“Mau kau tukar dengan apa telepon genggam ini, Nak?” ujarnya sambil membenarkan gagang kaca mata dengan lensa mata yang bulat. Mata sipitnya menelisik memeriksa HP android jadul yang kubawa kemari.

“Kira-kira bisa dapat apa, Pak?” tanyaku setelah sekilas memandang tumpukan barang-barang bekas yang dibiarkan menumpuk berhamburan.

“Kau bisa dapat blender ini atau juga mesin penanak nasi itu? Kau bisa menukarnya dengan barang apapun yang ada di sini,” ujarnya menunjukkan padaku mesin blender yang tutupnya tinggal setengah.

Aku bersungut-sungut. Sejenak memikirkan keperluan yang paling mendesak yang mungkin bisa membantuku selama berada di sini.

“Ayo cepat, Nak, di belakangmu banyak orang yang menunggu giliran. Kau tinggal di mana memang, aku tak pernah melihatmu?” tanyanya dengan dahi mengerut mencurigai.

“Ee, ulun dari Jakarta, Pak. Tinggal di dekat hutan, tepatnya di Pondok Pesantren An-Najah.” jawabku seadanya, menggunakan kosakata dealek daerah yang baru kudapat pagi tadi.

“Kau tinggal di pondok itu? Terakhir kali seorang pengajar pondok di sana datang ke sini satu bulan yang lalu, dia bilang pondok itu sudah tak terselamatkan. Akhirnya dia kembali ke kampung halamannya di Jambi. Bagaimana kabarnya, Nak? Kabar Zarkasyi? Kasihan dia, dia memperjuangkan hal yang tidak mungkin lagi diperjuangkan,” ujarnya pelan.

Aku terhentak kaget. Pertanyaan-pertanyaan dan ujarannya mengarah pada konotasi yang tak enak didengar. Penuh keputusasaan. Aku mencoba meraba dalam hitungan detik. Siapa Zarkasyi? Mungkinkah lelaki tua yang kemarin malam menyediakanku semangkok bubur adalah Zarkasyi? Siapa dia? Tidak mungkin dalam benakku. Dia pasti hanya pembantu di pondok tua itu. Dia bilang hari ini seseorang akan menemuiku. Tapi siapa?

“Hai, Nak, kau mau apa!” Panggilannya mengagetkanku, aku tersadar dari lamunan.

“Eee, anu saya mau papan tulis itu saja, Pak!” ujarku spontan ketika terlihat olehku papan tulis ukuran sedang yang terselip di belakang lemari baju tak berpintu tanpa pikir panjang.

“Papan tulis ini, Nak?”

“Iya, Pak, itu saja. Ngga ada kakinya, Pak?” sahutku kemudian.

Pemilik toko hanya menggeleng. Kemudian menyerahkan papan tulis bekas itu padaku.

Aku keluar toko barang bekas itu dengan penyesalan, sahut bersahutan ego dan gengsiku. Kenapa tidak mengambil penanak nasi atau kompor gas saja. Kenapa aku ambil papan tulis hitam pekat ini kemudian.

“Sudahlah. Semoga bermanfaat,” lirikhku membatin.

Seorang anak kecil dengan kaos kumal berlari datang menghampiriku. Nafasnya tersengal-sengal tak beraturan. Matanya berbinar melihat papan tulis yang kupeluk dengan susah payah. Dua plastik berisi sampah terlepas dari tangan mungilnya.

“Papan tulis baru? Wow! Akhirnya ada papan tulis baru. Papan tulis. Yuhu, papan tulis!” teriaknya sumringah penuh kebahagiaan.

“Kau siapa, De?” tanyaku penuh keheranan.

“Kaka pasti pengajar baru ya di pondok. Selamat datang, Ka di kampung kami. Sini, Ka biar aku saja yang membawa papan tulisnya.”

Tanpa sempat menjawab pertanyaanku. Anak kecil itu sudah merebut papan tulis dari pelukanku.  Kemudian dengan penuh semangat dia berlari masuk menuju hutan.

