan, rintihan, pedihnya penderitaan hidup para pejuang, yang berjuang mati-matian agar bisa mendapatkan kemerdekaan yang dia rasakan saat ini. Nikmat kemerdekaan yang luar biasa, rasa aman, bisa tertawa bebas, dan melakukan hal-hal bebas lainnya.

Mulai saat itu, Aji tersadar akan betapa berharganya kehidupan ini, ia bertekad tidak akan menyia-nyiakan kesempatan hidupnya saat ini. Kehidupan yang sangat luar biasa baginya, karena dia sendiri merasakan benar-benar betapa sakit dan perihnya perjuangan orang-orang pada masanya itu. Mulailah Aji menjalani hidupnya dengan sungguh-sungguh sebagai Reza, seorang anak kecil dari keluarga kaya raya, ia mulai rain belajar memperbanyak ilmunya, selalu bertingkah sopan, sering membantu orang-orang kesusahan, ia jalani hidupnya dengan penuh kebaikan, banyak prestasi yang ia raih, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Setelah ia dewasa, ia menjadi seorang guru. Ia ajarkan kebaikan kepada murid-muridnya dan ia sangat sering menceritakan perjuangan orang terdahulu agar kita yang sekarang ini tidak lupa dan menyia-nyiakan perjuangan mereka. Di sisa hidupnya, Aji banyak menulis buku tentang perjuangan orang-orang dahulu. Di akhir hayatnya, Aji dikenal sebagai seorang sejarawan pembakar semangat bangsa. Hanya bukti syukur atas nikmat yang luar biasa ini yang harus kita bayarkan untuk menghargai jasa-jasa para pejuang dahulu.