Untukmu, Calon AZHARY !!!
Kamu boleh bangga membawa nama Azhar, jika kualitas keilmuwanmu bisa dipertanggung jawabkan.

Tapi jika itu berbanding terbalik, maka mari kita berbicara fakta yang tengah dihadapi.
Ada yang datang ke kuliah hanya ingin mengejar predikat jayyid (baik), jayyid jiddan (sangat baik) bahkan mumtaz (sempurna), dengan dalih meraih minhah (beasiswa) demi meringankan beban orang tua di Nusantara. Keadaan seperti ini, ternyata tidak semulus yang kita bayangkan. Ada sebahagian dari kami yang tak paham dengan bahasa pengantar para Duktur (Dosen laki-laki) atau Dukturah (Dosen perempuan) yang dominan Amiyah (Bahasa Umum Mesir). Perkara ini tidak bisa dipungkiri, Jikalau ada yang menggunakan Fushah (Bahasa Arab Resmi), bisa dihitung jari. Akhirnya ada yang memilih tetap kuliah meski tak paham apa-apa. Atau tidak kuliah dan mengambil porsi lain diluar sana, karena memang di kuliah tidak ada Absen.
Ya, bisa dibilang yang penting bisa lulus. Fokus di kuliah itu sudah lebih dari cukup. Muqarrar (Buku Pelajaran di kuliah) pun banyak misteri nya. Ada yang muhim jiddan(penting sekali), muhim(penting), qiroah(sebatas dibaca saja). Dan yang sangat ditunggu tunggu adalah bagian MALGHIY (tidak termasuk pelajaran yang akan diujikan). Dimohon Jangan berfikir jika kami takhasus tafsir maka dikuliah kami diajarkannya Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Kasyaf, Tafsir al-Qurtubi. Oh, tidak demikian. Begitu pula jikalau kami takhasus hadits, maka jangan dibayangkan kami akan melahap kutub as-sittah, kutub ar-rijal, takhij wa dirosat al-asanid, dll.
Belum lagi, Hafalan Quran dibedakan. Lulusan S1 Azhar bagi Wafidin Ghoir Nathiqah Bil Arabiyyah (Pelajar Asing) hanya dibebankan 4 juz saja, berarti 1 juz per tingkatnya. Beda jauh dengan Misriyyin (Pelajar Mesir) mereka harus lulus 30 juz, ya, 7,5 juz pertingkatnya.
Disamping itu, kalau melirik dari keadaan kelas kami belajar, harap jangan kaget. Unik.

Maka secara garis besar, belajar di Azhar terbagi menjadi dua ranah. Yaitu Jami (talaqy) & Jamiah (kuliah, formalitas)

Dunia turast ada di Samudera Talaqy. Majlis berhamparan, maktabah bertebaran. Sederet tempat menggali ilmu gratis di sediakan. Seperti mercusuar peradaban dan ilmu, yaitu Masjid al-Azhar. Syurga bagi yang melihatnya. Kenapa ? Ya, disana banyak daurah-daurah. Seperti daurah ulum syar’iyyah, daurah hifzul quran, daurah hifzul mutun,daurah khat, dll. Namun, karena berhubung renovasi masjid, sebahagian dars ditempatkan di kuliah ushuluddin banin. Baik itu qoah/mudaraj Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Dardiriy, Imam Juwainiy dst.. kalau ingin konsutasi kita bisa pergi ke Lajnah Fatwa.
Ada juga Madiyafah Syeikh Ismail Shodiq al-Adawiy, Madiyafah Syeikh Said Imran Dah, Ruwaq Jawi,Zawiyah Tijaniyah, Masjid Dardir, Raudhat an-Naim, Masjid Sholeh Ja’fary, Masjid Birbris, Asyirah Muhammadiyah, Sahah Indonesia, dll. Sekali lagi kami katakan semua gratis! ya, tempat yang luar biasa sekali untuk menggali ilmu.
Adakah yang ingin berniat kuat menjelajahi setiap maktabah dibelakang masjid Azhar ? Yang jumlahnya lebih dari 80 maktabah? Berkorban dengan hartanya, masa mudanya, kecerdasannya untuk membangun peradaban Islam kelak? Menghabiskan waktunya dengan membaca 20.000 bahkan 60.000 kitab? Belum lagi event tahunan yang tidak kalah hebat. Book fair kitab internasional di Cairo! Terbesar kedua di Dunia.
Inilah tempat menadah ilmu langsung dari lisan para Masyayikh. Tempat mendapatkan sanad. Tempat bersejarah dan berziarah. Bukan tempat tidur tiduran,malas malasan. Maaf bukan tidak boleh, namun tidak pantas!


Sekarang kita semua paham dan harus sadar. Kini permasalahan Umat begitu rumit nan kompleks. Maka sangat-sangat diharapkan seorang sosok yang luas keilmuwannya bak Ulama Fuqaha juga seorang Cendekiawan serta Negarawan.

Ya, Penjaga Islam yang terpercaya. Sang Pembawa Perubahan.

 

Ditulis oleh: Nida Muthiah Salsabila