“Ayo, Kak, cepat! Sudah mau maghrib!” teriaknya sembari melambaikan tangannya ke arahku.

Aku tersenyum. Ada sesuatu yang bergetar di dalam hatiku ketika dua bola mata kami bertemu tadi. Aku tidak pernah melihat semangat seperti ini sebelumnya. Anak kecil tadi seperti baru saja mendapatkan samsung android. Padahal itu hanya sebuah papan tulis bekas. Aku merogoh saku celanaku, mencoba mencari sesuatu. Menepuk-nepuk celana belakang dan mulai gelagapan kehilangan. Kemudian tersadar dan tertawa kecil.

“Hampir lupa, telepon genggamnya udah jadi papan tulis,” lirihku pelan. “Sudahlah, hanya satu bulan kan?” tanyaku meyakinkan diri sendiri.

Malam itu aku baru menyadari. Aku adalah pertaruhan. Atau lebih tepatnya jaminan yang tak menjamin apapun.

“Jika kau tidak datang kemarin. Pondok ini hanya tinggal sebatas nama, Nak. Kau tahu, kemarin aku berteriak kalap dihadapan mereka bahwa pondok ini akan kedatangan seorang guru baru dari kota. Mereka menertawakanku, kemudian pergi sembari membual tentang khayalanku dan memutuskan untuk memberi kesempatan 24 jam lagi. Permintaan itu diwujudkan tepat pada saat yang dibutuhkan”, ujarnya dengan penuh penghayatan. Matanya sembab hendak menangis.

Aku akhirnya bertemu dengan nama yang diucapkan penjual toko barang bekas siang tadi, pak Zarkasyi. Ternyata memang dialah orangnya. Orang yang malam tadi mengantarkan bubur hangat untukku. Perawakannya sangat sederhana. Sama sekali tidak menggunakan atribut-atribut yang biasa menghiasi para kiai di pulau Jawa. Pakaiannya saat itu hanya kaos partai peserta pemilu.

“Aku masih belum terlalu mengerti, Pak sebenarnya. Maksud perkataan Bapak. Juga maksud dari tujuanku di suruh mampir ke sini. Aku hanya di suruh menemui teman lama Pak Kiai dan..” penjelasanku terpotong dengan kedatangan anak kecil yang kutemui sore tadi.

“Ka! Coba lihat, papan tulisnya sudah bisa berdiri. Abah tadi memotong beberapa cabang kelapa sawit untuk kemudian membuat kaki-kakian. Hehe,” ujar anak kecil tadi dari depan pintu. Aku taksir dia baru berumur delapan atau sembilan tahun.

“Farabi! Sini, Nak, masuk ke dalam!” ujar Pak Zarkasyi setengah berteriak senang. Yang dipanggil sembari sedikit menundukkan badannya berlari kecil ke arah pak Zar, kemudian mencium tangannya dan juga tanganku.

“Farabi, besok kau kabari teman-temanmu yang lain. Kelas yang sudah satu bulan ditiadakan. Akan kembali dimulai.”

“Serius, Pak? Ok siap, Pak laksnakan!” ujarnya penuh semangat, raut wajahnya penuh keceriaan, kemudian segera berlari keluar.

“Sudah tidak ada guru yang mau mengajar di sekolah ini semenjak satu bulan lalu, Nak.” ujarnya memulai kembali percakapan setelah beberapa saat kami sibuk dengan pikiran masing-masing. “Guru terakhir yang berada di sini kemarin dibujuk dengan rayuan harta. Dia meninggalkan kami tanpa kompromi. Membiarkan anak didiknya kelaparan dan haus akan ilmu. Tapi itu salahku, Nak. Aku sudah tidak bisa membayar tunggakan gajinya lagi,” tambahnya dengan muka penuh rona kesedihan.

Aku mengelus dada. Berat memang menjadi guru di daerah pedalaman seperti ini dan tidak digaji. Mungkin kalau aku berada di posisi sepertinya aku juga akan seperti itu.

