*Bukan foto saat pertanyaan disampaikan

Oleh: Ust. Agung Saputro L.c (Mahasiswa S2 al Azhar Jurusan Syari’ah Islamiyah)

“Maulana, pertanyaan terakhir.” Izinku kepada Asy-Syaikh Al-Mu’allim sebelum beliau beranjak dari kursi mengajarnya. “Silahkan.” “Terkait kitab Ushul Fiqih, bagaimana urutan terbaik mempelajarinya?”

“Al-Waraqat, Al-Minhaj, Al-Mukhtashar.” Jawab beliau singkat seraya menghitung dengan jari. “Setelah itu Al-Mahshul dan Al-Ihkam.” Imbuh beliau.

1. “Al-Waraqat” karya Imamul Haramain (w. 478 H)
2. “Minhajul Wushul ila ‘Ilmil Ushul” karya Imam Al-Baidhawi (w. 685 H)
3. “Mukhtashar al-Muntaha” karya Imam Ibnul Hajib (w. 646)
4. “Al-Mahshul fi ‘Ilmil Ushul” karya Imam Ar-Razi (w. 606 H)
5. “Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam” karya Imam Al-Amidi (w. 631 H)

Sebagai pelengkap, saya kembali bertanya: “Lalu apa syarah terbaik untuk tiga pertama, Maulana?” Beliau menjawab:
“Al-Waraqat, pegang syarah Imam Al-Mahalli (w. 864 H). Jika mau menambah setelah itu, maka syarah Imam Al-Hatthab (w. 954 H). Dengan 2 syarah itu, kamu telah memenuhi haknya Al-Waraqat, tanpa harus melengkapi dengan syarah Imam Ar-Ramli (857 H) atau syarah apapun lainnya. Syarah Al-Hatthab adalah kelanjutan dan pelengkap syarah Al-Mahalli. Dengan syarah Al-Mahalli, tidak harus lagi membaca kitab-kitab hasyiyah terhadap Al-Waraqat. Karena Al-Waraqat itu isinya pembahasan simpel istilah-istilah ushul fiqih, permasalahan di dalamnya tidak banyak, dan sama sekali tidak ada permasalahan yang rumit. Sehingga tidak terlalu sulit difahami, terlebih bagi yang telah mempelajari dengan baik Nahwu, Balaghah, dan Manthiq.”

“Setelah memahami Syarah Al-Mahalli, kamu bisa langsung masuk ke Minhaj Al-Baidhawi. Tapi dengan syarat kamu bagus dalam Nahwu dll tadi. Syarah terbaik Al-Minhaj adalah syarah Al-Isnawi (w. 772 H).”

“Imam Al-Isnawi, subhanallah! – beberapa kali setelah ini beliau memandang ke atas dan kembali memandang kami – Bahasanya sangat mengalir dan penjelasannya sangat amat tertata rapi. Beliau mengumpulkan berbagai syarah dan meraciknya, lalu menghidangkannya memakai bahasa beliau dengan sangat luar biasa. Beliau juga tidak banyak menyebutkan penukilan pendapat, tidak juga banyak menambahkan anak cucu permasalahan dalam mensyarah.”

“Syarah Al-Isnawi adalah syarah ta’limi yang mumtaz! Saya tidak bercanda. Kebenaran harus dikatakan. Lewat syarah beliau, kamu bisa mencapai derajat ‘Alim’ dalam Ushul Fiqih, tapi tidak dengan derajat ‘Muhaqqiq’.”

“Subhanallah! Syarah beliau. Setiap kali saya membacanya, saya merasakan bahwa beliau telah mencurahkan kemampuan maksimal dengan bakat yang Allah anugerahkan pada beliau. Itulah kenapa syarah beliau dipilih sebagai diktat di Fakultas Syariah. Tapi yaa tentang bagaimana mereka mempelajarinya, itu urusan lain.”

“Sedangkan Mukhtashar al-Muntaha, syarah terbaiknya tentu adalah syarah Adhud Al-Iji (w. 756 H). Tapi syarah tersebut sangat sulit. Itu.”

“Adapun Jam’ul Jawami’ (karya Imam Ibnu As-Subki, w.771 H), beserta berbagai syarah dan hasyiyahnya, kalian jangan masuk lewat sana. Nanti justru hanya akan membuang-buang waktu. Itu nanti setelah kalian selesai mempelajari ilmu ushul fiqih, setelah kalian mutqin di dalamnya. Saya telah khatam mempelajari Jam’ul Jawami’ dengan Hasyiyah Al-‘Atthar (w. 1250 H). Saya tahu persis isinya. Dan suatu hari nanti, akan ada saatnya Insyaallah saya mensyarah Jam’ul Jawami’, bagi yang mau.”

Spontan setelah kalimat terakhir itu saya nyeletuk, “Ana ma’ak Insyaallah,” diikuti tawa semangat dari sekitar 10 orang yang duduk mengitari beliau saat itu.

Dars Ushul Fiqih Al-Waraqat syarah Imam Al-Mahalli akan diadakan di Dar Imam Ghazali dan diajar langsung oleh Asy-Syaikh Al-Mu’allim Maulana Husam Ramadhan Hafidzahullah, pada pertengahan bulan November ini Insyaallah dalam kurun 3 bulan, dibagi 2 sesi: 1,5 bulan sebelum ujian S1 Univ. Al Azhar dan sisanya setelahnya.

Sumber: FB