Oleh: Ust. Fakhry Emil Habib, Lc., Dipl. (Wakil Presiden PPMI MESIR 2017-2018)

Tak sekali-dua kali saya terlibat dialog dengan kawan-kawan disini ataupun di Indonesia tentang pribadi seorang ulama. Biasanya, mereka akan menyampaikan bahwa menjadi ulama itu cukup dengan menjadi orang yang mampu membaca dan menelaah kitab-kitab rujukan untuk mencari solusi terhadap persoalan serta jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan mustafti alias penanya.

Banyak juga kawan-kawan seperti ini yang menyayangkan metode belajar saya yang kolot, kaku, sulit, tidak relevan, dan tidak efektif (menurut mereka). Sebab saya belajar dengan metode memantapkan satu mazhab semantap-mantapnya, baru kemudian melakukan perbandingan untuk pengayaan. Sebab bagi saya, belajar itu ‘mendalami’, bukan ‘menjelajahi’.

Dalam hati saya tersenyum, sebab dahulu saya juga berpikiran seperti mereka, sebelum konsisten mengikuti majlis-majlis Syekh Salim al-Khathib, Syekh al-Habib Ahmad al-Maqdi, dan Syekh Musthafa Abu Hamzah. Mereka adalah guru-guru saya yang luar biasa.

Pada akhirnya, biasanya saya katakan pada mereka, “Jika menjadi alim-ulama itu cukup dengan kemampuan membaca dan menelaah kitab saja, lalu apa bedanya alim dengan awam? Orang awam Arab pun mampu membaca kitab-kitab agama. Bahkan orang awam non-Arab pun mampu, sebab sudah banyak kini kitab-kitab yang diterjemahkan. Apa lebihnya kita dibanding mereka?”

Dan biasanya dialog akan berakhir, sebab apa yang saya sampaikan memang begitu adanya,

Kemudian saya akan lanjutkan dengan mengajukan beberapa persoalan agama dasar, yang ternyata tidak akan mampu dijawab oleh mereka yang belajar agama dengan metode ‘menjelajahi’ (baca : muqaranah), dan hanya akan bisa dijawab oleh mereka yang belajar dengan metode ‘mendalami’ (ta’ammuqu’l mazhab). Semisal apa hukumnya salat sambil menggendong bayi yang memakai popok? Apa hukumnya menggunakan air sabun untuk cebok? Kenapa sifat wajib Allah hanya 20, bagaimana dengan sifat lainnya?

Saya juga tambahkan dengan kisah beberapa ulama terdahulu; Imam Syafi’i, Imam Nawawi, bahkan Syekh Ibnu Taymiyah –rahimahumullah-. Bagaimana mereka belajar, bagaimana mereka mengajar, dan bagaimana mereka berfatwa.

Kemudian saya bandingkan dengan zaman ini, dimana masalah semakin rumit, namun calon ulama malah menganggap bahwa untuk menjadi ulama cukup dengan modal kemampuan baca kitab. Hallo? Kok saya jadi kecewa?

Seperti yang saya sampaikan, belajar ilmu agama itu bukan sekedar menge-‘save‘ ilmu, namun juga meng-‘install‘ ilmu tersebut sehingga yang didapat nanti adalah kemampuan untuk berijtihad. Mampu berfatwa.

Maka dari itu, belajarlah untuk meng-install ilmu tersebut sesuai dengan cara-cara yang benar, sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh ulama-ulama muktabar. Bacalah kembali perjuangan serta langkah-langkah ulama terdahulu untuk menjadi alim. Belajar itu ibadah, otomatis harus dipenuhi pula dua syarat ibadah ; ikhlas lillahi ta’ala serta ittiba’.

Setelah kemampuan tadi terbentuk karena belajar dengan metode yang benar, maka baru kemudian seorang alim akan mampu menyesuaikan segala persoalan serta permasalahan dengan tuntunan agama.

‘Usul’ (pokok-pokok) agama itu akan tetap begitu adanya. Tetapi furu’-nya (cabang-cabang permasalahan) akan terus berkembang sesuai tempat dan waktu. Oleh karena itu, belajar agama akan tetap dengan gaya klasik, hanya penerapannya yang akan mengikuti lokasi dan masa yang dijalani.

Saya akan tutup diskusi dengan sedikit anjuran untuk introspeksi, “Sekarang, coba ‘akhi’ renungkan, apa bedanya saya dengan awam. Jika hanya Bahasa Arab, maka ternyata saya tak lebih dari orang Arab yang awam. Jika memang saya hanya awam, sedangkan masyarakat di tempat asal saya berharap saya menjadi ulama, maka mulailah perbaiki cara belajar. Ketahui mana ilmu pokok dan mana ilmu pengayaan! Pelajarilah agama dengan metode yang benar! Belajarlah dengan metode berjenjang, bertahap, tak lupa memperhatikan riwayat keilmuan yang bersambung sampai kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-! Jadilah alim yang sebenar alim, pewaris anbiya! Jangan jadi awam namun mengaku-ngaku ulama!”

Agaknya masalah yang terjadi di zaman ini mirip dengan apa yang terjadi di masa Imam Syafi’i –rahimahullah-, dimana banyak orang tak berilmu merasa berhak mengotak-atik dalil-dalil agama, sehingga mudah berfatwa. Banyak ulama yang khawatir akan hal ini, sehingga Imam Syafi’i kemudian menuliskan kitab fenomenal beliau, Ar-Risalah.

Orang-orang tak berilmu pun bungkam. Muruah ulama kembali bangkit. Nas-nas wahyu kembali dihargai. Imam Syafi’i pun digelari ‘Nashirus Sunnah‘ (penolong sunnah),

Zaman ini kita butuh ulama seperti Imam Syafi’i, namun kebanyakan calon ulama kini malah hanya belajar untuk ujian, dan berhenti belajar setelah tamat kuliah.

Mendalami agama itu amanah. Hukumnya fardu kifayah. Jika saudara-saudara kita di Palestina bersungguh-sungguh untuk menggugurkan kewajiban kita berjihad, akankah kita bermain-main untuk menggugurkan kewajiban mereka berijtihad? Patutkah?

Sumber: http://habibalfatih.blogspot.com/2017/01/apakah-saya-alim-ataukah-saya-awam.html