“Lalu apa maksud Bapak tadi? Jaminan?” tanyaku teringat sesuatu yang sedari tadi ingin kutanyakan.

“Mereka ingin membeli tanah ini. Merobohkan pondok ini. Membunuh semangat anak-anak pedalaman,” jawabnya dengan mata penuh kemarahan. “Aku sama sekali tidak memaksakan, Nak, semuanya aku serahkan padamu. Jikalau malam ini juga kau ingin meninggalkan pondok ini. Aku sama sekali tidak keberatan. Itu adalah hakmu nak. Kau sudah memenuhi titah kiaimu untuk menemui sahabat lamanya. Sekarang istirahatlah, Nak,” lanjutnya sembari beranjak meninggalkan kamarku.

Aku mengiringinya di belakang. Ku lihat sisa guratan-guratan putus asa masih bergelantungan di wajahnya. Matanya sayu teduh. Tatapannya kosong entah memikirkan apa.

***

Aku memandangi bayanganku di depan cermin. Terlihat jelas raut bimbang bersemayam bergelantungan. Sedari tadi malam aku belum menemukan alasan untuk tetap bertahan di sini lebih lama lagi.

Aku melangkah perlahan menuju kelas. Aku memutuskan untuk datang satu jam sebelum jam masuk kelas. Setidaknya dengan datang terlebih dahulu nanti akan memberikan kesan baik bagi mereka. Walaupun keputusan yang kuambil nanti adalah pulang dan kembali. Pagi itu aku tidak menemui pak Zar di kamarnya. Pintu kamarnya sedikit terbuka. Sang empunya kamar mungkin sedang sibuk melakukan aktifitasnya. Aku berjalan menuju sebuah kelas yang ada di pojok bangunan paling besar di sini. Suara monyet-monyet bersahutan, semakin menunjukkan suasana khas pedalaman hutan di pagi hari.

Tepat di depan pintu kelas aku terdiam. Aku menarik tubuhku ke balik dinding kelas bagian luar. Berusaha bersembunyi. Dari balik bilik samar-samar terdengar percakapan.

“Sunan! Setelah membersihkan kelas pagi ini aku akan pergi ke pasar sebentar. Aku mau membeli beberapa kapur buat kelas hari ini. Kau pergilah ke kampung, ajak teman-teman yang lain ya, jangan sampai kita mengecewakan pak guru baru,” ujar anak kecil yang menemui kami malam tadi dengan tangan menggengam sebuah sapu ijuk.

“Tapi, Far, kau dapat uang dari mana untuk membeli kapur tulis? Bukannya harga kapur tulis sejumlah penghasilan kita mengumpulkan sampah?” tanya seorang anak kecil seusianya.

“Ngga papa, Nan, aku bisa menyisihkan uang sampah untuk kapur tulis. Semoga semakin menambah semangat mengajar pak guru, jangan sampai pak guru tiba dan tidak menemukan kapur tulis di sini. Ayo, Nan! satu jam lagi masuk kelas. Kita harus bergegas,” jelas Farabi memberi arahan, keduanya keluar kelas bersamaan. Tepat ketika mereka keluar kelas, aku bersembunyi di balik pintu. Air mataku jatuh seketika. Percakapan dua orang anak tadi sempurna menyentuh relung hatiku. Guru mana yang tak menangis ketika menemui anak-anak penuh kobaran semangat untuk belajar. Apa mereka bilang. Bahkan mereka menyisihkan uang penghasilan kerjanya untuk membeli kapur tulis. Aku terduduk lemas. Hanya dalam hitungan detik aku sudah mengubah keputusanku.

Teng.. Teng.. Teng…

Bunyi lonceng berbunyi tiga kali. Pak Zar memukulnya dengan penuh semangat. Aura wajahnya begitu sumringah, pagi ini dia terlihat berbeda. Kemeja putih lengan pendek dikenakannnya. Kupiah hitam gagah menutupi rambutnya yang sudah beruban. Pak Zar bertepuk tangan memberikan tanda. Tangannya diangkatnya memberi aba-aba sembari berhitung. Dari kejauhan lima orang anak yang mengenakan kaos seadanya berlarian. Lari mereka semakin kencang ketika tangan Pak Zar mengisyaratkan angka satu. Gelak tawa mereka pagi itu membangunkan seisi pondok yang telah lama mati.

