Apa yang Kita Risaukan?

Oleh: Khairul Umi Salamah

Kerisauan. Memang bohong kalau hidup tidak ada masa risaunya. Pasti manusia jelas mencemaskan banyak hal. Cemas akan perkembangan zaman, dan cemas akan hal lainnya. Kadang kecemasan itu membawa dampak kebaikan atau sebaliknya. Lalu apa yang kita? Risau akan masa depan? Jabatan? Harta? Martabat? Dunia dan seisinya? Atau ada hal lain?

Faktanya, kebanyakan manusia hanya condong pada kerisauan duniawi semata. Seorang Bapak yang merisaukan pekerjaan demi mencari nafkah untuk keluarganya. Orang tua yang risau akan perilaku anaknya, guru yang merisaukan muridnya, gadis muda yang risau akan perkara jodohnya dan pelajar yang merisaukan waktunya. Kebanyakan kerisauan terbatas pada hal-hal tersebut.
Lupa jika ada hal yang lebih harus kalian risaukan yaitu bagaimana diri kita sendiri. Sudah benarkah akidahnya? Sudah mantapkah akhlaknya? Sudah dekatkah dengan Tuhan-nya? Atau masih sering melupakan-Nya? Mengabaikan perintah dan larangan-Nya? Jangan-jangan hal yang kita risaukan datang begitu saja karena Allah masih sering kita jauhkan. Mungkin Allah ingin diri lebih dekat kepada-Nya. Namun bisa dipastikan, kebanyakan manusia pasti tidak sadar jika Allah sedang menegur lewat kerisauan untuk dijadikan bahan evaluasi diri dengan Sang Pencipta.
Penulis sendiri tengah merisaukan banyak hal. Salah satu nya waktu. yang hilang sia-sia tanpa disadari. Terlalu sibuk membuat para pelajar sedikit tidak mempedulikan waktu. Mereka lupa bahwa waktu lebih cepat berlari dari usahanya menuntut ilmu. Sudah setahun berada di negeri ini, namun belum mendapatkan apa-apa, menguasai bahasa fushah saja belum, lantas dipakai untuk apa waktu yang berlalu itu?

Bahwa kerisauan memang perlu dimiliki agar kita dapat mengevaluasikan kegiatan diri. Hal yang dirisaukan bisa jadi disebabkan oleh diri sendiri. Maka coba ditengok kembali bagaimana cara mengatur kehidupan kita. Sudah seimbangkah antara dunia dan akhiratnya? Atau masih sibuk bergelut dengan hal yang manfaatnya lebih sedikit. Coba kurangi sedikit hal bersifat duniawi yang membuatmu terlalu memikirkannya. Tempatkan kembali bahwa diri adalah seorang hamba. Lalu fokuskan dengan hal yang lebih bermanfaat. Agar kerisauan tidak begitu membuatmu memikirkannya. Cukup kerisauan dijadikan bahan untuk mengevaluasikan diri.

Ingat selalu pesan Allah “La Tahzan Inna Allah Ma’anaa.” Maka setiap kerisauan jangan pernah disedihkan, karena setiap kerisauan sudah Allah tetapkan jawaban. Hanya saja manusia mengambil jalan yang berlika-liku. Cukup adukan kerisauan kepada Allah, karena hanya Dia-lah yang dapat memudahkanmu.
Sekarang masih adakah kerisauan dalam diri? Jika ada coba tengok kembali hubungan kita dengan Sang Pencpta, jangan-jangan ada kesalahan yang belum disadari dan belum ditaubati.

Lalu ada pertanyaan; Saat segala risau telah diadukan pada Pencipta, apakah sang Bapak bisa tidak risau saat tidak bekerja atau tidak risau lagi saat pendapatan sedikit? Bukan begitu, tapi kerisauan dan sulitnya bekerja akan sirna, sebab paham betul bahwa bekerja sudah menjadi kewajibannya. Dan Bapak tidak lagi risau jika pendapatan tak sebanyak bayangan, cukup percaya dan usaha bahwa Allah akan mencukupkan keluarganya.

Jika usaha saja tanpa diiringi kedekatan kepada Allah, itu sama saja capek bekerja dan risau akan banyak hal. Begitu pula jika hanya mengandalkan Allah tanpa ada usaha, maka percuma saja berdoa tanpa bekerja hasilnya akan nihil karena kedekatan dirinya tidak diseimbangkan dengan ikhtiar, sebuah usaha.

Pesan untuk kita: Jangan risaukan hal-hal yang sudah menjadi kehendaknya Allah. Dan jangan pula menjadikan hal yang dirisaukan itu menjadi mimpi buruk. Yakinlah segala kecemasan ada jalan keluarnya masing-masing. Dan setiap masalah ada jawabannya sendiri.

Penyunting: Ambang Fajar Bagaskara