Aku berdiri tepat di depan kelas. Farabi, Sunan, dan tiga orang lainnya masuk ke dalam kelas bersamaan. Mereka terkejut melihatku sudah berdiri tegak di depan kelas. Aku mengayunkan tanganku memberi isyarat, mempersilakan mereka masuk dan duduk di kursi masing-masing.

“Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh,” ucapku lantang mengawali kelas pagi ini.

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab mereka serentak.

“Anak-anak. Semuanya dengarkan pak guru. Hari ini, kalian semua memulai langkah baru. Kalian baru saja menggoreskan garis lurus menuju masa depan yang lebih baik. Jangan pernah kalah dengan keadaan dan keterbatasan. Kalian penuntut ilmu telah dijanjikan oleh Allah derajat yang mulia. Kalian jauh-jauh lebih mulia dibandingkan orang-orang yang tenggelam dalam kebodohan. Semuanya dengarkan Bapak. Kalian akan bisa, kalian harus bisa, dan kalian pasti bisa!” tuturku lantang berapi-api memberikan semangat.

“Bisa! Bisa! Bisa! Pasti bisa!” sahut mereka bersamaan.

Semangat mereka terbakar. Baru kali ini ku lihat semangat anak-anak seperti ini. Pak Zar tersenyum di balik jendela ketika mata kami bertemu. Diacungkan jempolnya ke arahku.

“Baiklah, ayo kita mulai pelajaran kita pagi ini,” lanjutku ketika suasana kelas kembali tenang. Seorang  anak bangkit dari kursinya, maju ke depan kelas dengan lima buah kapur putih di genggamannya.

“Pak, ini kapur tulisnya,” ujarnya kepadaku sembari meletakkan kapur-kapur itu di atas mejaku.

Aku memandangya dengan seksama. Namanya Farabi, giginya ompong ditengah, rambutnya lurus khas anak pedalaman Kalimantan. Aku menggenggam kapur yang diberikannya. Ini bukan sembarang kapur bathinku. Kapur ini penuh perjuangan.

Siang itu, setelah membersihkan kelas. Farabi kembali ke gubuknya. Mengambil dua kantong sampah besar. Kemudian menyisiri pinggiran sungai mengambil sampah-sampah dan botol mineral yang berserakan. Hanya setengah jam saja, dua kantong plastik besar itu sudah penuh terisi. Farabi bergegas lari ke pasar loak di samping pasar, menukar dua kantong plastik dengan lima lembar uang ribuan. Kemudian bergegas menuju pasar.

“Berapa harga kapur itu satu kotaknya paman?” tanya Farabi kepada seorang penjual alat-alat sekolah. Nafasnya tersengal-sengal tak beraturan. Beberapa lembar uang lusuh digenggamannya basah oleh keringatnya.

“20.000, Nak. Isinya ada 20 buah,” jawab pedagang kapur itu sambil membaca koran.

“Berarti satu buahnya seribu, Pak, ya?” tanya Farabi menghitung lembaran uang ditangannya.

Sang empu toko tak menjawab. Mengabaikan anak kecil di depannya. Meneruskan membaca. “Aku beli lima saja, Paman,” ujarnya lagi sembari menyerahkan lima lembar uang ribuan. Pemilik toko memberikan lima buah kapur tulis. Dengan sigap Farabi menerima kapur tulis kemudian bergegas pamitan.

“Makasih, Paman, balik dulu,” ujar Farabi sopan.

Dipersimpangan jalan menuju hutan. Dua orang laki-laki dengan gelagat mencurigakan mengikuti Farabi. Farabi yang menyadari hal itu menambah kecepatan larinya. Di tepi sungai, sebuah batu menyandung kaki kirinya. Farabi terjatuh ke dalam sungai yang dangkal dengan tangan kanan yang menggengam kapur mengacung ke atas. Kapur yang berada dalam genggamannya basah terkena cipratan air. Seluruh pakaiannya basah kuyup berbalut lumpur. Dua orang yang mengikutinya tadi tertawa terbahak melihat Farabi yang jatuh tersungkur.

“Hai, Nak, sekarang kami berikan penawaran. Kami akan berikan apapun asalkan kau dan teman-temanmu berhenti sekolah dari pondok itu. Bagaimana? Apa kau setuju dengan penawaran kami?” ujarnya setelah puas mentertawakan Farabi.

Farabi menunduk dalam. Air matanya tak kuasa dibendungnya. Dia tahu siapa dua orang itu. Mereka adalah orang suruhan yang selalu memaksa pak Zar untuk menjual tanah pondok ke tangan mereka. Farabi pernah melihat mereka mengancam pak Zar untuk menghanguskan pondok. Tapi pak Zar tetap bertahan. Orang tua Farabi juga berulang kali memohon kepada anaknya untuk tidak lagi bersekolah di sana lagi setelah berulang kali diganggu oleh preman-preman suruhan. Tapi Farabi sampai sekarang tetap teguh pada pendiriaan. Iya menyadari, setelah gagal menggoda pak guru dengan tawaran untuk meninggalkan sekolah, pasti yang menjadi sasaran selanjutnya adalah mereka. Tentu agar tak ada lagi siswa di sekolah tersebut, sehingga pak Zar tidak mempunyai alasan lagi untuk tetap mempertahankan pondok.

“Kapur ini lebih berharga dari segala yang kukenakan, dari segala yang kupunya. Bahkan kapur ini lebih berharga dari pada segala harta yang kalian punya. Dengan hartamu tidak pernah mampu menjamin kehidupan yang layak bagiku. Tapi dengan kapur ini,  akan menjamin terangnya masa depanku kelak!” sahut Farabi tegas dengan kaki yang gemetaran karena kedinginan.

Mendengar jawaban lugas dari seorang anak kecil yang baru berusia sepuluh tahun itu, dua orang tadi jengkel bukan main.

“Sombong sekali kau, Nak! Lihat saja nanti, kau akan menyesali keputusanmu ini!” ancamnya sembari pergi meninggalkan Farabi yang masih dengan posisi tangan mengacung ke atas. Farabi menangis sesegukan. Kapur yang susah payah dibelinya basah tidak bisa dipakai lagi.

“Besok mau belajar pakai apa, kasihan pak guru. Pasti ngga bisa nulis di papan tulis.”lirihnya penuh penyesalan.

Sunan yang kebetulan lewat kaget kebingungan. “Woy Farabi. Ngapain kamu? Woy naik ke atas, nanti masuk angin. Mau jadi ikan kamu di sungai heh, ayo,” ajaknya kepada Farabi.

Farabi tertawa kecil sembari menyapu air mata di pipinya. “Ngga papa jadi ikan, Nan, tapi ikan berpendidikan,” sahutnya tak mau kalah.

“Mau kemana kau Sunan?”tanya Farabi sembari beranjak dari sungai.

“Aku mau beli kapur buat besok.”ujar Sunan menjawab.

“Serius, serius Sunan?”tanya Farabi bahagia terselamatkan.

“Iya Far, oh iya pak guru dan pak Zar memanggilmu Far, sehabis maghrib katanya ditunggu di pondok.”

***

Maghrib itu, aku dan pak Zar membicarakan permasalahan penting. “Mereka masih belum menyerah, Nak,” ujar Pak Zar mengawali percakapan. “Bahkan mereka semakin menjadi. Mereka mengajukan penutupan pondok kita jika siswanya tidak lebih dari 30 orang,” terangnya dengan muka yang tertekuk.

“Mereka zalim, Pak, kenapa pendidikan dibatasi dengan hal-hal seperti itu? ini jelas diskriminasi pendidikan, Pak. Prinsipnya adalah selama masih ada yang ingin belajar, kita akan tetap mengajarkan, Pak, walau hanya satu orang saja!” jawabku tegas meyakinkan. “Lalu bagaimana, Pak Zar? Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku lemas.

“Mereka memberikan kita waktu seminggu untuk mengumpulkan anak-anak itu,” jawab Pak Zar.

Aku menggenggam tangan Pak Zar yang penuh kerutan. Kutatap matanya yang sembab menahan tangis. Aku tersenyum dan berkata.

“Apapun akan kulakukan Pak Zar, aku akan berjuang mengabdi. Sebagai seorang pendidik, sebagai seorang guru,” ujarku penuh keyakinan sembari menenangkan Pak Zar.

“Teeenang saaaaja, Pak! Aaaaku siap membantu. Siiiiiiap berrrrrjuang mengajak kawan-kawan yang lain! Kita haaaaarus terus berusaha pak!” sahut seorang anak seumuran Farabi yang sudah berdiri di depan pintu dari tadi. Ucapannya patah-patah. Namanya Gundar. Anak kecil gagap ini merupakan salah satu dari lima muridku.

Melihat Gundar, semangatku dan pak Zar semakin bergejolak. Semangat yang tadi hampir padam perlahan mulai kembali menyala. Farabi dan Sunan datang beberapa waktu kemudian. Aku memerintahkan mereka bertiga untuk menemaniku ke pasar besok.

Keesokan harinya, Aku bersama Farabi, Gundar dan Sunan membeli segala keperluan di pondok. Pagi tadi ketika Pak Zar mengatakan hendak menjual kambing satu-satunya miliknya sebagai bekal dan uang saku untuk belanja keperluan pondok, dengan segera kucegah tindakan Pak Zar.

“Tidak perlu, Pak, setidaknya aku masih ada uang untuk membantu pondok. Biarkan aku membantu, Pak, semoga jadi jaminan bagiku di akhirat kelak,” ujarku merayu Pak Zar. Pak Zar yang mendengar perkataanku tiba-tiba menangis. Kemudian memelukku penuh kehangatan.

“Terima kasih, Nak, terima kasih banyak,” ujarnya sesenggukan menangis.

“Ini sudah jadi kewajibanku sebagai guru pak!” jawabku menenangkan.

Di kota, kami berkeliling pasar. Ramainya pasar dan teriknya matahari hari itu tidak menyurutkan semangat kami.

“Pak guru, jangan lupa beli kapur, Pak, beli kapurnya yang banyak!” ujar Farabi polos mengingatkanku.

“Biar ngga nyemplung ke sungai lagi, Far, ya!” sahut Sunan meledek.

“Kaaalaaaauuu biiiisaaaa, beeeeliii kiiiipasss angin paaak!Gerah di keeeelass!”celetuk Gundar dengan tergagap.

Mereka bertiga tertawa lepas, beban yang kupikul terasa ringan melihat canda tawa mereka. Setelah berbelanja keperluan pondok. Kami kembali pulang. Dalam perjalanan pulang, Farabi menanyakan satu hal.

“Pak, teman-teman Farabi di kampung susah sekali buat diajak sekolah. Kebanyakan mereka sudah bekerja membantu orang tuanya, Pak.” ujar Farabi memberikan keterangan.

“Bapak punya cara lain, Pak?” lanjut Sunan menimpali.

Aku terdiam memikirkan. Mencari cara terbaik untuk mengajak anak-anak yang lain.

“Insya Allah, kalian akan punya teman-teman baru. Kaka jamin itu!” ujarku menyakinkan mereka.

Aku berhenti di sebuah kantor pos, ada sesuatu yang ingin ku kirim ke pondokku di kota. “Kaka sebentar ke sana, ya. Kalian tunggu di sini,” ujarku menunjuk sebuah kantor pos di seberang jalan.

Setelah dari kantor pos, kami pulang kembali ke kampung menjelang maghrib. Besok hari setelah pelajaran usai. Farabi dan teman-temannya berbagi tugas untuk mengajak teman-temannya yang lain. Aku mengawal Farabi dan teman-temannya.

“Pergi kalian! Pergi!”  ujar seorang bapak dengan golok di tangannya. “Kalian jangan coba ganggu anakku, ya! anakku tidak sekolah lagi. Sama saja sekolah atau tidak, dia akan tetap kerja seperti ini!” teriaknya kalap.

Mendengar hal itu aku hanya bisa mengelus dada. Ternyata masih banyak orang tua yang memilki pikiran pesimis seperti ini. Aku mengajak Farabi berkeliling kampung. Meneruskan sosialisasi ke rumah-rumah. Sebagian respon begitu positif menyambut kami. Bahkan ada yang menawarkan beberapa kursi untuk keperluan pondok. Kami melanjutkan perjalanan ke kampung tetangga. Beberapa anak putus sekolah terlihat antusias menyambut kedatangan kami. Berujar akan datang dan bergabung ke sekolah.

Beberapa hari kami habiskan waktu berkeliling kampung. Memastikan dan meyakinkan semuanya tentang masa depan yang cerah dengan pendidikan.

“Besok mereka akan datang lagi, Nak, besok mungkin akan jadi penentuan bagi kita,” ujar pak Zar memberitahuku.

“Allah pasti menyelamatkan pondok ini, Pak. Aku yakin itu,” ujarku meyakinkan. Pak Zar tersenyum mendengar perkataanku.

“Apapun hasilnya, Nak, terima kasih telah berjuang dan membantu pondok ini. Walaupun nanti pondok ini ditutup, setidaknya kita sudah memberikan usaha yang terbaik,” ujar Pak Zar.

Hari yang di nanti tiba, segerombolan preman pasar dan bos-bos berdasi calon pembeli tanah pondok telah tiba. Mereka terlibat dalam obrolan seru, kemudian tertawa terbahak-bahak, meragukan mimpi kami.

“Tidak mungkin! tidak mungkin ada lagi yang akan datang ke pondok ini,” ujar salah seorang bos berdasi dengan angkuh.

Aku dan Pak Zar berjalan menuju kelas. Gerombolan orang-orang tadi menatap kami sinis. Pak Zar membunyikan lonceng tanda dimulainya pelajaran. Lima orang murid tetap kami sudah duduk dengan rapi. Berharap-harap cemas. Dari mukanya mengisyaratkan kalau mereka tidak ingin menjadikan hari ini sebagai hari terakhir mereka bersekolah. Setelah lengang sekian detik, belum ada satupun murid baru yang menampakkan batang hidungnya.

“Sudahlah Zarkasyi, menyerah sajalah. Tanda tangani berkas ini dan kau bisa dengan tenang meneruskan masa tuamu,” ujar bos gerombolan mereka dengan nada yang menghina.

“Tunggu beberapa menit lagi. Mungkin mereka tidak tahu jalan,” ujar Pak Zar melakukan pembelaan.

Di dalam kelas, aku memulai menyapa anak-anak. Dengan tegas aku memberikan motivasi kepada anak-anak.

“Anak-anak semuanya, semuanya dengarkan pak guru. Kalian adalah orang-orang yang istimewa. Apa yang menjadikan kalian istimewa? Kalian punya semangat untuk belajar. Kalian punya semangat untuk mengejar masa depan. Kalian jangan putus asa. Kalian jangan menyerah. Apapun keadaan dan kondisi kalian. Apa yang haru kalian ingat!”

Terdengar sesegukan tangis. Air mata mereka tak lagi terbendung. Sambil menangis mereka semua berteriak.

“Bisa! Pasti bisa!” sahut mereka dengan tangis yang membahana.

Dari kejauhan terlihat seorang lelaki tua bermata sipit berlari tergopoh-gopoh. Bersamanya seorang anak kecil berlari mengiringinya. Melihat hal itu, aku keluar kelas. Aku mengenali orang itu. Dia adalah penjual barang bekas tempatku membeli papan tulis. Pak Zar menyambutnya dengan senyum sumringah. Mereka berpelukkan. Di belakangnya muncul beberapa orang lagi. Gerombolan anak-anak dengan buku tulis didekapannya berlarian memasuki area pondok. Ada sekitar 20 orang ketika itu. Air mataku tak tertahankan. Mereka semua datang untuk bergabung bersama kami. Anak-anak yang tadi menangis dalam kelas berteriak gembira. Tangis mereka berubah menjadi teriakan-teriakan takbir.

Aku langsung memerintahkan semua untuk masuk ke dalam kelas.

“Hei Zarkasi! jangan senang dulu, sekarang baru 25 orang. Sesuai perjanjiannya kalian harus punya murid sebanyak 30 orang!” ujar bos mereka mengingatkan.

“Perjanjian tetap perjanjian”lanjut bosnya dengan angkuh.

Mendengar hal itu anak-anak kembali terdiam. Hanya kurang sedikit lagi.

Para preman suruhan itu tanpa instruksi mulai merobohkan bangunan-bangunan pondok.

Farabi, Sunan, dan Gundar menangis sesegukan. Mereka sangat sedih dengan kenyataan yang harus mereka hadapi. Aku memerintahkan anak-anak untuk berkumpul di lapangan. Sudah tidak ada lagi yang bisa kami selamatkan.

Pak Zar sudah menyetujui kesepakatan di atas kertas perjanjian. Tanah pondok resmi dijual.
Aku terdiam. Bingung harus berkata apa. Ku lihat Gundar dan Farabi beberapa kali mencoba mencegah preman-preman yang hendak menghancurkan lokal kelas. Papan tulis yang aku belipun tak luput dari sasaran mereka.

Deru mobil beriringan dari kejauhan terdengar membelah hutan. Dua buah mobil kijang memasuki area pondok. Hatiku berdesir penuh duga.

“Mungkin ini hanya gerombolan preman-preman pasar lagi,” batinku.

“Itu calon pembeli tanah ini.”ujar bos itu kepada pak Zar.” Baru malam tadi kami menyetujui kesepakatan perihal tanah ini.”lanjutnya

Setelah sempurna berhenti, dari salah satu kijang keluar seseorang yang ku kenali. Mataku terbelalak tak percaya dengan apa yang ku lihat. Aku mengenali salah satu orang yang keluar bersama orang-orang berjas itu.

“Abah Husien, Abah!” teriakku kalap bahagia.

“Apa yang abah lakukan di sini bersama orang-orang yayasan?”tanyaku setelah bersalaman dengan beliau.

Pak Zar memeluk sahabatnya yang telah lama tidak ditemuinya. Abah berusaha menghibur pak Zar yang menangis dalam pelukan abah.

“Tenang Zarkasyi. Aku dan yayasan pondok sudah menebus tanahmu. Akulah yang akan membeli tanahmu ini untuk kemudian ku wakafkan pada umat. Pondok ini akan kembali berdiri, Zar.”ujar abah memberi tahu.

Aku tersungkur bersujud. Pak Zar sudah tersungkur lebih dahulu,  menangis sejadi-jadinya dalam sujudnya, bersyukur. Farabi dan kawan-kawannya menangis bahagia.

” Apa ini benar pak Guru? Apa kami akan kembali bersekolah lagi?Apa aku bisa belajar lagi?”ucap Gundar spontan. Saking senangnya Gundar untuk pertama kalinya berbicara dengan normal.

“Gundar kau sudah tidak gagap lagi.”celetuk Sunan diiringi dengan tawa yang lain.

“Hampir saja kau terlambat, Nak, kenapa kau baru mengabarkan kepadaku bahwa keadaannya sudah segenting ini? Suratmu bahkan baru tiba kemarin pagi,” terang abah kepadaku.

“Maafkan Abdi, Bah, maafkan Abdi,” sahutku meminta maaf.

“Kau luar biasa, Nak, teruskan pengabdianmu. Jangan pernah bosan menjadi guru yang baik dan bermanfaat,” ujar Abah sembari memelukku senang.

-Selesai-